Ramadhan sebagai Syahrul Qur’an: Mengutamakan Kualitas Tartil di Bulan Suci
Ramadhan sebagai Syahrul Qur’an: Mengutamakan Kualitas Tartil di Bulan Suci

Tangerang Selatan, Berita FAH Online - Program Mutiara Ramadhan kembali hadir setiap hari selama bulan suci Ramadhan melalui kanal YouTube resmi. Program ini ditayangkan secara rutin setiap pukul 17.00 WIB sebagai teman setia menjelang berbuka puasa. Pada edisi hari kedua puasa (20/02/2026), M. Husni T, M.A. hadir menyampaikan materi mendalam mengenai makna Ramadhan sebagai bulan Al-Qur'an.

Dalam paparannya, M. Husni menekankan pentingnya memaksimalkan ibadah zikir melalui pembacaan Al-Qur'an selama bulan suci ini. Penamaan Ramadhan sebagai Syahrul Qur’an sendiri merujuk pada Surat Al-Baqarah ayat 185, yang menyatakan bahwa pada bulan inilah Al-Qur'an diturunkan sebagai petunjuk bagi umat manusia, penjelas, serta pembeda antara yang hak dan yang batil.

Motivasi umat Islam untuk mengkhatamkan Al-Qur'an di bulan ini didasari oleh janji pahala yang luar biasa. Berdasarkan hadis Nabi SAW, setiap ibadah sunnah yang dilakukan di bulan Ramadhan setara dengan ibadah wajib di bulan lain, sementara ibadah wajib dilipatgandakan pahalanya hingga 70 kali lipat. Lebih lanjut, satu huruf Al-Qur'an yang dibaca mendatangkan sepuluh kebaikan. Sebagai contoh, membaca "Alif Lam Mim" saja sudah memberikan 30 pahala, karena Alif, Lam, dan Mim masing-masing dihitung sebagai satu huruf.

Meski semangat mengkhatamkan Al-Qur'an sangat tinggi, Husni mengingatkan agar umat Islam tidak terjebak hanya mengejar kuantitas atau kecepatan bacaan. Sebagaimana diperintahkan dalam Surat Al-Muzzammil ayat 4, "Warattil qurana tartila", yang berarti bacalah Al-Qur'an dengan kualitas tartil yang unggul. Beliau menekankan bahwa dalam membaca Al-Qur'an, yang dikejar seharusnya adalah seberapa lama kita berinteraksi dan membaca Al-Qur'an tersebut, bukan seberapa banyak jumlah halaman atau juz yang harus kita capai. Hal ini penting agar pembaca tetap fokus pada ketepatan bunyi dan hukum tajwidnya.

Mengenai pentingnya ketepatan bacaan, Husni mengutip pernyataan dari pakar qiraat, Syekh Ibn Al-Jazari, yang menegaskan bahwa membaca Al-Qur'an dengan tajwid adalah sebuah kewajiban yang lazim. Bahkan, orang yang membaca Al-Qur'an tanpa menggunakan tajwid akan berdosa karena dapat menghilangkan atau mengubah makna ayat. Sejalan dengan hal itu, para ulama menisbahkan sebuah ungkapan dari Imam Ali yang menjelaskan bahwa tartil adalah "Tajwidul huruf wa ma'rifatul wukuf", yaitu membaca huruf sesuai makhrajnya serta mengetahui di mana harus berhenti dan memulai bacaan.

Husni memberikan perhatian khusus pada beberapa kesalahan pelafalan yang sering terjadi namun berdampak fatal pada makna. Misalnya pada kata Alhamdulillah, penggunaan huruf Ha besar yang menggantikan Ha kecil dapat mengubah arti "segala puji" menjadi "diam" atau "api yang padam". Kesalahan serupa sering ditemukan pada pengucapan Al-Alamin, di mana penggantian huruf Ain menjadi Hamzah dapat menghilangkan makna asli kata tersebut.

Sebagai penutup, Husni mengajak seluruh umat Islam untuk tidak pernah malu belajar memperbaiki bacaan Al-Qur'an. Beliau mengutip prinsip bahwa ilmu tidak akan didapat oleh dua tipe orang: orang yang malu untuk belajar dan orang yang sombong. Apapun status kita di masyarakat, memperbaiki kualitas bacaan sesuai tajwid adalah kunci utama dalam memuliakan Ramadhan sebagai bulan Al-Qur'an.

Penulis: Nadhira Sonja Isinbayeva.

Tag :