Dua Ulama, Satu Cita: Warisan Perjuangan Hasyim Asy'ari & Ahmad Dahlan yang Masih Hidup Hingga Kini
Oleh: Muhammad Anizi Riziq
Mahasiswa Program Studi Sejarah Peradaban Islam Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Ada yang bilang sejarah hanyalah catatan masa lalu. Tapi bagi umat Islam Indonesia, nama K.H. Hasyim Asy'ari dan K.H. Ahmad Dahlan bukan sekadar dua baris di buku teks. Keduanya adalah arsitek dari dua pilar besar yang hingga kini masih menopang kehidupan beragama, pendidikan, dan kebangsaan di Nusantara.
Mereka tumbuh di era yang sama — masa ketika Belanda mencengkeram tanah Jawa, ketika rakyat miskin buta huruf, dan ketika umat Islam tercerai-berai tanpa arah. Namun dari dua pesantren yang berbeda, dua tokoh ini bangkit dengan cara masing-masing, menggerakkan sesuatu yang jauh lebih besar dari diri mereka sendiri.
Bocah 13 Tahun yang Sudah Mengajar Santri
Kisah Hasyim Asy'ari dimulai dengan hal yang tak lazim. Sebelum lahir pun, ia sudah disebut-sebut istimewa. Ibunya, Nyai Halimah, bermimpi bulan jatuh ke perutnya — sebuah pertanda yang dalam tradisi Jawa diyakini sebagai isyarat hadirnya pemimpin besar. Dan sang bayi, yang kemudian diberi nama Muhammad Hasyim, berada dalam kandungan selama 14 bulan.
Lebih jauh lagi, nasab Hasyim Asy'ari bukan sembarang nasab. Garis keturunannya tersambung hingga ke Kerajaan Majapahit melalui Brawijaya VI, serta ke Kesultanan Demak melalui Joko Tingkir. Artinya, dalam dirinya mengalir dua warisan besar Nusantara sekaligus: kejayaan kerajaan pra-Islam dan kekuatan kesultanan Islam pertama di Jawa. Sebuah kombinasi yang seolah mempersiapkannya untuk menjadi penyambung antara dua era besar dalam sejarah bangsa ini.
Lahir pada 10 April 1875 di Desa Gedang, Jombang, Hasyim kecil tumbuh dalam lingkungan keilmuan yang kental. Ayahnya, Kiai Asy'ari, dan kakeknya, Kiai Usman, adalah ulama terpandang. Tak heran, di usia 13 tahun ia sudah dipercaya mengajar santri di Pesantren Keras — usia yang bagi kebanyakan anak sekarang masih sibuk bermain gadget.
Haus ilmu membawanya mengembara ke berbagai pesantren di Jawa dan Madura. Selama lima tahun ia berguru kepada Syaikhona Kholil Bangkalan, ulama kharismatik yang dikenal memiliki kedalaman spiritual luar biasa. Perjalanan intelektualnya mencapai puncak ketika ia tiba di Makkah, belajar di bawah bimbingan Syekh Mahfudz at-Tarmasi dan Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi. Bukan hanya belajar — ia bahkan dipercaya mengajar di Masjidil Haram. Sebuah kehormatan yang tidak sembarang orang bisa meraihnya.
Ketika pulang ke tanah air, ia tidak membawa oleh-oleh biasa. Pada 1899, ia mendirikan Pesantren Tebuireng di Jombang yang kelak menjadi salah satu pesantren paling berpengaruh di Indonesia. Dan pada 1926, ia menggagas berdirinya Nahdlatul Ulama (NU) — sebuah organisasi yang kini memiliki puluhan juta anggota dan menjadi salah satu ormas Islam terbesar di dunia.
"Cinta tanah air adalah bagian dari iman." — Semangat yang menjiwai seluruh perjuangan K.H. Hasyim Asy'ari.
Tapi perjuangannya tidak berhenti di mimbar pesantren. Ketika Jepang datang dan mewajibkan seikerei — penghormatan kepada Kaisar Hirohito dengan membungkuk ke arah Tokyo — Hasyim Asy'ari menolak tegas. Baginya, membungkuk kepada selain Allah adalah penghinaan terhadap akidah. Ia rela ditangkap dan disiksa demi pendirian itu.
Puncaknya, pada 22 Oktober 1945 — seminggu setelah proklamasi kemerdekaan — ia mengeluarkan Resolusi Jihad. Sebuah fatwa bersejarah yang menyatakan bahwa mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari ancaman pasukan Sekutu yang ingin mengembalikan penjajah adalah kewajiban agama. Seruan itu membakar semangat rakyat Surabaya dan sekitarnya, berujung pada pertempuran 10 November yang kini kita peringati sebagai Hari Pahlawan.
Di luar peran politiknya, Hasyim Asy'ari juga dikenal sebagai penulis produktif. Ia mewariskan berbagai kitab penting seperti Adabul 'Alim wal Muta'allim, yang membahas etika seorang penuntut ilmu dan pengajar — sebuah karya yang hingga kini masih menjadi rujukan di banyak pesantren tradisional. Baginya, ilmu tanpa adab adalah kesia-siaan, sebuah prinsip yang tercermin dalam seluruh sepak terjangnya, baik sebagai guru, pemimpin organisasi, maupun penggerak perlawanan.
Muhammad Darwis yang Pulang Membawa Pembaruan

Gambar 2. K.H. Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah (1868–1923)
Sementara di Jombang seorang Hasyim tumbuh di antara kitab kuning dan ilalang pesantren, di sudut lain Jawa seorang bocah bernama Muhammad Darwis lahir di Kauman, Yogyakarta, pada 1868. Ia adalah putra K.H. Abu Bakar, Khatib Masjid Agung Kesultanan Yogyakarta — artinya sejak dalam buaian, ia sudah hidup di lingkungan yang dekat dengan kekuasaan dan keilmuan sekaligus.
Silsilahnya pun bukan sembarangan: nasabnya tersambung hingga Sunan Giri dan Maulana Malik Ibrahim, dua wali besar penyebar Islam di tanah Jawa. Setelah belajar dari ayahnya dan kemudian dari K.H. Saleh Darat di Semarang, Muhammad Darwis muda berangkat ke Makkah untuk menunaikan haji sekaligus menimba ilmu.
Di sinilah jalan takdir mempertemukan dua tokoh besar ini secara tidak langsung: di bangku perguruan K.H. Saleh Darat, Ahmad Dahlan dan Hasyim Asy'ari adalah teman seperguruan. Dua murid dari guru yang sama, namun kelak akan mendirikan dua organisasi berbeda yang mewarnai Islam Indonesia hingga kini.
Di Makkah selama lima tahun, nama Darwis berganti menjadi Ahmad Dahlan, pemberian dari gurunya Sayyid Bakri. Lebih dari sekadar nama baru, ia juga membawa pulang pikiran-pikiran baru. Ia terpapar gagasan pembaruan Islam dari Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha — dua pemikir Mesir yang mendorong umat Islam untuk kembali ke Al-Qur'an dan Hadis, meninggalkan praktik yang tidak berdasar, serta membuka diri terhadap ilmu pengetahuan modern.
Setibanya di Indonesia, ide-ide itu ia terapkan. Bukan tanpa gesekan — masyarakat yang terbiasa dengan tradisi lama tidak mudah menerima perubahan. Tapi Ahmad Dahlan sabar. Ia mendirikan sekolah yang mengajarkan ilmu agama sekaligus ilmu umum — sesuatu yang ketika itu dianggap ganjil. Ia mendirikan klinik dan panti asuhan untuk kaum miskin yang selama ini diabaikan.
Pada 18 November 1912, ia resmi mendirikan Muhammadiyah. Sebuah organisasi yang tidak hanya berbicara soal ritual, tapi juga soal kesehatan, pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat. Kini, lebih dari seabad kemudian, Muhammadiyah telah memiliki ribuan sekolah, universitas, dan rumah sakit yang tersebar di seluruh penjuru Indonesia.
Salah satu kisah paling dikenang dari Ahmad Dahlan adalah caranya mengajarkan Surat Al-Ma'un. Konon, ia mengulang-ulang pembahasan surat pendek itu berkali-kali kepada murid-muridnya, hingga salah satu santrinya bertanya keheranan. Jawaban Ahmad Dahlan sederhana namun menohok: ia tidak ingin surat itu hanya dihafal, melainkan diamalkan. Dari situlah lahir gerakan nyata berupa pendirian panti asuhan dan klinik kesehatan bagi fakir miskin dan anak yatim — sebuah tafsir Al-Qur'an yang diwujudkan dalam aksi, bukan sekadar lisan.
Ahmad Dahlan juga dikenal sebagai sosok yang berpikiran terbuka untuk zamannya. Ia tidak segan mengadopsi sistem pendidikan ala Barat — bangku, papan tulis, kurikulum berjenjang — yang ketika itu dianggap tabu oleh sebagian kalangan karena dianggap meniru cara kafir. Namun bagi Ahmad Dahlan, alat dan metode bukanlah masalah, selama nilai dan tujuannya tetap berlandaskan Islam. Prinsip inilah yang membuat sekolah-sekolah Muhammadiyah mampu bersaing dan bertahan hingga hari ini.
Berbeda Jalan, Satu Tujuan
Mudah sekali untuk membenturkan NU dan Muhammadiyah — dua organisasi yang lahir dari pandangan yang berbeda soal bagaimana Islam seharusnya dipraktikkan. Tapi yang sering terlupakan adalah bahwa pendiri keduanya saling menghormati dan menjaga persaudaraan.
Hasyim Asy'ari memilih jalan tradisi: mempertahankan khazanah keilmuan ulama klasik, menjaga keseimbangan antara hukum Islam dan kearifan lokal Nusantara. Ahmad Dahlan memilih jalan pembaruan: membersihkan praktik yang ia anggap menyimpang, membuka Islam kepada kemajuan zaman.
Dua pendekatan yang berbeda, namun keduanya sama-sama berjuang untuk satu hal: meninggikan martabat umat Islam Indonesia yang selama ratusan tahun ditekan oleh kolonialisme.
Hasyim Asy'ari menggerakkan perlawanan fisik melalui Resolusi Jihad. Ahmad Dahlan menggerakkan perlawanan intelektual melalui pendidikan dan pembaruan. Keduanya saling melengkapi: tanpa perlawanan fisik, kemerdekaan tak akan pernah tercapai; tanpa pembaruan intelektual, kemerdekaan hanya akan menghasilkan bangsa yang bebas secara politik tapi tetap terbelakang.
Cermin untuk Dai dan Ulama Hari Ini
Membaca ulang perjalanan Hasyim Asy'ari dan Ahmad Dahlan, sulit untuk tidak membuat perbandingan dengan wajah dakwah hari ini. Dulu, seorang Hasyim Asy'ari rela menempuh perjalanan bertahun-tahun, berpindah dari satu pesantren ke pesantren lain, hingga menuntut ilmu langsung di Masjidil Haram, sebelum akhirnya berani bicara di hadapan umat. Ahmad Dahlan pun demikian — lima tahun digembleng di Makkah sebelum berani menggagas pembaruan di kampung halamannya sendiri.
Bandingkan dengan sebagian fenomena dakwah di era media sosial sekarang, di mana ketokohan kerap dibangun bukan dari kedalaman sanad keilmuan, melainkan dari jumlah pengikut, kepiawaian membuat konten viral, atau keberanian melontarkan pernyataan kontroversial. Tidak sedikit dai dadakan yang lebih sibuk menjaga citra di layar kaca ketimbang menimba ilmu di majelis-majelis ulama sejati.
Ini bukan untuk menggeneralisasi seluruh ulama dan dai masa kini — banyak juga yang tetap istiqomah menjaga tradisi keilmuan sambil beradaptasi dengan zaman. Namun fenomena "ulama instan" yang lebih mengandalkan panggung ketimbang sanad keilmuan patut menjadi bahan renungan bersama, baik bagi para pendakwah maupun bagi umat yang memilih siapa yang layak didengar.
Hasyim Asy'ari dan Ahmad Dahlan mengajarkan bahwa otoritas keagamaan yang sejati lahir dari proses panjang: belajar, mengabdi, dan baru kemudian berbicara. Bukan sebaliknya — berbicara lebih dulu, baru belajar belakangan, atau bahkan tidak belajar sama sekali. Di tengah derasnya arus dakwah digital, semangat ini layak menjadi pengingat: kedalaman ilmu dan keteladanan akhlak tetap menjadi fondasi yang tidak bisa digantikan oleh popularitas semata.
Warisan yang Masih Hidup
Hari ini, ketika kita berbicara soal toleransi, pendidikan Islam, atau semangat kebangsaan, kita sebenarnya sedang berbicara tentang warisan dua orang ini. NU dan Muhammadiyah — yang kerap dianggap berseberangan — sesungguhnya adalah dua sayap dari satu tubuh yang sama: Islam Indonesia.
Dan di tengah era digital yang penuh dengan kebisingan informasi, radikalisme yang mengancam, dan perpecahan yang mudah terprovokasi, pesan dari Hasyim Asy'ari dan Ahmad Dahlan justru semakin relevan: Islam yang kuat bukan Islam yang keras, tapi Islam yang berilmu, berakhlak, dan bersatu.
Mereka sudah menunjukkan jalannya. Kini giliran kita yang meneruskannya.
Sumber Gambar:
Gambar 1: @ltn_numakassar (dok. arsip keluarga KH. Amir Ilyas/Annuqayah)
Gambar 2: PP Muhammadiyah via PWMU.CO
Daftar Pustaka:
- Anam, Choirul. (1985). Pertumbuhan dan Perkembangan Nahdlatul Ulama. Surabaya: Jatayu.
- Asrofie, M. Yusron. (1983). Kyai Haji Ahmad Dahlan: Pemikiran dan Kepemimpinannya. Yogyakarta: MPKSDI PP Muhammadiyah.
- Dhofier, Zamakhsyari. (1982). Tradisi Pesantren: Studi tentang Pandangan Hidup Kyai. Jakarta: LP3ES.
- Federspiel, Howard M. (1970). Persatuan Islam: Islamic Reform in Twentieth Century Indonesia. Ithaca: Cornell University Press.
- Khuluq, Lathiful. (2000). Fajar Kebangunan Ulama: Biografi K.H. Hasyim Asy'ari. Yogyakarta: LKiS.
- Mulkhan, Abdul Munir. (1990). Pemikiran K.H. Ahmad Dahlan dan Muhammadiyah dalam Perspektif Perubahan Sosial. Jakarta: Bumi Aksara.
- Noer, Deliar. (1980). Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942. Jakarta: LP3ES.
- Ricklefs, M.C. (2008). Sejarah Indonesia Modern 1200-2008. Jakarta: Serambi.
- Iskandar, Mohammad. (2001). Para Pengemban Amanah: Pergulatan Pemikiran Kiai dan Ulama di Jawa Barat. Yogyakarta: Mata Bangsa.
- Rais, M. Amien. (1987). Cakrawala Islam: Antara Cita dan Fakta. Bandung: Mizan.
