Program Studi Tarjamah FAH UIN Jakarta Gelar International Translation Day 2026 : Bahas Nilai Penerjemahan Manusia di Era AI
Jakarta, 30 September 2026, Berita FAH Online - Program Studi Tarjamah, Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menyelenggarakan International Translation Day (ITD) 2026 pada Rabu, 30 September 2026. Kegiatan berlangsung mulai pukul 08.00 WIB hingga selesai di Teater Lantai 5 FAH UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Mengangkat tema “The Value of Human Translation: Mengapa Nuansa dan Konteks Tetap Penting di Era AI & Pelatihan Praktis Post-Editing Hasil Penerjemahan Modern”, kegiatan ini menjadi ruang bagi mahasiswa Tarjamah untuk memahami kembali peran penerjemah di tengah perkembangan kecerdasan buatan (AI) yang semakin pesat.
Acara dibuka oleh Kaprodi Tarjamah, Prof. Dr. Darsita S., S.S., M.Hum. Materi utama disampaikan oleh Ida Nurjannah, mahasiswa terbaik Program Studi Tarjamah sekaligus kakak tingkat yang berbagi pengetahuan dan pengalaman mengenai perkembangan dunia penerjemahan di era AI.
Dalam pemaparannya, Ida Nurjannah menjelaskan bahwa AI memiliki keunggulan dalam kecepatan, pengenalan pola bahasa, dan pemrosesan teks dalam jumlah besar. Namun, penerjemah manusia tetap memiliki peran penting dalam menangkap nuansa, konteks, pertimbangan, serta tanggung jawab yang menyertai sebuah terjemahan.
Pertanyaan “AI bisa menerjemahkan. Tapi apakah AI bisa memahami?” menjadi salah satu gagasan utama dalam pembahasan. Pertanyaan tersebut mengajak mahasiswa untuk tidak hanya melihat AI sebagai ancaman, tetapi juga memahami bagaimana teknologi dapat dimanfaatkan sebagai bagian dari proses kerja penerjemahan.
Materi juga membahas perubahan posisi penerjemah ketika teknologi AI semakin berkembang. AI dapat membantu mempercepat proses, memberikan pilihan kata, mengumpulkan referensi, dan mengurangi beban teknis. Sementara itu, penerjemah tetap bertanggung jawab untuk memeriksa, memilah, memilih padanan yang tepat dan sesuai konteks, serta menjaga kualitas dan kepercayaan terhadap hasil terjemahan.
Dalam kegiatan tersebut ditegaskan bahwa penerjemahan bukan sekadar penggantian kata. Penerjemah tidak hanya menghasilkan sejumlah kata dalam bahasa sasaran, tetapi menghadirkan makna yang dapat dipercaya. Semakin kompleks tingkat penerjemahan, semakin besar pula kebutuhan terhadap human judgment, terutama ketika berhadapan dengan konteks, budaya, dan tujuan komunikasi.
Karena itu, mahasiswa Tarjamah didorong untuk membangun pola pikir bahwa mereka tidak harus bersaing dengan AI, melainkan belajar bekerja bersama AI. Penerjemah masa kini dituntut mampu mengarahkan dan memeriksa hasil teknologi sekaligus tetap memegang tanggung jawab profesional terhadap makna yang dihasilkan.
Selain membahas nilai penerjemahan manusia, ITD 2026 juga mendorong mahasiswa mempersiapkan kompetensi yang relevan dengan dunia penerjemahan modern, antara lain penguasaan pasangan bahasa, pembangunan portofolio, pemilihan bidang spesialisasi, serta pemahaman terhadap AI, CAT, dan Machine Translation Post-Editing (MTPE).
Melalui kegiatan ini, Program Studi Tarjamah FAH UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menegaskan pentingnya kesiapan mahasiswa menghadapi perkembangan teknologi tanpa kehilangan nilai utama profesi penerjemah. Teknologi dapat membantu menghasilkan terjemahan, tetapi penerjemah tetap memiliki tanggung jawab terhadap makna, konteks, dan amanah yang terkandung di dalamnya.
International Translation Day 2026 menjadi pengingat bahwa perkembangan teknologi perlu diikuti dengan penguatan kompetensi manusia. Kemampuan menggunakan teknologi sekaligus mempertahankan ketelitian, tanggung jawab, dan kepekaan terhadap makna menjadi bagian penting dari kompetensi penerjemah di era AI.
Penulis: Diana Cantika
