Tarekat Menjadi Perlawanan Paling Efektif pada Masa Kolonial?
Tarekat Menjadi Perlawanan Paling Efektif pada Masa Kolonial?

Oleh: Gama Braja D

Mahasiswa Program Studi  Sejarah dan Peradaban Islam Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

 

Apa persamaan antara zikir, pengajian, dan perlawanan terhadap penjajah?

Sekilas, ketiganya tampak tidak berhubungan. Ketika membicarakan perjuangan melawan kolonialisme Belanda, yang muncul di benak kita biasanya adalah peperangan, bambu runcing, atau tokoh-tokoh yang mengangkat senjata di medan tempur. Namun sejarah menunjukkan bahwa salah satu ancaman terbesar bagi pemerintah kolonial justru lahir dari kelompok yang sering dianggap hanya mengurusi urusan spiritual: tarekat.

Di balik majelis zikir dan pengajaran agama, tersimpan jaringan sosial yang mampu menghubungkan ribuan orang dari berbagai daerah. Bagi masyarakat, tarekat adalah tempat mencari ketenangan batin. Namun bagi pemerintah kolonial, tarekat sering dipandang sebagai ruang yang berpotensi melahirkan perlawanan.

Mengapa organisasi yang identik dengan kehidupan spiritual bisa menjadi kekuatan yang begitu ditakuti penjajah?

Ketika Belanda Tidak Hanya Melawan Senjata

Salah satu kesalahan yang sering muncul dalam memahami sejarah kolonial adalah menganggap bahwa Belanda hanya menghadapi perlawanan bersenjata. Kenyataannya, mereka juga menghadapi sesuatu yang jauh lebih sulit dikendalikan: pengaruh para ulama.

Pasukan dapat dikalahkan dalam satu pertempuran. Benteng dapat dihancurkan dengan meriam. Namun bagaimana cara menghentikan gagasan yang telah menyebar dari satu surau ke surau lainnya?

Di sinilah kekuatan tarekat terlihat. Melalui hubungan guru dan murid, pesan-pesan tentang keadilan, harga diri, dan pentingnya mempertahankan tanah air dapat menyebar tanpa harus menggunakan struktur organisasi formal yang mudah diawasi pemerintah kolonial.

Jaringan yang Sudah Ada Sebelum Organisasi Modern

Jauh sebelum munculnya organisasi modern seperti Sarekat Islam atau Muhammadiyah, banyak tarekat telah memiliki jaringan yang menjangkau berbagai wilayah Nusantara.

Bayangkan sebuah jaringan sosial tanpa internet, tanpa telepon, bahkan tanpa surat kabar yang mudah diakses masyarakat. Meski demikian, informasi tetap dapat bergerak melalui pertemuan-pertemuan keagamaan, perjalanan ulama, dan hubungan antarsantri.

Karena itulah tarekat sering menjadi sarana mobilisasi yang efektif. Ketika seorang ulama yang dihormati menyampaikan seruan untuk mempertahankan martabat umat, pesannya tidak berhenti pada satu desa saja. Ia dapat menyebar jauh melampaui batas wilayah administratif yang dibuat pemerintah kolonial.

Mengapa Masyarakat Begitu Loyal? 

Faktor lain yang membuat tarekat berpengaruh adalah tingkat kepercayaan yang tinggi antara guru dan murid.

Di tengah situasi kolonial yang penuh ketidakpastian, ulama bukan hanya berperan sebagai pengajar agama. Mereka juga menjadi penengah konflik, penasihat masyarakat, bahkan pelindung kelompok-kelompok yang lemah.

Akibatnya, ketika para ulama menilai bahwa kolonialisme telah melampaui batas dan merugikan masyarakat, suara mereka memiliki bobot moral yang sangat kuat. Perlawanan yang muncul bukan sekadar persoalan politik, melainkan juga dipandang sebagai upaya mempertahankan nilai-nilai yang diyakini masyarakat.

Pelajaran yang Masih Relevan Hari Ini

Kisah tarekat dan perlawanan kolonial memberikan pelajaran menarik bagi masa kini. Sejarah menunjukkan bahwa perubahan besar tidak selalu lahir dari kekuatan militer atau kekuasaan politik. Kadang-kadang, perubahan justru bermula dari jaringan kepercayaan yang dibangun secara perlahan di tengah masyarakat.

Tarekat berhasil bertahan dan berpengaruh karena menawarkan sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar organisasi: rasa kebersamaan, identitas, dan tujuan bersama.

Dalam dunia yang semakin terhubung namun sering kali terasa individualistis, pelajaran tersebut masih relevan. Sebab pada akhirnya, kekuatan terbesar sebuah gerakan bukanlah jumlah senjatanya, melainkan kemampuan menyatukan manusia di bawah satu keyakinan dan tujuan yang sama.

Penutup

Sejarah Indonesia memperlihatkan bahwa perjuangan melawan kolonialisme tidak hanya berlangsung di medan perang. Di surau-surau, pesantren, dan majelis zikir, tumbuh jaringan sosial yang perlahan membangun kesadaran kolektif masyarakat untuk menolak penindasan.

Itulah sebabnya tarekat bukan sekadar lembaga spiritual. Dalam banyak periode sejarah, tarekat juga menjadi salah satu fondasi penting lahirnya perlawanan terhadap kolonialisme di Nusantara.

Daftar Pustaka

Azra. (2004). Jaringan ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara abad XVII & XVIII: Akar pembaruan Islam Indonesia (Edisi revisi). Kencana.

Bruinessen. (1995). Kitab kuning, pesantren, dan tarekat: Tradisi-tradisi Islam di Indonesia. Mizan.

Kartodirdjo. (1984). Pemberontakan petani Banten 1888. Pustaka Jaya.

Kartodirdjo. (1993). Pendekatan ilmu sosial dalam metodologi sejarah. Gramedia Pustaka Utama.

Ricklefs. (2008). Sejarah Indonesia modern 1200–2008. Serambi.

Noer. (1996). Gerakan modern Islam di Indonesia 1900–1942. LP3ES.

Lapidus. (2014). A history of Islamic societies (3rd ed.). Cambridge University Press.

Esposito. (2018). Islam: The straight path (5th ed.). Oxford University Press.

Carey. (2019). Kuasa ramalan: Pangeran Diponegoro dan akhir tatanan lama di Jawa, 1785–1855. KPG (Kepustakaan Populer Gramedia).

Alfian. (1987). Perang di Jalan Allah: Perang Aceh 1873–1912. Pustaka Sinar Harapan.