Membedah buku “Sebelum Kita Sampai di Sini” Karya Mahasiswa Fakultas Adab dan Humaniora
Oleh: Jasmiko
Karya tulis mahasiswa Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta hadir mewarnai khazanah literasi autobiografis lewat antologi memoar berjudul Sebelum Kita Sampai di Sini. Buku setebal 161 halaman yang diterbitkan Inti Litera tersebut pada Juli 2026 menghimpun rekam jejak tujuh penulis muda dalam menatap perjalanan pendewasaan mereka. Realitas yang mereka alami, baik sebelum atau ketika menjalani masa perkuliahan dituangkan dalam kalimat-kalimat yang menghiasi halaman. Editor buku tersebut, Jasmiko, merupakan mahasiswa magister Bahasa dan Sastra Arab dari kampus dan fakultas yang sama dengan para penulis.
Muhammad Aslam Nurdin membuka buku ini lewat "Meninggalkan Bekas". Pengalaman enam tahun mengarungi tradisi pesantren ia susun menjadi refleksi tentang waktu dan kedisiplinan. Aslam sapaan akrabnya, mencatat perjumpaan awalnya dengan kitab gundul serta petuah pengasuh yang meresap perlahan ke dalam batinnya, bagai air yang menetes di atas batu. Tulisan ini memberi jeda untuk menakar kembali arti ketabahan di tengah kepungan tuntutan hidup yang serba cepat.
Dinamika batin beralih tajam dalam "Anggitan Senja Menjelaga Buana" karya Khilda Aqilah Sepiani. Aqila menumpahkan pergulatan seorang santri kelana yang menembus gerbang perguruan tinggi tanpa selembar ijazah SMA. Rasa asing saat terlempar ke Program Studi Sejarah dan Peradaban Islam, padahal impian awalnya tertuju pada Sastra Arab, ia jalin bersama ingatan menjadi guru honorer bertarif rendah. Aqila membuktikan bahwa bekas luka kegagalan sanggup diolah menjadi keberanian untuk berdiri tegak.
Penelusuran jati diri berlanjut dalam tiga babak milik Tazkiyya Hasan. Tazkiyya merekam pergeseraannya dari iklim Muhammadiyah Boarding School Yogyakarta menuju lingkungan SMA yang memicu gejolak baru. Kekecewaan akibat penolakan jalur masuk perguruan tinggi ia tebus lewat ketekunan belajar mandiri hingga akhirnya diterima di UIN Jakarta. Lewat catatannya, Tazkiyya memperlihatkan bahwa proses pendewasaan lahir dari keberanian mengurai benang kusut dalam diri sendiri.
Alyya Azzahra menyumbang wacana lain lewat "I'm Trying 'Cause I'm Being Chosen". Alyya menelusuri jejak pendidikannya di IAIN Ambon pada Program Studi Perbandingan Mazhab dan Hukum sebelum melangkah ke Ciputat. Gesekan konflik antarsuku di Ambon, gangguan penguntit, hingga rasa lelah memikul amanah organisasi berkelindan membentuk ketahanan fisiknya. Dalam sudut pandangnya, manusia acap kali tidak benar-benar memilih jalan hidupnya, melainkan merespons pilihan yang disodorkan oleh takdir.
Napas tradisi Minangkabau mengemuka dalam "Ketika Separuh Hatiku Harus Memilih" karya Rima Ramadhani. Rima, anak bungsu dari tepi pantai Sumatera Barat, menggugat kenyamanannya saat dihadapkan pada tradisi merantaunya orang Minang. Keraguan finansial dan ikatan emosional keluarga perlahan melunak oleh dorongan saudara-saudaranya serta kepastian beasiswa KIP-Kuliah. Rima menuturkan transisi batin dari sosok yang bersandar pada rumah menjadi pribadi yang berani melangkah di kota orang.
Hafizh Dzakirulfazri menghadirkan porsi kisah yang menggugah dalam "Dari Balik Jaring Aula". Hafizh merekam perjuangan panjang menembus tim futsal pesantren demi berlaga di Liga Santri. Pengalaman diabaikan pelatih, kegagalan seleksi berulang, hingga cedera otot menjelang laga puncak ia susun menjadi metafora tentang pilihan yang diambil di ruang-ruang sunyi. Hafizh menunjukkan bahwa ketekunan bertatap muka dengan kegagalan sanggup melampaui bakat alami.
Antologi ini ditutup oleh Siti Nijmatul Khairiyah melalui "Orang Baru di Bangku Sebelah". Siti merawat ingatan masa kecil yang sarat perundungan dan kepalsuan pertemanan. Pengalaman buruk masa lalu membuatnya membangun tembok pembatas dalam bergaul, hingga kehadiran seorang murid pindahan bernama Rani mengubah caranya memaknai ketulusan. Tulisan ini menjadi penutup yang tenang, menegaskan bahwa satu pertemanan yang jujur sanggup menyembuhkan jejak rasa sakit.
Buku ini tentu berasal dari sebuah kejujuran dan berangkat dari ide besar bahwa pendidikan tidak bisa ditawar. Mereka meneguhkan cita mahasiswa bahwa halangan yang silih berganti datang itu sangat wajar, dan tidak menghalangi untuk meraih pendidikan. Jauh-jauh dari Padang menjemput asa di Ciputat, adalah sesuatu yang istimewa. Pun, dengan cerita di pesantren yang sudah mereka lalui, pelajaran demi pelajaran menjadi penuntun langkah menjadi lebih baik ketika masuk universitas. Akhirnya, tidak ada kata selesai untuk pendidikan. Sebab, sebagaimana disabdakan oleh Nabi, belajar itu sampai liang lahat, artinya belajar adalah sampai mati.
