Selasa, 01 Oktober 2019 – Dekan Fakultas Adab dan Humaniora (FAH), Saiful Umam, memberikan apresiasi bagi para mahasiswa yang menyampaikan aspirasi dengan turun aksi ke gedung DPR, Senayan, terkait dengan RUU KUHP, UU KPK dan lain sebagainya.

Menurut Saiful, mahasiswa harus secara sadar menyampaikan aspirasi dengan tidak melanggar aturan. Ada dua hal yang harus diperhatikan agar mahasiswa tidak salah langkah atau sekedar ikut-ikutan. Pertama, ketika ada problem, dan masyarakat tidak mampu menyuarakannya, maka mahasiswa harus menyuarakan. Kedua,  masyarakat tidak tahu ada masalah yang pelik namun hanya golongan elit yang tahu, maka mahasiswa pun wajib turun ke jalan.

Namun, ia juga memperingatkan agar mahasiswa tidak ikut turun ke jalan jika hanya menyuarakan kepentingan satu golongan atau satu kelompok dan jangan terprovokasi oleh sekelompok orang yang menginginkan perpecahan atau kerusuhan.

Belajar dari kejadian yang dialami mahasiswa UIN Jakarta, Saiful Umam menghimbau kepada mahasiswa yang ikut menyuarakan aspirasi untuk tidak mengambil barang atau benda milik aparat kepolisian, walaupun niatnya baik; seperti menemukan barang berupa Handy Talky (HT), tameng, dll untuk dikembalikan kepada polisi. Karena dikhawatirkan mereka justru dapat terancam pasal ingin menguasai benda.

“Kalau menemukan benda milik polisi, entah itu HT, atau tameng dan lain sebagainya sebaiknya jangan diambil, sekalipun niatnya baik mengembalikannya ke polisi. Jangan amankan apapun benda-benda milik polisi, karena bisa terancam pasal ingin menguasai benda aparat”.

Saiful kemudian menambahkan jika seandainya peserta aksi ditangkap oleh polisi, dia mengingatkan untuk memberikan keterangan yang diketahui saja, cukup jawab yang diketahui tanpa perlu menjelaskan panjang lebar. Karena jika keterangan yang diberikan tidak sesuai dengan fakta di lapangan maka bisa terancam memberikan keterangan palsu.

“Kalau terpaksa ditangkap oleh polisi, jika dimintai keterangan atau ditanya maka jawab yang diketahui saja. Kalaupun pertanyaannya iya/tidak, cukup dijawab iya atau tidak. Tidak perlu ditambah-tambahkan. Tidak usah jawab macam-macam, apalagi tidak tahu pasti. Khawatirnya nanti bisa dikenai pasal memberikan keterangan palsu”. pungkasnya.

Terakhir, ia berpesan agar Mahasiswa harus tetap kritis dalam menyampaikan aspirasi menyikapi berbagai isu yang berkembang di masyarakat. Selain itu juga, sebagai mahasiswa harus cermat dalam memposting sesuatu di media sosial. Jangan asal share tapi harus bertabayyun, harus cek kebenarannya, dan sumber informasinya sebelum menyebarkan ke khalayak ramai.

Reporter: Anis Pitriani

Editor: AY