BERDIALEKTIKA: HMPS SPI Dan Sasing Menghadiri Diskusi Publik Bersama Pionir Muda UIN Jakarta
BERDIALEKTIKA: HMPS SPI Dan Sasing Menghadiri Diskusi Publik Bersama Pionir Muda UIN Jakarta

Tangerang Selatan, Berita FAH Online- Himpunan Mahasiswa Program Studi SPI dan SASING menghadiri diskusi publik yang diprakarsai PIONIR MUDA UIN Jakarta. Pada Kamis (09/07/2026) bertempat dipelataran gedung Fakultas Ilmu Sosial dan Politik. Dengan mengangkat tema diskusi Generasi Cemas: membedah mental generasi muda dari kacamata kebijakan publik, resiliensi historis dan ruang aman edukasi.

Kegiatan yang merupakan program kerja dari PIONIR MUDA UIN Jakarta Berkolaborasi dengan HMPS SPI, HMPS SASING dan RUBLIKPOL. Menghadirkan 3 narasumber, Kemal Pasha Sekretaris umum HMPS SPI, Muhammad Faris Gaisan Sekretaris Student Research Development Sastra Inggris dan Raden Roro R.Z.W Kadiv Kajian Strategis RUBLIKPOL serta Nayla selaku moderator kegiatan diskusi kali ini, akan membedah tuntas tema Diskusi dialektika ini. Turut hadir menyambut baik kegiatan ini anggota dari setiap organisasi dan Mahasiwa UIN Jakarta.

Dalam sambutannya, Rahmadini selaku ketua pelaksana diskusi dialektika menyampaikan kegiatan ini akan memberikan wawasan baru dan membuka peluang untuk berjejaring antara sesama mahasiswa UIN Jakarta.

“ dilaksanakannya kegiatan diskusi ini untuk menambah wawasan dan insight untuk seluruh mahasiswa dengan berbagai perspektif dan pandangan mahasiswa UIN Jakarta, serta membuka peluang berjejaring antar mahasiswa dalam dunia akademik universitas “ Ujarnya.

Kegiatan dilanjutkan dengan kata sambutan dari masing-masing perwakilan organisasi yang tidak dapat kami sampaikan secara keseluruhan, namun seluruh perwakilan menyampaikan apresiasi dan menyambut dengan baik terlaksannya kegiatan diskusi ini.

Setelah semua kata sambutan disampaikan, kegiatan beralih ke pemaparan materi yang dipandu oleh nayla selaku moderator acara dengan membacakan studi kasus yang sedang terjadi di kehidupan sehari-hari generasi muda saat ini.

“Studi kasus nadia mahasiswi semester empat yang berprestasi namun banyak tuntutan dan tugas kuliah yang membuat perubahan prilaku dari nadia yang membuatnya takut dalam menghadapi permasalahan di dunia perkuliahan”Ujarnya

Dalam pemaparan materi, Raden Roro R.Z.W Selaku narasumber menyampaikan pandangannya bahwa apa yang terjadi di ruang publik itu ikut mempengaruhi kesehatan mental generasi muda Indonesia saat ini.

“adanya korelasi kuat antara kesehatan mental generasi muda dan politik/kebijakan publik, mengingat ketidakpastian masa depan Indonesia—seperti polemik ekonomi (MBG, IHSG, dolar) dan isu Indonesia Emas 2045 yang beredar di media sosial—menjadi tuntutan serta faktor utama pemicu kecemasan Gen Z yang nantinya akan menjadi penerus bangsa. Data global WHO (2018–2021) mencatat sekitar 44,5 juta pemuda di bawah 20 tahun mengalami gangguan mental, sementara data Kemenkes RI (2021–2022) menunjukkan kenaikan kasus sebesar 6,5% yang melonjak drastis pasca-pemilu, bahkan angka kematian akibat bunuh diri karena gangguan mental ini melampaui kasus anak tenggelam. Meskipun urgensi ini nyata, generasi muda sering kali menghadapi stigma dari orang dewasa yang menyederhanakan masalah mental sebagai isu "kurang iman", padahal diperlukan wadah dan perspektif yang lebih luas untuk menanganinya. Sebagai bentuk penanganan secara netral, instrumen negara sebenarnya telah memfasilitasi regulasi melalui UU No. 18 Tahun 2014 tentang Kesehatan Jiwa, namun undang-undang tersebut dicabut pada tahun 2023 dan digantikan oleh UU No. 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan secara umum, yang memicu pertanyaan apakah perubahan ini menguntungkan atau justru merugikan para penderita gangguan mental”Ujarnya.

Berbeda pandangan dengan narasumber sebelumnya,  Muhammad Faris Gaisan selaku narasumber menyampaikan dengan banyaknya kesibukan yang dimiliki oleh seorang pemuda dan distraksi dari media sosial memberikan pengaruh terhadap kesehatan mental healt generasi muda saat ini.

“ dalam kalangan anak muda banyaknya kesibukan yang tidak bisa dikendalikan yang membuat munculnya banyak  keluhan yang dirasakan generasi muda  terhadap pendidikan, keluarga, masa depan  dan lingkungan pertemanan menjadi terpengaruh akibat keluahan yang dirasakan oleh generasi muda Indonesia. Adanya distraksi dari media sosial yang membuat generasi muda terus membandingkan diri sendiri dengan keberhasilan orang lain yang ditampilkan dalam media sosial” Ujarnya

Menambahkan pandangan dari narasumber sebelumnya, Kemal Pasha selaku narasumber menjelaskan bahwa keterlibatan bekas kelamnya sejarah dimasa lampau ikut mempengaruhi mental healt generasi muda Indonesia sehinnga perlunya kita menerapkan stoikisme dalam kehidupan sehari-hari.

“ dalam perspektif sejarah dalam studi gender, dalam masa kolonialisme itu barat ini sangat memegang pemaham patriakai dalam kehidupan sehari2,  budaya patriaki ini lahir di eropa pada tanggal 1763-1765 dan ikut menyebar ke Indonesia melalui penjajahan belanda. Dalam memasuki lingkungan yang baru perlunya  kita mempelajari terlebih dahulu lingkungan tersebut, perlunya kita menerapkan ajaran  stoikisme dalam kehidupan sehari-hari” Ujarnya.

Dipenghujung kegiatan diadakan sesi Tanya jawab dari peserta kepada para narasumber yang hadir dan diadakan juga diskusi terbuka antara para peserta yang hadir tekait pembahasan tema kegiatan yng telah disampaikan sebelumnya.

Penulis: Ahmad daffa Rasyidi

Dokumentasi:

BERDIALEKTIKA 1

BERDIALEKTIKA 2

Tag :