Memahami Ragam Bahasa dan Dinamika Berkomunikasi
Penggunaan bahasa memungkinkan seseorang untuk menjaga hubungan dengan orang lain dalam interaksi sosial. Bahasa adalah perangkat krusial dalam sosial masyarakat yang membawa mereka ke dalam hubungan di dalam lingkungan. Keterikatan antara bahasa dan masyarakat sangat erat karena keduanya saling mempengaruhi satu sama lain bagaikan dua sisi koin. Fenomena interaksi yang kompleks ini menuntut adopsi ragam bahasa sebagai strategi yang adaptif guna menjamin kelancaran pertukaran informasi dalam berbagai situasi.
Penerapan variasi tersebut berperan dalam mengontrol substansi serta maksud komunikasi secara akurat agar gagasan yang diutarakan selalu koheren terhadap konteks yang melatarbelakanginya. Variasi bahasa ini berupa sebuah sistem yang terbentuk secara konvensional dalam masyarakat. Oleh karena itu, memahami bahasa berarti juga memahami tatanan sosial, di mana variasi-variasi tersebut berfungsi sebagai penanda identitas, status sosial, serta alat untuk membangun dan memelihara hubungan antarindividu dalam sebuah komunitas.
Masyarakat modern tersusun atas lapisan-lapisan atau stratifikasi sosial yang memengaruhi cara individu bertutur. Contoh sederhananya yaitu perbedaan ketika kita menggunakan bahasa di rumah dengan di kampus. Ketika berada di lingkungan rumah atau masyarakat, dengan latar belakang individu yang beragam, tentu kita tidak bisa bertutur dengan ragam bahasa seperti yang digunakan dalam lingkungan akademis. Hal tersebut akan mengakibatkan ketimpangan pemahaman dalam menggapai kosakata atau definisi-definisi tertentu untuk menjaga kestabilan arus komunikasi. Masyarakat awam akan asing mendengar kata-kata seperti rasional, substansi, variabel, manifestasi, dan sebagainya. Sebagai alternatifnya, perlu untuk mencari artikulasi lain, atau merubah sudut pandang logika, misal dengan perumpamaan atau reduksi makna menjadi lebih praktis.
Di Indonesia, bahasa baku sering menempati posisi ragam tinggi yang digunakan dalam pendidikan, administrasi pemerintahan, dan hukum. Sementara itu, bahasa daerah atau ragam percakapan informal berfungsi sebagai ragam rendah yang digunakan dalam ranah keluarga, persahabatan, dan solidaritas. Contoh konkret terlihat pada masyarakat Jawa yang memiliki tingkatan tutur (undhak-usuk), yang terdiri dari ragam Krama (halus) digunakan untuk menghormati orang yang lebih tua atau berstatus tinggi. Adapun ragam Ngoko (kasar/biasa) digunakan kepada teman sebaya atau orang yang lebih muda. Situasi ini menuntut penutur Indonesia untuk menjadi dwibahasawan yang cakap dalam berpindah mode sesuai dengan ranah pembicaraan.
Selain daripada faktor situasi, ragam bahasa juga berpengaruh pada identitas gender. Penelitian menunjukkan bahwa ketidaksepadanan bahasa antara laki-laki dan perempuan sering diperlihatkan dalam interaksi sehari-hari. Dalam praktiknya, perempuan sering menggunakan bahasa yang seringkali diasosiasikan dengan penggunaan kosakata yang lebih halus dan sopan, bahkan terkadang terlalu hiperbolik. Sementara laki-laki identik dengan ketegasannya, to the point, dan bahkan kasar. Skema ini seperti yang dikemukakan oleh Robin Lakoff pada tahun 1970-an. Ia mengamati "bahasa wanita" yang cenderung menggunakan hedges (kata atau frasa pembatas, seperti "mungkin," "agak") dan tag questions (pertanyaan tambahan di akhir kalimat, seperti; "kan?", "ya?"). Ini sering diinterpretasikan sebagai ekspresi ketidakpastian dan keragu-raguan dalam upaya menjaga harmoni sosial dan jalinan relasi yang lebih intim.
Pentingnya dalam memahami ragam bahasa menunjukkan kemampuan berbahasa melampaui sekadar penguasaan tata bahasa dan kosa kata. Sebagai makhluk sosial, perlu kepekaan yang lebih dalam untuk mengemas apa yang kita ingin tuturkan berdasarkan konteks dan situasi. Sebagai cermin kehidupan masyarakat, bahasa merekam jejak budaya, nilai, dan hierarki sosial penggunanya. Dengan memahami dan beradaptasi dengan berbagai keragaman tersebut, kita dapat berinteraksi secara lebih efektif dan empatik. Menghargai ragam bahasa berarti menghargai kompleksitas identitas manusia dan struktur sosial yang membentuknya, sehingga komunikasi tidak hanya menjadi pertukaran informasi, tetapi juga jembatan pemahaman antarmanusia.
Penulis: Andika Pratama
Editor dan Reviewer: Muhammad Husein Fadhlillah
Referensi
Chaer, A., & Agustina, L. (1995). Sosiolinguistik: Suatu pengantar. Rineka Cipta.
Herisetyanti, T., & Suharyati, H. (2019). Ragam Bahasa Dalam Komponen Tutur. Media Bahasa, Sastra, dan Budaya Wahana, 25(2), 1–15. https://doi.org/10.33751/wahana.v25i2.1602
Lakoff, R. (1973). Language and Woman’s place. Language in Society, 2(1), 45–79.
Sumber Foto: https://www.languagesunlimited.com/social-factors-that-necessitate-language-variation-and-varieties/
