Bukan Sekadar Tahan Lapar, Dr. Mauidlotun Nisa Ungkap Tiga Tingkatan Puasa untuk Raih Takwa
Bukan Sekadar Tahan Lapar, Dr. Mauidlotun Nisa Ungkap Tiga Tingkatan Puasa untuk Raih Takwa

Tangerang Selatan, Berita FAH online - Memasuki minggu pertama bulan Ramadan, umat Muslim diajak untuk merefleksikan kembali makna hakiki dari ibadah puasa yang dijalankan. Dr. Mauidlotun Nisa, M. Hum, pada Senin (23/02/26) dalam Program Mutiara Ramadhan (jilid 2) yang diselenggarakan oleh Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menekankan bahwa ujung dari perjalanan puasa adalah pencapaian takwa, sebuah kualitas diri yang harus terus dilatih dan diupayakan.

Menurut Dr. Mauidlotun Nisa, puasa secara bahasa berarti menahan diri secara mutlak (al imsak almutlaq), namun secara spiritual, puasa adalah "perisai" atau junnah. Perisai ini menjaga manusia dari tindakan buruk dan hal-hal yang dapat mencelakai jiwa. Ibadah ini bersifat sangat personal antara hamba dengan Sang Pencipta, sehingga Allah sendiri yang akan mengganjar pahalanya secara langsung tanpa batas.

"Puasa merupakan ibadah yang berbeda, karena pahalanya hanya Allah yang dapat mengukurnya," ungkapnya dalam video tersebut.

Mengenal Tingkatan Puasa

Mengutip pemikiran Imam Ghazali, Dr. Mauidlotun Nisa menjelaskan adanya tiga tingkatan dalam memaknai puasa. Tingkatan terendah adalah mereka yang hanya menjalankan ritual fisik menahan lapar dan haus tanpa menjaga lisan dari menggunjing atau perilaku buruk lainnya.

Pada tingkat kedua, seseorang mulai mampu menahan hawa nafsu dan menjaga lisannya dari kata-kata keji. Sementara itu, tingkatan tertinggi yang menjadi ekspektasi Allah adalah puasa di mana hati, pikiran, dan seluruh fisik terjaga hanya untuk Allah (taqarrub ilallah), menjauhi segala hal yang bersifat duniawi selain Allah.

Puasa di Era Digital dan Kepedulian Sosial

Lebih lanjut, ia menyoroti relevansi puasa bagi generasi muda di tengah maraknya penggunaan media sosial. Puasa di era modern berarti melatih kesabaran dalam berkomunikasi digital, seperti menahan diri saat berkomentar, membuat status, hingga memfilter berita agar tidak terjebak dalam kabar bohong.

"Puasa adalah kesabaran. Sabar dalam berkomentar, sabar dalam berstatus, sehingga kita bisa memfilter mana berita yang benar dan tidak," jelasnya.

Menutup penjelasannya, Dr. Mauidlotun Nisa mengajak umat Muslim untuk meningkatkan empati sosial. Puasa sejati seharusnya mendorong seseorang untuk lebih peduli terhadap penderitaan sesama, terutama mereka yang menjadi korban bencana alam maupun krisis kemanusiaan. Dengan memadukan kesalehan individu dan sosial, diharapkan Ramadan kali ini dapat membawa setiap individu menuju tingkatan takwa yang sesungguhnya.

Penulis: Putri Yasmin Azzahra/Kasih Nur/ Deny Saputra

Tag :