Tingkatan-Tingkatan Orang Yang Berpuasa
Tangerang Selatan, Berita FAH Online- memasuki 10 hari pertengahan di bulan Ramadhan, program Mutiara Ramadhan (JILID 2) yang diadakan Fakultas Adab dan Humaniora bersama Bapak Prof. Usep Abdul Matin, S.Ag., M.A. (Leiden), M.A (Duke), Ph.D wakil dekan Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, menghiasi suasana menunggu berbuka puasa di bulan suci Ramadhan dengan membawakan sebuah tema kajian “ 3 Tingkatan Orang yang Berpuasa “ sebagai pembekalan spiritual bagi seluruh civitas Akademik Fakultas Adab Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan seluruh umat islam yang sedang menjalankan ibadah puasa Ramadhan.Pada kajian kali ini beliau mengutip dari kitab Durratun Nasihin, karya Syekh Usman bin Hasan bin Ahmad Asy-syakiri Al-Khubawi seorang ulama dan ahli tafsir yang banyak mengarang kitab kuning dan sering diajarkan di pondok pesantren yang ada di Indonesia.
Beliau menerangkan “ didalam kitab tersebut ada 3 tingkatan orang yang berpuasa pertama, puasa orang biasa, yaitu menjaga perut dan menjaga kemaluan dari melaksanakan syahwat kedua, puasa orang khusus, yaitu puasa orang-orang sholeh dengan cara menjaga seluruh anggota tubuh dari dosa-dosa. Puasa ini tidak bisa terlaksana kecuali dengan melaksanakan 5 hal pertama, menjaga pandangan dari segala sesuatu yang dipandang tercela secara syariat kedua, menjaga lisan dari gossip, mengunjing, berbohong, saling menjelekkan dan dari sumpah palsu ketiga, menjaga kedua telinga kita dari setiap hal yang makhruh/dibenci keempat, menjaga seluruh anggota tubuh kita dari segala hal yang dibenci dan menjaga perut kita dari hal-hal yang subhat halal/haramnya ketika berbuka puasa kelima, jangan sampai memperbanyak makan di waktu berbuka puasa dengan yang hal sampai memenuhi perutnya. ketiga, puasa orang special/khusus, yaitu hatinya berpuasa dari keinginan-keinginan yang rendah, dari pikirian-pikiran yang bersifat duniawi belaka dan dia menjaga dirinya dan hatinya dari selain Allah SWT secara sempurna”. Ujarnya dalam kajian.
Pada akhir kajian beliau berpesan “ hakikatnya puasa yang paling khusus adalah menghadapkan hati kita secara sempurna kepada Allah SWT dan tidak berpaling hati kita darinya”. Ujar Bapak Prof.Usep Abdul Matin, S.Ag., M.A (Leiden), M.A. (Duke), Ph.D dalam menutup kajiannya.
Penulis: Ahmad Daffa Rasyidi/Kasih Nur/ Deny Saputra
