Kalah Canggih: Menakar Kegagalan Armada Pati Unus di Malaka
Kalah Canggih: Menakar Kegagalan Armada Pati Unus di Malaka

Oleh: Syarieq Daffa Aqshal

Mahasiswa Program Studi Sejarah dan Peradaban Islam Fakultas Adab dan Humaniora UIN SYarif Hidayatullah Jakarta

 

Pendahuluan

Secara ideal, sebuah kedaulatan maritim dan jalinan perdagangan regional yang kuat harus dipertahankan dengan segala daya upaya melalui persatuan geopolitik yang matang. Namun pada kenyataannya, sejarah mencatat sebuah anomali besar di Selat Malaka pada awal abad ke-16. Peristiwa tersebut adalah kegagalan ekspedisi militer laut pertama Kesultanan Islam Demak yang dipimpin oleh Pati Unus pada 1513 M. Pertempuran laut dahsyat ini terjadi di perairan Kesultanan Malaka, yang saat itu telah jatuh ke tangan Portugis, dengan melibatkan armada gabungan pasukan Islam Jawa dari Demak, Jepara, Cirebon, dan Banten, serta mendapat bantuan pasukan dari Palembang. Mereka bergerak bersama untuk melawan pasukan maritim Katolik Portugis di bawah komando Fernao Peres de Andrade. Pertanyaan mendasar yang muncul adalah mengapa armada raksasa Nusantara yang secara kuantitas sangat perkasa justru mengalami kekalahan telak, dan bagaimana proses benturan militer tersebut terjadi hingga memaksa Demak mundur. Artikel ini membedah posisi subjek fokus kajian pada dinamika pertempuran 1513 M tersebut untuk melihat ketimpangan penguasaan teknologi persenjataan yang menjadi determinan utama kekalahan, sebuah realitas historis yang belum dieksplorasi secara mendalam dalam narasi media massa kontemporer.

Pembahasan dan Proses Konflik

Menggunakan pendekatan sejarah militer dan analisis teknologi persenjataan zaman kuno, kronologi serta data taktis pertempuran ini dapat diurai dengan jelas. Merespons jatuhnya Malaka pada 5 Agustus 1511 M ke tangan Portugis, Sultan Fattah segera memerintahkan Pati Unus untuk memimpin i'dad atau persiapan perang. Pati Unus yang dianugerahi gelar Senopati Sarjawala kemudian berkolaborasi dengan Raden Husen (Kin San), Sunan Kalijaga, dan Ja'far Shodiq (Sunan Kudus) di galangan kapal Semarang. Selama tiga tahun, dari tahun 1509 hingga 1513 M, mereka memproduksi kapal-kapal berjenis Jung besar dengan bobot mencapai 500 ton yang dilengkapi meriam. Bahkan, sejarawan Portugis de Barros mencatat dalam surat tertanggal 22 Februari 1513 M bahwa kapal induk komando milik Pati Unus berukuran sangat menakjubkan, memiliki lapisan pelindung tiga lapis setebal cruzado, dan mampu mengangkut 1.000 pasukan. Total kekuatan yang dikerahkan dari Pelabuhan Jepara menuju Malaka melalui Palembang dan Sungai Kampar mencapai 100 kapal Jung dengan estimasi total 12.000 personel pasukan gabungan.

Artikel syarieq 1

Ilustrasi Pasukan Demak vs Portugis berlokasi Selat Malaka Foto: Intisari

 

Pihak Portugis di bawah komando maritim Ferdinando Perez menghadang pergerakan ini dengan mengerahkan 17 armada kapal dan 350 serdadu Eropa beserta bantuan orang-orang pribumi. Meskipun secara kuantitas kalah jauh, Portugis memiliki keunggulan taktis yang luar biasa karena mereka telah menempatkan moncong-moncong meriam jarak jauh di Benteng A Famosa (Fortaleza) yang menghadap langsung ke arah selatan. Ketika perang laut berkecamuk, kelemahan mendasar armada maritim konvensional Demak langsung terekspos. Menembakkan meriam dari atas kapal Jung yang bergoyang akibat gelombang lautan membuat akurasi tembakan pasukan Islam tidak dapat tepat sasaran. Sebaliknya, meriam Portugis yang bertumpu stabil di daratan benteng mampu melontarkan ratusan bola besi berapi secara akurat dari jarak ratusan meter bahkan sebelum kapal-kapal Jawa sempat mendekat. Akibatnya, Portugis berhasil memukul mundur armada Jawa dan menggiring mereka ke Sungai Muar untuk kemudian membakar serta menenggelamkan sekitar 30 kapal Jung Demak yang merenggut nyawa 4.000 prajurit Islam. Menyadari superioritas strategi pertahanan musuh, Pati Unus terpaksa mengambil keputusan taktis untuk menarik mundur sisa 60 armada kapal dan 8.000 pasukannya kembali ke Jawa.

Dampak Masalah

Melalui penelusuran data historis tersebut, penulis mengambil posisi untuk menjelaskan dan membuktikan bahwa semangat nasionalisme, solidaritas keagamaan, serta kuantitas pasukan yang masif akan luluh lantak jika berhadapan dengan ketertinggalan adaptasi teknologi modern. Dampak dari kekalahan Pati Unus pada tahun 1513 M ini membawa krisis ekonomi yang sangat masif bagi Nusantara. Hubungan dagang internasional antara Jawa dengan Malaka, India, Tiongkok, Bengala, dan Timur Tengah kian memburuk. Surplus hasil panen agraria di pedalaman Jawa tidak lagi dapat diekspor ke Malaka, sehingga mematikan profit ekonomi makro Kesultanan Demak pada masa itu.

Kesimpulan

Realitas tahun 1513 M ini merefleksikan fenomena Technology Warfare yang sedang terjadi di era modern saat ini. Persaingan global abad ke-21 tidak lagi bertumpu pada adu fisik militer, melainkan pada tingkat penguasaan kecerdasan buatan (AI), digitalisasi ekonomi, dan kedaulatan siber. Jika generasi muda Indonesia saat ini hanya mengandalkan modal nekat, euforia semangat, dan jargon nasionalisme tanpa adanya urgensi untuk menguasai kompetensi teknologi mutakhir, kita akan mengalami repetisi sejarah berupa terjajah dan tersingkir secara ekonomi serta digital oleh penetrasi global. Sejarah maritim Demak mengajarkan secara tegas kepada mahasiswa dan seluruh anak muda bahwa penguasaan teknologi adalah kunci mutlak untuk menjaga eksistensi dan kehormatan sebuah bangsa.

Referensi

  1. Buku Utama: Abdullah, Rachmad. (2015). Kerajaan Islam Demak: Api Revolusi Islam di Tanah Jawa (1518-1549 M). Cetakan IX (Juli 2022). Solo: Al-Wafi Publishing. (Khususnya Bab III: "Pati Unus Memerangi Portugis", Sub-bab 1.1 "Persiapan Perang" dan Sub-bab 1.2 "Perang Laut Berkecamuk di Perairan Malaka (1513 M)", Halaman 41–49). 
  2. Dokumen Surat Klasik Portugis (Diutip dalam Buku): Surat Kapten Armada Portugis, Fernao Peres de Andrade kepada Afonso de Albuquerque tertanggal 22 Februari 1513 M (Cartas, III, 59; Barros II, ix, 4. Carteseo, hal. 152). 
  3. Catatan Kontemporer Pendukung (Diutip dalam Buku):
    • Pires, Tome. Suma Oriental (Membahas kondisi geografis Sungai Kampar dan dampak ekonomi pasca-perang 1513 M). 
    • Muljana, Slamet. (2005). Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-negara Islam di Nusantara. PT LKIS Pelangi Aksara. 
    • Shiddiq, Abdul Rasyad. (1997). Sunan Kudus. PT Gunara Kata.

Sumber Fotolustrasi Pembuatan Kapal Pati Unus. Foto: Nyala Nusantara