Bagaimana Emoji Membentuk Cara Kita Berkomunikasi dan Memahami Identitas
Bagaimana Emoji Membentuk Cara Kita Berkomunikasi dan Memahami Identitas

Oleh: Andika Pratama

Komunikasi serba digital belakangan ini memudahkan kita menyampaikan berbagai macam hal dengan elegan, sederhana, dan singkat. Hanya butuh satu klik dan beberapa ketukan saja, rangkaian ide dan konsep abstrak yang rumit dikemas cukup dengan satu bubble chat tanpa harus repot-repot memadupadankan ekspresi dan raut wajah di dunia nyata. Data menunjukkan bahwa jumlah pengguna internet di Indonesia sangat besar dan sebagian besar dari mereka menghabiskan waktu di media sosial seperti WhatsApp, Facebook, dan Instagram untuk bersosialisasi maupun bekerja. Fenomena ini memunculkan bentuk komunikasi baru yang tidak lagi bergantung sepenuhnya pada teks verbal, namun dapat memadukannya dengan bahasa visual, yang sudah kita kenal sebagai fitur emoji.

Emoji berasal dari bahasa Jepang yang menggabungkan kata "e" berarti gambar dan "moji" berarti karakter sehingga secara harfiah dapat diartikan sebagai kata bergambar. Popularitas emoji meledak karena simbol-simbol ini mampu menjembatani celah yang ditinggalkan oleh teks tertulis yang sering kali gagal menyampaikan nada bicara atau ekspresi wajah. Sejarah perkembangan emoji bermula dari penggunaan emotikon yang sederhana pada tahun 1980-an yang tersusun dari tanda baca untuk membentuk ekspresi wajah. Namun seiring berjalannya waktu dan kemajuan teknologi komunikasi visual, emotikon bertransformasi menjadi emoji yang lebih berwarna dan beragam seperti yang kita temui di perangkat modern saat ini.

Suatu bahasa tidak akan hidup tanpa digunakan oleh individunya, hal ini seperti ungkapan Saussure tentang fungsi parole atau praktik berbahasa. Saat seorang pengguna memilih satu emoji tertentu dari ratusan pilihan yang ada untuk merespons sebuah pesan, ia sedang melakukan tindakan parole yang didasarkan pada kondisi psikologis dan konteks percakapan saat itu. Keputusan untuk menggunakan emoji hati berwarna merah daripada biru, atau wajah tersenyum lebar daripada sekadar tersenyum tipis, adalah manifestasi dari kebebasan individu dalam mengekspresikan perasaannya secara spesifik. Dengan demikian, emoji menjadi jembatan antara aturan sosial yang kaku dan kebutuhan ekspresi diri yang sangat personal dan dinamis.

Apabila kita menelaah lebih dalam mengenai apakah emoji dapat disebut sebagai bahasa yang utuh, sayangnya fakta mengatakan bahwa emoji tidak memiliki struktur tata bahasa yang kaku seperti bahasa lisan atau tulisan pada umumnya. Emoji cenderung mengikuti pola linier yang sederhana dan urutannya sering kali bergantung pada interpretasi pengirim pesan itu sendiri. Meskipun tidak memiliki aturan gramatikal yang kompleks namun emoji seringkali digunakan sebagai pengganti tanda baca dalam sebuah kalimat. Dalam banyak percakapan di media sosial sering ditemukan bahwa emoji diletakkan di akhir kalimat sebagai penutup yang berfungsi mirip dengan titik atau tanda seru untuk mempertegas maksud pengirim.

Ketiadaan tata bahasa yang baku ini menyebabkan emoji sangat bergantung pada konteks kalimat yang menyertainya agar dapat dipahami dengan benar. Jika emoji digunakan tanpa teks pendukung maka potensi ambiguitas atau kesalahpahaman menjadi sangat besar karena satu gambar bisa memiliki banyak tafsir. Katakan kita melihat ikon wajah tersenyum, dari satu perspektif  bisa diartikan sebagai kebahagiaan yang tulus, namun di perspektif yang berbeda dan cenderung dipengaruhi sentimen tertentu justru tampak sebagai bentuk sarkasme. Dan oleh karenanya kedua penggunaan itu membutuhkan konteks dan koteks (teks yang mendahului) yang mendasarinya.  Oleh karena itu para peneliti menemukan bahwa kombinasi antara teks verbal dan emoji adalah cara yang paling efektif untuk menyampaikan pesan yang akurat dan meminimalkan risiko salah tafsir.

Kombinasi kedua elemen ini dianggap paling efektif karena teks verbal memberikan kejelasan informasi sementara emoji memberikan konteks emosional dan penekanan maksud. Sinergi antara kata dan gambar ini menciptakan sebuah sistem komunikasi yang komprehensif dimana kedua elemen saling melengkapi untuk menghasilkan pesan yang utuh dan akurat. Jika teks adalah tubuh dari pesan tersebut, maka emoji adalah jiwanya yang memberikan nyawa dan rasa pada informasi yang disampaikan. Menariknya lagi, keragaman bentuk emoji ini bisa mengungkap cerminan dari identitas kita dalam bersosialisasi, entah kita lebih ekspresif ketika berbicara di dunia maya, atau cenderung mengutamakan efisiensi dan ketangkasan tuturan, semua kembali ke individu masing-masing.

Referensi

Arafah, B., & Hasyim, M. (2019). The language of emoji in social media. KnE Social Sciences, 2019

484–493. https://doi.org/10.18502/kss.v3i19.4880

Koch, T. K., Romero, P., & Stachl, C. (2022). Age and gender in language, emoji, and emoticon usage in 

instant messages. Computers in Human Behavior, 126, 106990. https://doi.org/10.1016/j.chb.2021.106990

Leonardi, V. (2022). Communication challenges and transformations in the digital era: Emoji language and emoji translation. Language and Semiotic Studies, 8(3), 22–44. 

https://doi.org/10.1515/lass-2022-2003

Sumber Gambar:

https://www.belfasttelegraph.co.uk/news/hidden-meaning-of-secret-language-emojis/a/114728110.html?utm_source=hyperlink&utm_medium=referral&utm_campaign=share