Kematian Bahasa
Oleh: Andika Pratama
Apa kira-kira yang akan terjadi jika bahasa tidak memiliki penutur dalam masyarakat tutur, tidak digunakan dalam kurun waktu yang lama, secara bertahap. Secara eksistensial, apakah bahasa itu masih dianggap ada, atau hilang begitu saja?. Faktanya, Satu bahasa di dunia mati setiap dua minggu dan laju kepunahan ini merupakan krisis global yang nyata namun laten. Banyak pihak menyadari ancaman hilangnya keanekaragaman alam akibat modernisasi. Namun kesadaran yang sama jarang terjadi pada keragaman komunikasi antarmanusia. Ribuan bahasa saat ini berada di ambang kepunahan karena generasi muda maupun mendatang tidak lagi menuturkannya di rumah, apalagi di masyarakat, seperti yang terjadi pada kebanyakan bahasa lokal yang sudah mulai ditinggalkan karena dianggap tidak relevan.. Situasi ini membawa dampak hilangnya warisan budaya yang tak tergantikan.
Jumlah bahasa di dunia saat ini diperkirakan berada pada kisaran hingga 7.000 bahasa. Distribusi penutur bahasa tersebut ironisnya sangat tidak merata di seluruh benua. Sekitar 96 persen dari seluruh bahasa di dunia ternyata dituturkan oleh empat persen dari total populasi global. Dengan demikian, sebagian besar bahasa di dunia memiliki jumlah penutur yang amat sangat sedikit. Itu artinya seperempat dari bahasa lokal tersebut dituturkan oleh kurang dari seribu orang di daerah terpencil. Jika sebuah bahasa dituturkan oleh komunitas yang sangat kecil, maka ancaman kepunahan akan menjadi semakin nyata dan sulit dihindari.
Faktor Pemicu Hilangnya Bahasa
Faktor pertama, yaitu bencana alam, hal yang di luar kuasa kita sebagai manusia. Bencana alam yang dahsyat dapat menghancurkan sebuah komunitas kecil secara instan. Selain itu, penyakit mematikan yang terbawa dari luar komunitas terbukti sering membunuh sebagian besar populasi penduduk asli. Bencana kelaparan dan kekeringan ekstrem juga memaksa orang-orang untuk bermigrasi meninggalkan habitat aslinya demi mencari sumber makanan. Lingkungan yang rusak akibat eksploitasi ekonomi menyebabkan masyarakat kehilangan kemandirian dan akhirnya tercerai-berai ke berbagai wilayah.
Faktor kedua, masyarakat bisa tetap hidup dengan sangat sehat, namun bahasa mereka tetap bisa mati karena asimilasi budaya. Penduduk pedesaan sering bermigrasi ke kota untuk mencari kesempatan kerja yang lebih layak. Apabila mereka berpindah ke lingkungan perkotaan, mereka mau tidak mau beradaptasi dengan budaya dominan setempat. Karena mereka harus bertahan hidup, penggunaan bahasa ibu lambat laun menurun secara drastis. Hingga pada akhirnya, banyak orang tua merasa malu mengajarkan bahasa asli kepada keturunannya karena takut dianggap tertinggal oleh zaman.
Selain karena pengaruh budaya kota besar yang lebih menjunjung nilai modernitas dan keragaman, pengaruh bahasa mayoritas juga menguat seiring perkembangan pesat teknologi informasi. Media televisi, Sosial media membanjiri ruang keluarga dengan bahasa nasional setiap hari. Karena frekuensi paparan tersebut sangat tinggi, pemuda lebih akrab dengan bahasa asing dibandingkan bahasa leluhur mereka. Jika fasilitas publik hanya menggunakan bahasa resmi, maka eksistensi bahasa lokal perlahan terpinggirkan dengan cepat. Dan pada akhirnya bahasa daerah kehilangan fungsinya dalam masyarakat lambat laun.
Dampak yang Bukan Main
Suatu bahasa pastinya selalu mencerminkan identitas kolektif masyarakat pemakainya. Kehilangan bahasa berarti kehilangan jati diri juga. Telah ditemukan arsip sejarah, bukti bahwa banyak bahasa pedalaman memiliki kosakata khusus untuk menyebut jenis tanaman yang tidak diketahui oleh ilmu biologi modern. Mulai dari cara pengobatan tradisional, ribuan nama tanaman langka dan hewan lokal, dan metode pertanian yang mungkin lebih maju juga terekam dengan amat rapi. Apabila sebuah bahasa dibiarkan punah, seluruh panduan mengenai pemeliharaan ekosistem alam ini akan lenyap selamanya. Hal ini disebabkan tidak adanya kesepadanan kata yang tepat pada bahasa populer dan kurangnya kesadaran dalam mengembangkan penggunaan bahasa-bahasa lokal tersebut ke kancah yang lebih ilmiah
Apakah dengan segala kegawatan diatas, lantas tiada opsi yang bisa dipraktikkan? tentu masih ada harapan. Sebuah bahasa tetap dapat bertahan hidup jika masyarakat madani menyadari pentingnya merawat identitas budaya mereka. Pemakaian dua bahasa secara berdampingan, bilingualisme, harus terus didorong agar bahasa global/dominan dan bahasa daerah bisa diucapkan secara bersamaan. Bahasa daerah sangat perlu dikembalikan ke area publik dan diintegrasikan kembali ke dalam kurikulum pendidikan usia dini. Ini demi menciptakan ekosistem heterogenitas dan masyarakat yang divergen, tidak melulu mengkiblatkan barat. Apabila semua komponen masyarakat bersatu padu, laju kepunahan ini pasti dapat dicegah demi melestarikan warisan pemikiran umat manusia di bumi.
Referensi:
Crystal, D. (2002). Language death. Cambridge university press.
Wurm, S. A. (1991). Language death and disappearance: Causes and circumstances. Diogenes, 39(153), 1-18.
Sumber Foto: https://64.media.tumblr.com/5795ed18b8f45e17a263e9c5c6387cf0/tumblr_o9jsqbgPha1rwewyj_og_1280.jpg
