Dosen Fakultas Adab dan Humaniora Hadiri International Badiuzzaman Symposium Qur’anic Solution to Global Crisis
Dosen Fakultas Adab dan Humaniora Hadiri International Badiuzzaman Symposium Qur’anic Solution to Global Crisis

Istanbul, Turki, 5 Oktober 2026, Berita FAH Online – Krisis pengungsi menjadi salah satu persoalan kemanusiaan global yang membutuhkan pendekatan tidak hanya dari sisi politik, hukum, ekonomi, dan keamanan, tetapi juga dari perspektif etika, spiritualitas, dan penghormatan terhadap martabat manusia. Gagasan tersebut mengemuka dalam 13th International Badiuzzaman Symposium “Qur'anic Solution to Global Crisis” yang berlangsung pada 4–6 Oktober 2026 di Istanbul, Turki.

Dalam forum internasional yang mempertemukan akademisi dan ulama dari berbagai negara tersebut, Dr. Mauidlotun Nisa', Lc., M.Hum., dosen Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, turut berkontribusi melalui pemaparan hasil kajiannya yang berjudul “The Global Crises and Refugees: The Relevance of Said Nursi's Thought to Humanitarian Policy in Turkey.”

Dalam presentasinya, Dr. Mauidlotun Nisa' mengkaji relevansi pemikiran Badiuzzaman Said Nursi, khususnya yang tertuang dalam Risale-i Nur, terhadap persoalan pengungsi dan krisis kemanusiaan global. Menurutnya, pemikiran Nursi menawarkan landasan etis yang relevan untuk membangun kebijakan kemanusiaan yang lebih berkeadilan dan berorientasi pada penghormatan terhadap manusia.

Ia menjelaskan bahwa Risale-i Nur menempatkan sejumlah nilai fundamental seperti rahmah (kasih sayang), ukhuwah (persaudaraan), ikhlas (ketulusan), ‘adl (keadilan), serta penghormatan terhadap martabat manusia sebagai prinsip penting dalam kehidupan sosial. Nilai-nilai tersebut berakar pada iman dan tauhid serta membentuk apa yang dapat dipahami sebagai kerangka humanisme Qur'ani.

Dalam kerangka tersebut, perlindungan dan penghormatan terhadap sesama manusia tidak hanya dipandang sebagai kewajiban sosial, tetapi juga sebagai tanggung jawab moral dan spiritual.

“Penanganan pengungsi tidak dapat dilakukan semata-mata melalui pendekatan politik, hukum, ekonomi, dan keamanan. Diperlukan pula landasan etika, solidaritas, empati, dan penghormatan terhadap hak asasi manusia,” demikian substansi yang disampaikan dalam kajian tersebut.

Relevansi Pemikiran Nursi dengan Kebijakan Pengungsi Turki

Lebih lanjut, dosen yang mengampu mata kuliah Penerjemahan Diplomasi Kenegaraan tersebut mengaitkan nilai-nilai dalam Risale-i Nur dengan kebijakan pengungsi yang diterapkan Turki.

Menurutnya, terdapat relevansi antara nilai-nilai kemanusiaan yang dikembangkan dalam pemikiran Said Nursi dengan kebijakan pengungsi Turki, termasuk kebijakan pintu terbuka (open-door policy) dan skema Perlindungan Sementara (Temporary Protection).

Meski demikian, implementasi kebijakan tersebut tidak terlepas dari berbagai tantangan, terutama yang berkaitan dengan aspek keamanan, ekonomi, sosial, dan politik.

Dalam konteks inilah, pemikiran Said Nursi dinilai dapat memberikan kontribusi sebagai landasan etis untuk mendorong kebijakan pengungsi yang lebih inklusif, adil, manusiawi, dan berkelanjutan.

Nilai-nilai universal yang terkandung dalam Risale-i Nur juga dapat menjadi paradigma alternatif dalam merespons krisis pengungsi global. Paradigma tersebut menempatkan keadilan, solidaritas internasional, empati, serta penghormatan terhadap martabat manusia sebagai fondasi utama dalam penyelesaian persoalan kemanusiaan.

Mempertemukan Pemikiran Qur'ani dengan Persoalan Global

13th International Badiuzzaman Symposium menjadi salah satu forum internasional yang mempertemukan berbagai perspektif mengenai pemikiran Said Nursi dan relevansinya dengan persoalan kontemporer.

Kegiatan yang berlangsung di AKM Taksim, Istanbul, pada 4 Oktober 2026 tersebut dibuka oleh Menteri Agama Turki bersama para ulama dari berbagai negara. Simposium ini diikuti oleh perwakilan dari sekitar 60 negara yang bersama-sama mendialogkan pemikiran Said Nursi dalam menghadapi berbagai krisis global yang berkembang saat ini.

Keikutsertaan Dr. Mauidlotun Nisa' dalam forum tersebut sekaligus menunjukkan kontribusi akademisi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dalam diskursus internasional mengenai isu kemanusiaan, khususnya dalam mempertemukan kajian Islam, pemikiran Qur'ani, diplomasi, dan kebijakan kemanusiaan.

Melalui perspektif yang ditawarkan dalam kajiannya, pemikiran Said Nursi tidak hanya ditempatkan sebagai warisan intelektual Islam, tetapi juga sebagai sumber nilai yang dapat terus didialogkan dengan berbagai persoalan kemanusiaan kontemporer.

Di tengah kompleksitas krisis pengungsi global, pendekatan yang mengintegrasikan iman, kemanusiaan, keadilan, dan solidaritas menjadi penting untuk menghadirkan kebijakan yang tidak hanya efektif secara politik, tetapi juga bermartabat secara moral dan kemanusiaan.

Penulis: Surya Ananta Wijaya Kusuma / Deny Saputra/ Kasih Nur

Dokumentasi:

Turki 2

Turki 3

Tag :