Maknai Keutamaan Malam Qadar, Dr. Zubair Ajak Umat Maksimalkan Ibadah di 10 Malam Terakhir Ramadhan
Maknai Keutamaan Malam Qadar, Dr. Zubair Ajak Umat Maksimalkan Ibadah di 10 Malam Terakhir Ramadhan

Tangerang Selatan, Berita FAH Online – Malam Qadar merupakan salah satu malam paling istimewa dalam bulan suci Ramadhan yang memiliki keutamaan luar biasa bagi umat Islam. Pada malam tersebut, pahala ibadah yang dilakukan memiliki nilai yang lebih baik daripada seribu bulan. Hal ini disampaikan oleh Dr. Zubair, M.Ag., dalam program Mutiara Ramadhan (jilid 2) yang ditayangkan oleh Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada Kamis (12/03/26).

Dalam penjelasannya, Dr. Zubair menegaskan bahwa malam Qadar telah dijelaskan secara khusus dalam Al-Qur’an, terutama dalam Surah Al-Qadr. Dalam surah tersebut Allah SWT menjelaskan bahwa Al-Qur’an diturunkan pada malam kemuliaan yang nilainya lebih baik dari seribu bulan.

“Lailatul Qadar itu adalah satu malam yang lebih mulia dan lebih baik daripada seribu bulan,” jelas Dr. Zubair dalam kajian tersebut.

Ia juga menambahkan bahwa pada malam tersebut para malaikat turun ke bumi dengan membawa berbagai ketetapan dari Allah SWT hingga terbitnya fajar. Hal ini menunjukkan bahwa malam Qadar merupakan malam yang dipenuhi dengan keselamatan, kedamaian, serta keberkahan bagi umat manusia.

Selain Surah Al-Qadr, Dr. Zubair juga menjelaskan bahwa malam Qadar turut disebutkan dalam Surah Ad-Dukhan ayat 1 sampai 6 sebagai malam yang diberkahi. Dalam ayat tersebut dijelaskan bahwa pada malam itu Allah SWT menetapkan berbagai urusan dengan penuh hikmah.

Ia menyoroti bahwa terdapat tiga kata kunci penting yang menggambarkan hakikat malam Qadar, yakni salam (kedamaian), mubarokah (keberkahan), dan rahmat (kasih sayang).

“Misi diturunkannya Al-Qur’an dan diutusnya Nabi Muhammad adalah menghadirkan rahmat bagi seluruh alam,” ungkapnya, merujuk pada firman Allah SWT wa maa arsalnaaka illa rahmatan lil ‘alamin.

Menurutnya, tujuan utama dari diturunkannya Al-Qur’an dan diutusnya Nabi Muhammad SAW adalah untuk menghadirkan kedamaian, ketentraman, serta keharmonisan bagi seluruh umat manusia.

Lebih lanjut, Dr. Zubair menjelaskan bahwa Rasulullah SAW memberikan isyarat bahwa malam Qadar berada pada malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir Ramadhan, seperti malam ke-21, 23, 25, 27, atau 29.

Namun, ia juga menyoroti adanya perbedaan dalam penentuan awal Ramadhan yang dapat mempengaruhi perhitungan malam ganjil. Menurutnya, perbedaan tersebut justru memiliki hikmah agar umat Islam dapat memaksimalkan ibadah sepanjang sepuluh malam terakhir Ramadhan.

“Perbedaan penetapan awal Ramadhan memungkinkan kita untuk memanfaatkan sepuluh malam terakhir secara penuh dalam mengejar malam kemuliaan itu,” ujarnya.

Di akhir kajiannya, Dr. Zubair mengajak umat Islam untuk tidak hanya mengejar pahala malam Qadar semata, tetapi juga menjadikan momentum tersebut sebagai sarana untuk memperkuat kedekatan spiritual dengan Allah SWT.

Ia menekankan pentingnya memperbanyak ibadah seperti qiyamul lail, membaca Al-Qur’an, berzikir, serta melakukan i'tikaf di masjid pada sepuluh malam terakhir Ramadhan.

“Hanya dengan berdekatan dan mencintai Allah seseorang dapat menemukan kedamaian, ketentraman, dan kebahagiaan sejati dalam hidupnya,” tuturnya.

Melalui momentum Ramadhan, khususnya pada sepuluh malam terakhir, umat Islam diharapkan mampu memperkuat hubungan spiritual dengan Allah sekaligus menumbuhkan sikap kasih sayang kepada sesama manusia sebagai wujud dari ajaran Islam yang rahmatan lil ‘alamin.

Penulis: Rahmat Mubaroq/ Kasih Nur/ Deny Saputra

Tag :