Momentum Ramadan Tingkatkan Amalan Menuntut Ilmu Melalui Sejarah dan Sastra
Momentum Ramadan Tingkatkan Amalan Menuntut Ilmu Melalui Sejarah dan Sastra

Tangerang Selatan, Berita FAH Online- Bulan suci Ramadan senantiasa selalu menjadi ajang ibadah yang dinantikan oleh umat Islam di seluruh dunia. Momentum berharga ini sepatutnya dimanfaatkan secara maksimal untuk mengembangkan kapasitas intelektual mahasiswa melalui penguatan tradisi literasi. Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta mendokumentasikan kajian daring Mutiara Ramadan bersama Dr. Johan Wahyudi M.Hum. Beliau menyoroti betapa pentingnya kita kembali membaca karya sejarah dan sastra di tengah gempuran era digital. Terlebih lagi, jika keberkahan menuntut ilmu ini diintegrasikan dengan ibadah puasa, maka kita juga turut memperoleh keseimbangan utuh antara kecerdasan intelektual dan kedalaman spiritual.

Dalam pemaparannya, Dr. Johan menguraikan bahwa sejarah memberikan pelajaran berharga tentang dinamika kehidupan masyarakat terdahulu sebagai kompas moral bagi manusia modern. Beliau mencontohkan bagaimana fleksibilitas metode dakwah harus senantiasa disesuaikan dengan tantangan zaman. Hal ini terlihat dari strategi kultural Walisongo di Nusantara, khususnya Sunan Kalijaga yang menggunakan medium wayang kulit. Melalui lakon "Jamus Kalimasada" yang merupakan manifestasi dari kalimat syahadat, Sunan Kalijaga berhasil menanamkan ajaran Islam secara damai tanpa harus memberangus tradisi lokal masyarakat Majapahit.

Di samping sejarah, karya sastra juga memiliki kedudukan penting karena kemampuannya dalam melunakkan hati dan menyelami sisi humanis manusia yang kerap tak terjangkau oleh literatur akademik yang kaku. Dr. Johan memberikan contoh mahakarya sastrawan Arab modern, Ali Ahmad Bakasir, berjudul Tsa'irul Ahmar yang memotret perlawanan kaum budak terhadap kezaliman Firaun. Nilai perlawanan terhadap penindasan ini juga direfleksikan dalam sastra Inggris mahakarya George Orwell, Animal Farm. Kedua karya beda benua tersebut menyampaikan pesan moral yang sama, yakni kekuatan entitas masyarakat bawah tidak boleh disepelekan karena mereka mampu menjungkalkan penguasa yang zalim.

Keberhasilan pendidikan di tingkat perguruan tinggi amat bergantung pada kesadaran individu untuk menjadikan kegiatan membaca sebagai sebuah rutinitas pokok keseharian. Pengalokasian waktu khusus untuk menelaah literatur sangat diwajibkan agar proses belajar selalu dipandang sebagai kebutuhan utama yang mendesak layaknya kewajiban bekerja atau beribadah. Beliau kembali memberikan penegasan inspiratif kepada seluruh mahasiswa di akhir pemaparannya. "Jangan sekali-kali kita melupakan hakikat kita sebagai makhluk pembelajar, dengan kita membaca karya sejarah kemudian dengan membaca karya sastra maka akan selalu hidup nuansa kemanusiaan di diri kita," ungkap beliau. Dengan demikian rutinitas akademis yang terbangun selama bulan puasa ini dipastikan sukses mencetak insan beradab yang senantiasa siap berkontribusi merawat pilar peradaban bangsa tercinta.

Penulis: Andika Pratama /Kasih Nur/ Deny Saputra

Tag :