Puasa Ramadhan dan Sekularisme Absolut dalam Menyeimbangkan Dunia dan Spiritual
Tangerang Selatan, Berita FAH Online – Ramadhan 1447 H menjadi momentum penting bagi umat Islam untuk memahami hakikat puasa tidak hanya sebagai ibadah ritual, tetapi juga sebagai instrumen dalam menghadapi tantangan ideologi modern. Hal tersebut disampaikan dalam program Mutiara Ramadhan yang digelar Fakultas Adab dan Humaniora UIN Jakarta, Senin (09/03/2026). Dalam kegiatan tersebut, Prof. Dr. Sukron Kamil, M.Ag. menegaskan bahwa puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan instrumen penting untuk melawan "sekularisme absolut" demi mencapai kesejahteraan dunia dan akhirat.
Dalam pemaparannya, ia mengungkapkan bahwa Islam sebenarnya adalah agama yang moderat dalam memandang hubungan antara materi dan ruhani. Ia menepis anggapan bahwa Islam adalah agama yang anti-dunia. Sebaliknya, Islam mendorong umatnya untuk meraih kebahagiaan di dunia (hasanah fiddunya) sebagaimana tertuang dalam doa sapu jagat. Konsep ini ia sebut sebagai "sekularisme moderat", di mana umat Islam dianjurkan untuk kaya secara material namun tetap memiliki kedalaman spiritual dan kepedulian sosial yang kuat.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa ancaman nyata bagi kemanusiaan adalah sekularisme absolut, yaitu paham yang hanya mementingkan kekayaan material tanpa memiliki kekayaan spiritual. Puasa Ramadhan hadir sebagai benteng bagi umat agar tidak terjebak dalam nafsu berlebihan, baik nafsu seksual maupun material. Dengan menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa, manusia diajak untuk memperkuat tiga elemen utama dalam dirinya: head (rasionalitas), hand (kerja empiris), dan heart (hati atau spiritualitas).
Selanjutnya, ia menekankan bahwa puasa tidak seharusnya menurunkan etos kerja seseorang. Hal ini terlihat dari bagaimana Ramadhan justru menggerakkan ekonomi umat melalui tradisi sahur, buka puasa, hingga kewajiban zakat fitrah. Ia menegaskan bahwa seseorang dinilai bukan hanya dari seberapa besar kekayaannya, melainkan dari seberapa besar sumbangsih sosialnya bagi kepentingan orang banyak.
” Nilai spiritualitas pada diri manusia itulah sisi yang paling membedakan manusia dengan makhluk lain,” ungkapnya.
Sebagai penutup, ia mengajak untuk menjadikan Ramadhan sebagai momentum untuk melakukan humanisasi (menegakkan nilai kebaikan) dan liberasi (membebaskan manusia dari kemiskinan serta kebodohan). Melalui penggemblengan mental di bulan suci ini, diharapkan umat Islam tidak hanya menjadi pribadi yang taat secara ritual, tetapi juga mampu bertransformasi menjadi insan yang produktif secara material dan cerah secara spiritual bagi lingkungan sekitarnya.
Penulis: Asri Komala Khairani/ Kasih Nur/ Deny Saputra
