Ramadhan Bulan Pencerah Jiwa: Momentum Membentuk Insan Muttaqin
Ramadhan Bulan Pencerah Jiwa: Momentum Membentuk Insan Muttaqin

Tangerang Selatan, Berita FAH Online – Ramadhan 1447 H kembali hadir membawa kemuliaan bagi umat Islam. Selain sebagai bulan turunnya Al-Qur’an dan malam Lailatul Qadar, Ramadhan menjadi momentum penting untuk penguatan mental serta penyucian spiritual. Dalam program Mutiara Ramadhan yang digelar Fakultas Adab dan Humaniora UIN Jakarta, Kamis (26/02/2026), Dr. Zakiya Darojat, M.A. menegaskan bahwa Ramadhan adalah sarana mencapai derajat insan muttaqin, dimana puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan proses penyucian jiwa sekaligus pencerahan batin.

Dalam pemaparannya, beliau mengungkapkan bahwa terdapat empat ciri utama seseorang yang mengalami pencerahan jiwa selama Ramadan. Pertama, sense of intensity, yakni kedalaman rasa dalam menjalani kehidupan dan ibadah, sehingga setiap amal dilakukan dengan kesadaran penuh dan rasa syukur. Kedua, feeling of clarity, yaitu kemampuan memahami makna dan hikmah di balik setiap peristiwa kehidupan, termasuk kesadaran akan tujuan penciptaan manusia sebagai hamba dan khalifah di bumi.

Selanjutnya, ciri ketiga sense of unity and connectedness, yakni perasaan terhubung dengan Allah, diri sendiri, sesama manusia, serta alam sekitar yang melahirkan empati dan kasih sayang. Terakhir, feeling of surrender, yaitu kemampuan berserah diri secara indah kepada ketetapan Allah setelah melakukan ikhtiar maksimal, tanpa terjebak dalam kecemasan berlebihan (overthingking).

“Semoga Ramadan ini betul-betul menjadikan jiwa kita menjadi tercerahkan, sehingga mampu menjadi syariat dari bulan suci Ramadhan, yaitu laállakum tattaquun,” ungkap beliau.

Lebih lanjut, sebagai langkah praktis dalam merawat pencerahan jiwa tersebut beliau menyarankan tiga hal utama, yaitu menjaga ketenangan pikiran (calm), menemukan makna dalam setiap peristiwa (clarity), serta menumbuhkan empati dan kepedulian terhadap sesama (compassion).

Sebagai penutup, beliau mengajak untuk menjadikan Ramadan sebagai bulan penggemblengan mental spiritual yang dampaknya dapat dirasakan sepanjang tahun. Melalui momentum ini, diharapkan umat tidak hanya berharap memperoleh pahala, tetapi juga mampu bertransformasi menjadi pribadi yang menebarkan kedamaian, kasih sayang, dan manfaat bagi lingkungan sekitarnya.

Penulis : Asri Komala Khairani/Kasih Nur/Deny Saputra

Tag :