Tingkatkan Kesadaran Keamanan Digital: IGC 2 HMPS IP Bahas Perlindungan Data, Sistem, Dan Pengguna Perpustakaan
Tingkatkan Kesadaran Keamanan Digital: IGC 2 HMPS IP Bahas Perlindungan Data, Sistem, Dan Pengguna Perpustakaan

Ciputat, Berita Online FAH – Himpunan Mahasiswa Program Studi Ilmu Perpustakaan (HMPS Ilmu Perpustakaan) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menyelenggarakan kegiatan IPI Growth Class 2 (IGC 2) pada Rabu (21/10/2026). Bertempat di Teater Abdul Ghani, lantai 5 Fakultas Adab dan Humaniora (FAH), kegiatan ini mengangkat tema “Secure the Library: Protecting Data, Systems, and Users”. Kegiatan ini menjadi ruang edukatif bagi mahasiswa untuk memperluas wawasan mengenai pentingnya keamanan data, sistem, dan pengguna dalam pengelolaan perpustakaan di era digital.

Kegiatan ini diikuti oleh lebih dari 50 peserta dan dihadiri Wakil Ketua HMPS Ilmu Perpustakaan, Fathan Rangga Ifari, serta Ketua Pelaksana IGC 2, Fatma Ramadhani. Bertindak sebagai pemateri, Al Muhdil Karim, S.IP., M.Hum.

Rangkaian kegiatan diawali pengantar mengenai pelaksanaan IPI Growth Class 2 sebagai salah satu program HMPS Ilmu Perpustakaan melalui Departemen PSDM yang menghadirkan ruang belajar bagi mahasiswa untuk memperkaya pengetahuan dan meningkatkan kesiapan menghadapi perkembangan dunia kepustakawanan.

Kemudian Sambutan disampaikan oleh Wakil Ketua HMPS Ilmu Perpustakaan, Fathan Rangga Ifari. “Melalui kegiatan IGC 2 ini, saya berharap teman-teman mahasiswa bisa semakin memahami pentingnya keamanan digital, khususnya dalam pengelolaan perpustakaan. Sebagai calon pustakawan, kita bukan hanya dituntut untuk mampu mengelola informasi, tetapi juga harus memahami bagaimana menjaga keamanan data dan melindungi privasi pengguna di tengah perkembangan teknologi,” ujar Fathan.

Tema “Secure the Library: Protecting Data, Systems, and Users” dipilih untuk mengangkat isu keamanan yang semakin relevan seiring dengan pemanfaatan teknologi digital dalam layanan perpustakaan. Pengelolaan informasi kini tidak hanya berkaitan dengan penyimpanan dan penelusuran koleksi, tetapi juga mencakup perlindungan data pengguna, keamanan akses terhadap sistem, serta kesadaran dalam menggunakan teknologi secara bertanggung jawab.

Kegiatan dilanjutkan dengan pemaparan materi oleh Al Muhdil Karim, S.IP., M.Hum. Dalam sesi ini, peserta diajak untuk mengenal lebih jauh pentingnya menjaga keamanan data dan sistem perpustakaan, sekaligus memahami bahwa ancaman digital dapat berdampak pada keberlangsungan layanan dan kepercayaan pengguna. Pembahasan mengenai perlindungan data, sistem, dan pengguna menjadi pengingat bahwa keamanan informasi merupakan bagian penting dari pengelolaan perpustakaan modern.

Dalam pemaparannya, Al Muhdil Karim menegaskan bahwa keamanan digital tidak cukup hanya dengan antivirus dan firewall. Keamanan perlu dibangun sebagai proses berkelanjutan yang melibatkan pengetahuan dan kesiapan sumber daya manusia. Menurutnya, keamanan tidak hanya bergantung pada kecanggihan teknologi, tetapi juga pada pemahaman dan perilaku orang-orang yang menggunakan sistem.

Ia menjelaskan tiga tahap utama keamanan siber, yaitu prevention, detection, dan response. Prevention adalah upaya mengidentifikasi kemungkinan serangan dan mengurangi risiko sebelum insiden terjadi. Detection dilakukan melalui pemantauan untuk mengenali aktivitas tidak biasa pada sistem maupun jaringan. Adapun response adalah langkah penanganan setelah serangan terjadi, dengan mempertimbangkan dampaknya terhadap proses inti dan layanan yang harus tetap berjalan.

Untuk menggambarkan dampak serangan siber, pemateri membahas kasus ransomware yang menimpa Seattle Public Library. Disebutkan bahwa sekitar 27.000 orang terdampak kebocoran data dan layanan digital terganggu lebih dari satu bulan. Katalog dan e-book tidak dapat diakses, komputer publik serta Wi-Fi dinonaktifkan sementara, dan layanan peminjaman buku dilakukan secara manual. Kasus ini menunjukkan bahwa serangan siber memengaruhi privasi pengguna, kelangsungan layanan, dan kepercayaan masyarakat.

Pemateri juga memaparkan beragam motif pelaku, mulai dari keuntungan finansial, pencarian reputasi, kepentingan nasional seperti spionase siber, hingga rasa ingin tahu terhadap teknologi. Sebagai langkah perlindungan, perpustakaan kecil dapat memulai dengan kata sandi kuat, pencadangan data berkala, serta pembaruan sistem dan antivirus. Perpustakaan menengah perlu memisahkan jaringan publik dari jaringan internal dan melatih staf, sedangkan perpustakaan dengan lalu lintas layanan tinggi memerlukan pemantauan dan perlindungan jaringan yang lebih kuat. Ia pun mengingatkan bahwa serangan dapat bermula dari tindakan sederhana, seperti membuka lampiran atau mengeklik tautan berbahaya.

Untuk mengukur pemahaman peserta, kegiatan diawali dengan sesi pre-test dan diakhiri dengan post-test sebagai evaluasi untuk mengetahui peningkatan pemahaman serta wawasan peserta setelah mengikuti kegiatan.

Melalui penyelenggaraan IPI Growth Class 2, HMPS Ilmu Perpustakaan berharap mahasiswa semakin memahami pentingnya keamanan informasi di era digital, baik dalam kehidupan akademik maupun praktik kepustakawanan. Kesadaran menjaga kerahasiaan data, mewaspadai ancaman digital, dan menggunakan sistem secara bertanggung jawab menjadi bekal penting bagi mahasiswa dalam menghadapi tantangan pengelolaan informasi. Kegiatan ini sekaligus menjadi upaya Departemen PSDM dalam menghadirkan program pengembangan mahasiswa yang relevan dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan bidang Ilmu Perpustakaan.

Penulis: Fatma Ramadhani/Kasih Nur

Tag :