Di Balik Megahnya Batavia: Kisah "Kuburan Orang Eropa" yang Jarang Diketahui
Di Balik Megahnya Batavia: Kisah "Kuburan Orang Eropa" yang Jarang Diketahui

Penulis: Safina Annaja

Mahasiswa Program Studi Sejarah Dan Peradaban Islam

Fakultas Adab dan Humaniora

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Batavia merupakan nama yang tidak asing dalam sejarah Indonesia. Kota yang menjadi asal mula Jakarta ini pernah menjadi pusat pemerintahan dan perdagangan VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) di Asia selama berabad-abad. Dengan bangunan-bangunan megah bergaya Eropa, kanal-kanal yang tertata rapi, serta aktivitas perdagangan yang begitu ramai, Batavia digambarkan sebagai simbol kejayaan kolonial Belanda di Nusantara. Namun, di balik kemegahan tersebut tersimpan sebuah fakta sejarah yang jarang diketahui oleh masyarakat. Pada abad ke-17 hingga ke-18, Batavia justru dikenal dengan julukan "Kuburan Orang Eropa" (Het Kerkhof der Europeanen), karena tingginya angka kematian orang-orang Eropa yang menetap di kota tersebut.

Julukan tersebut muncul bukan tanpa alasan. Setelah berhasil merebut Jayakarta pada tahun 1619, Jan Pieterszoon Coen membangun Batavia sebagai pusat administrasi dan perdagangan VOC di Asia. Kota ini dirancang menyerupai kota-kota di Belanda dengan kanal-kanal yang menghubungkan berbagai kawasan. Kanal tersebut tidak hanya berfungsi sebagai jalur transportasi, tetapi juga menjadi jaringan saluran air. Pada awal pembangunannya, konsep tersebut dianggap sebagai lambang kemajuan dan modernitas. Akan tetapi, kondisi alam Batavia yang beriklim tropis ternyata sangat berbeda dengan Belanda. Curah hujan yang tinggi, suhu udara yang panas, serta banyaknya rawa menyebabkan kanal-kanal berubah menjadi tempat genangan air yang kotor dan tidak terawat.

Lingkungan yang tidak sehat tersebut menjadi tempat berkembang biaknya berbagai penyakit tropis. Penyakit seperti malaria, disentri, kolera, tifus, hingga demam berdarah menyebar dengan sangat cepat. Pada masa itu ilmu kedokteran masih sangat terbatas sehingga penyebab penyakit belum sepenuhnya dipahami. Pengobatan yang tersedia pun belum mampu mengatasi wabah yang terus bermunculan. Akibatnya, angka kematian di Batavia meningkat drastis, terutama di kalangan orang-orang Eropa yang baru datang dari Belanda dan belum memiliki kekebalan terhadap penyakit tropis.

Tidak sedikit pegawai VOC, tentara, pedagang, maupun pejabat kolonial yang meninggal hanya dalam waktu beberapa bulan setelah menginjakkan kaki di Batavia. Bahkan beberapa gubernur jenderal VOC juga wafat ketika menjalankan tugas di kota tersebut. Kondisi ini membuat VOC harus terus mengirim pegawai baru dari Eropa untuk menggantikan mereka yang meninggal. Sejarawan mencatat bahwa pada abad ke-18, Batavia termasuk salah satu kota dengan tingkat kematian tertinggi bagi orang Eropa. Karena banyaknya korban jiwa, seorang penulis Prancis, Bruzen de la Martinière, menyebut Batavia sebagai "Kuburan Orang Eropa", sebuah julukan yang kemudian dikenal luas dalam berbagai catatan sejarah. 

Selain penyakit tropis, buruknya sistem sanitasi turut memperparah keadaan. Kanal-kanal yang semula dibangun sebagai sarana transportasi berubah fungsi menjadi tempat pembuangan limbah rumah tangga dan sampah. Air yang tergenang mengeluarkan bau tidak sedap dan menjadi sumber berkembangnya nyamuk serta bakteri penyebab penyakit. Di sisi lain, kepadatan penduduk di dalam tembok kota menyebabkan penyebaran penyakit berlangsung semakin cepat. Masyarakat saat itu belum memahami pentingnya kebersihan lingkungan sebagaimana yang dikenal pada masa sekarang.

Faktor iklim juga menjadi penyebab tingginya angka kematian. Orang-orang Eropa yang terbiasa hidup di wilayah beriklim sedang harus menghadapi cuaca Batavia yang panas dan lembap sepanjang tahun. Perubahan lingkungan yang sangat drastis membuat kondisi fisik mereka menurun sehingga lebih mudah terserang penyakit. Bahkan banyak catatan perjalanan bangsa Eropa yang menggambarkan Batavia sebagai kota yang indah tetapi berbahaya bagi kesehatan. Keindahan bangunan kolonial yang berdiri megah ternyata menyimpan ancaman yang tidak terlihat.

Melihat tingginya angka kematian tersebut, pemerintah kolonial akhirnya melakukan berbagai upaya untuk memperbaiki kondisi kota. Salah satunya adalah memindahkan pusat permukiman orang Eropa ke daerah yang lebih tinggi dan dianggap memiliki kualitas udara yang lebih baik, seperti kawasan Weltevreden yang kini meliputi wilayah Gambir dan Menteng. Kawasan tersebut dinilai lebih sehat dibandingkan Kota Tua Batavia yang berada di dataran rendah dan sering dilanda banjir maupun genangan air. Pemindahan ini secara perlahan mampu mengurangi risiko penyebaran penyakit yang selama bertahun-tahun menghantui Batavia.

Saat ini, kawasan Batavia dikenal sebagai Kota Tua Jakarta. Bangunan-bangunan peninggalan kolonial masih berdiri kokoh dan menjadi salah satu destinasi wisata sejarah yang banyak dikunjungi. Museum Fatahillah, Museum Bank Indonesia, Museum Wayang, hingga berbagai gedung tua menjadi saksi perjalanan panjang kota ini dari masa kolonial hingga menjadi bagian dari ibu kota Indonesia. Meskipun kini tampil sebagai kawasan wisata yang indah, sejarah kelam mengenai julukan "Kuburan Orang Eropa" tetap menjadi bagian penting yang tidak boleh dilupakan.

Kisah Batavia mengajarkan bahwa kemajuan sebuah kota tidak hanya ditentukan oleh megahnya bangunan atau ramainya aktivitas perdagangan, tetapi juga oleh kualitas lingkungan, sanitasi, dan kesehatan masyarakatnya. Julukan "Kuburan Orang Eropa" menjadi bukti bahwa keberhasilan VOC membangun pusat perdagangan terbesar di Asia harus dibayar dengan tingginya angka kematian akibat penyakit dan buruknya kondisi lingkungan. Oleh karena itu, memahami sejarah Batavia bukan hanya mengenang masa lalu, tetapi juga mengambil pelajaran tentang pentingnya menjaga kesehatan lingkungan sebagai fondasi kehidupan sebuah kota.

Daftar Pustaka:

Blackburn, S. (2011). Jakarta: Sejarah 400 tahun. Masup Jakarta.

Hanna, W. A. (2001). Hikayat Jakarta. Yayasan Obor Indonesia.

Lombard, D. (2008). Nusa Jawa: Silang budaya (Vol. 1). Gramedia Pustaka Utama.

Paramitha, D. (2026, April 7). Once, Batavia was one of the deadliest cities in the world. Seasia.

GambarSuasana area pemakaman kolonial di Museum Taman Prasasti, Jakarta Pusat. (Foto: Java Travel)