Dibalik Tabir Bahasa Dan Tanda
Oleh: Andika Pratama
Sebagai makhluk sosial, manusia memiliki dorongan alami yang sangat kuat untuk menyampaikan perasaan dan gagasan kepada orang lain dalam kehidupan sehari-hari. Aktivitas komunikasi ini melibatkan mekanisme kompleks yang sering kali tidak kita sadari karena sudah berjalan secara otomatis sejak kita kecil hingga dewasa. Kita menggunakan berbagai bunyi dan simbol visual untuk mewakili realitas yang ada di dalam benak kita agar pesan tersebut dapat dipahami oleh orang lain. Proses pertukaran informasi ini merefleksikan adanya hubungan yang sangat erat antara bahasa sebagai alat sosial, tanda untuk menghubungkan substansi dengan ide, dan pikiran sebagai pusat pengolah informasi. Apabila kita menelusuri fenomena ini lebih dalam maka kita akan menemukan bahwa ketiga elemen tersebut saling memengaruhi secara resiprokal dan membentuk cara kita memahami dunia. Bahasa dalam pengertian linguistik didefinisikan secara lebih spesifik sebagai sistem simbol bunyi yang bermakna dan berartikulasi. Simbol-simbol ini bersifat arbitrer atau manasuka karena tidak ada hubungan alamiah yang wajib antara sebuah kata dengan benda fisik yang dirujuknya. Dengan kata lain, segala bentuk tertentu yang merujuk pada konsep ide tertentu diputuskan oleh masyarakat secara kolektif.
Dunia Tanda dan Produksi Makna
Dalam cabang ilmu linguistik, terdapat sebuah kajian yang menarik karena ada elemen lekat dalam keseharian kita yang selalu berinteraksi, namun jarang disadari, yaitu ilmu tentang tanda atau semiotika. Ferdinand de Saussure, juga dikenal sebagai bapak linguistik menjelaskan bahwa sebuah tanda terdiri dari dua sisi yang tidak terpisahkan yaitu penanda atau aspek material seperti bunyi dan gambar, serta petanda atau konsep mental dari bunyi tersebut. Kita tidak dapat memisahkan kedua aspek ini karena keduanya saling membentuk identitas tanda tersebut di dalam benak kita saat berkomunikasi. Hubungan yang unik ini memungkinkan kita untuk membayangkan sebuah konsep abstrak meskipun objek fisiknya tidak sedang berada di hadapan kita saat itu juga. Dengan demikian tanda berfungsi sebagai jembatan penting yang menghubungkan dunia fisik di luar diri kita dengan dunia mental di dalam pikiran kita.
Misal anda pergi ke kafe atau warkop terdekat lalu melihat tulisan "kopi hitam panas". Anda tahu tanpa melihat secangkir kopi pun, pikiran Anda langsung terbayang aroma harum yang kuat, rasa pahit yang menyegarkan, serta uap panas yang mengepul dari permukaan minuman tersebut. Mengapa demikian? ini karena kata "kopi hitam panas" terdiri dari penanda yaitu rangkaian huruf dan kata-kata yang terpampang pada daftar menu, serta petanda yaitu konsep mental lengkap tentang minuman tersebut yang terbentuk di kepala Anda secara instan, maka hubungan arbitrer antara penanda dan petanda ini memungkinkan interaksi berlangsung efektif meskipun objek fisik kopi tidak ada di depan mata. Oleh sebab itu tanda berfungsi sebagai penghubung utama antara dunia luar yang nyata dengan dunia pikiran di dalam benak kita, sehingga kita bisa saling memahami ide, perasaan, atau pengalaman tanpa harus menunjukkan benda aslinya setiap kali, apabila konsep ini diterapkan pada kata-kata lain seperti "rumah" atau "cinta", maka kita melihat betapa kuatnya tanda dalam membentuk pemahaman bersama di kehidupan sehari-hari.
Hubungan Timbal Balik dengan Pikiran
Hubungan antara bahasa dan pikiran juga menjadi perdebatan menarik di kalangan para ahli karena keduanya tampak saling mempengaruhi satu sama lain. Wilhelm von Humboldt berpendapat bahwa pandangan hidup dan cara berpikir masyarakat sangat ditentukan oleh struktur bahasa yang mereka gunakan. Hal ini menyiratkan bahwa kita seolah terbelenggu oleh bahasa kita sendiri dalam memandang dan mengkategorikan realitas dunia.
Namun Jean Piaget memiliki pandangan yang berbeda dengan menyatakan bahwa pikiranlah yang membentuk bahasa karena bahasa tidak akan ada tanpa adanya pikiran yang mendahuluinya. Menurut Piaget perkembangan kognitif seorang anaklah yang akan mempengaruhi perkembangan kemampuan bahasanya dalam memahami konsep-konsep yang lebih rumit. Pandangan lain mencoba menjembatani dua kutub pemikiran tersebut dengan melihat adanya interaksi yang dinamis dan bertahap. Vygotsky mengemukakan bahwa pada awalnya pikiran dan bahasa berkembang secara terpisah sebelum akhirnya bertemu dan saling mempengaruhi satu sama lain pada tahap perkembangan tertentu. Ketika keduanya menyatu maka terjadilah proses pikiran berbahasa dan bahasa berpikir yang memungkinkan manusia melakukan penalaran yang kompleks.
Pemahaman yang komprehensif mengenai bahasa, semiotika, dan pikiran membuka wawasan kita tentang hakikat komunikasi manusia yang sesungguhnya. Kita menyadari bahwa setiap kata yang kita ucapkan merupakan hasil dari proses mental yang rumit dan kesepakatan sosial yang telah berlangsung lama. Tanda-tanda di sekitar kita bukanlah objek mati yang pasif melainkan sarana aktif yang membentuk persepsi kita terhadap realitas. Oleh karena itu mempelajari hubungan ketiga elemen ini menjadikan kita lebih peka dalam memaknai pesan dan berinteraksi dengan orang lain. Kesadaran ini pada akhirnya akan meningkatkan kualitas hubungan sosial kita di tengah keberagaman tafsir dan makna yang ada di masyarakat.
Referensi
Hasbullah, M. (2020). Hubungan bahasa, semiotika dan pikiran dalam berkomunikasi. Al-Irfan, 3(1), 106-124.
Mudjiyanto, B., & Nur, E. (2013). Semiotika dalam metode penelitian komunikasi. Jurnal Penelitian Komunikasi, Informatika dan Media Massa, 16(1), 73-82.
Chandler, D. (2022). Semiotics: the basics. Routledge.
Piaget, J. (2005). Language and Thought of the Child: Selected Works vol 5. Routledge.
Vygotsky, L. S. (2012). Thought and language (Vol. 29). MIT press.
von Humboldt, W. (1996). FROM ““THOUGHT AND LANGUAGE”” TO ““THINK ING FOR SPEAKING”. Rethinking linguistic relativity, (17), 70.
Sumbwr Foto: Grok AI
