Meraih Predikat Takwa Melalui Momentum Ibadah Ramadan
Tangerang Selatan, Berita FAH Online - Program Mutiara Ramadan kali ini menghadirkan tausiyah inspiratif yang dibawakan oleh Kaula Fahmi, Lc, M.Hum. pada hari Sabtu, (07/03/2026). Dalam penyampaiannya, beliau menekankan bahwa tujuan utama umat Muslim menjalani ibadah di bulan Ramadan adalah untuk membentuk diri menjadi hamba yang bertakwa kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Secara bahasa, takwa berarti rasa takut kepada Allah, sementara secara istilah bermakna menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Bulan suci ini menjadi kesempatan emas untuk melatih hawa nafsu agar seseorang mampu meraih derajat mulia tersebut, sebagaimana janji Allah mengenai surga yang luasnya seluas langit dan bumi bagi orang-orang yang bertakwa.
Berdasarkan surah Ali Imran ayat 133 dan 134, ciri utama orang yang bertakwa adalah mereka yang bersegera menuju ampunan Allah tanpa menunda-nunda pertobatan atas dosa yang dilakukan. Selain itu, mereka memiliki karakter kedermawanan yang kuat dengan senantiasa berinfak dan bersedekah, baik dalam keadaan lapang maupun sempit, serta saat kaya maupun susah. Ramadan mengajarkan umat untuk tidak egois dan lebih peduli terhadap kondisi saudara sesama Muslim yang kekurangan, sehingga tercipta hubungan yang saling menguatkan layaknya sebuah bangunan.
Ciri selanjutnya dari pribadi yang bertakwa adalah kemampuan dalam menahan amarah. Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan juga menahan diri dari hawa nafsu yang dapat menjerumuskan ke dalam neraka. Ketika amarah melanda, Rasulullah menganjurkan untuk diam agar tidak muncul penyesalan panjang di kemudian hari akibat luapan emosi yang sesaat. Kesabaran menjadi kunci utama dalam mengendalikan diri selama menjalani proses pendidikan spiritual di bulan Ramadan ini.
Selain menahan amarah, orang yang bertakwa juga memiliki kemauan untuk memaafkan kesalahan sesama manusia. Meskipun sulit dilakukan saat ego dan kesombongan menaungi, momentum Ramadan hingga Idul Fitri harus dijadikan titik balik untuk saling memaafkan dan menghapus rasa dendam maupun dengki. Allah sangat mencintai hamba-Nya yang senang berbuat kebaikan, termasuk mereka yang memberi makan untuk orang berbuka puasa, karena amal saleh tersebut akan diganjar dengan pahala yang berlipat ganda langsung dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Dengan memahami ciri-ciri tersebut, diharapkan ibadah Ramadan tidak sekadar menjadi formalitas tahunan yang berulang tanpa membawa perubahan nyata. Takwa yang sesungguhnya harus bersifat berkelanjutan, yang mencakup perbaikan ibadah individual sekaligus peningkatan kepedulian sosial. Melalui niat dan tekad yang kuat untuk terus memperbaiki diri, setiap Muslim berkesempatan untuk mengakhiri Ramadan sebagai pribadi yang lebih baik dan benar-benar meraih predikat takwa di sisi Allah.
Penulis: Nadhira Sonja Isinbayeva/ Kasih Nur/ Deny Saputra
