FAH NEWS – Workshop dengan topik Data Mining dan Sejarah Digital yang dilangsungkan oleh Prodi Sejarah dan Peradaban Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sukses dilaksanakan pada 30 Maret 2022. Workshop yang dilangsungkan secara daring tersebut menghadirkan Yan Kurniawan, Senior Analyst Drone Emprit yang juga seorang dosen di Universitas Budi Luhur dan Universitas Indonusa Esa Unggul sebagai narasumber.

Endi Aulia Garadian, dosen Prodi SPI yang memandu Workshop Data Mining dan Sejarah Digital tersebut mengatakan bahwa saat ini, data merupakan komoditas yang sangat penting karena dicari oleh banyak orang layaknya komoditas hasil alam lainnya. “Data itu menjadi komoditas baru yang penting yang sangat berharga dan dicari banyak orang. Saat ini komoditas tidak lagi berasal alam seperti emas, batu bara dan nikel tetapi juga data itu sendiri”, tuturnya dalam workshop tersebut. Dalam sambutannya, Saiful Umam, Ph.D.  Dekan Fakultas Adab dan Humaniora mengatakan bahwa segala aspek harus beradaptasi dengan kemajuan teknologi digital yang tidak bisa dihindari begitu pula dengan ilmu pengetahuan.

Dalam Workshop tersebut, Yan mengenalkan data mining yakni penambangan data dan desain riset media sosial berbasis big data melalui software Drone Emprit kepada ratusan peserta. Software yang familiar digunakan dalam bidang ilmu sosial, politik dan ekonomi ini dapat memudahkan masyarakat untuk melihat dengan cepat dan lebih akurat serta dapat memberikan solusi terutama untuk kebutuhan-kebutuhan riset. “Proses data mining ini memang karena ada software Drone Emprit itu memudahkan kami. Kami bisa melihat dengan cepat, lebih akurat, terus bisa memberikan solusi terutama kepada publik, klien dan juga untuk kebutuhan riset,” Yan memaparkan.

Dalam melakukan data mining, langkah awal yang harus dilakukan adalah mengetahui latar belakang dan rumusan masalahnya. Hal tersebut dapat mengarahkan kita untuk memastikan data apa yang mesti diambil dan data apa yang mesti di klasifikasi serta mengarahkan tentang bagaimana cara agar dapat memvalidasi data sampai pada akhirnya bisa menghasilkan temuan kesimpulan dan rekomendasi.

Pria yang juga berprofesi sebagai dosen ini menegaskan bahwa dalam mengidentifikasi masalah penggunaan kata kunci haruslah kuat. “Dalam menentukan kata kunci itu harus kuat dan hati-hati karena kalau salah, maka data yang diambil akan sia-sia dan tidak menjawab rumusan masalah yang dibangun,” tegasnya.

Lebih jauh Senior Analyst Drone Emprit ini mengenalkan paradigma penelitian sosial yang biasa digunakan dalam aplikasi Drone Emprit melalui pendekatan positivisme, konstruktivisme dan kritis. “Nah positivisme di sini sebenarnya pola sebab akibat yang muncul secara kuantitatif deskriptif itu sudah terlihat betul di mesin. Jadi pergerakan naik turunnya data secara kuantitatif deskriptif itu kelihatan,” tuturnya.

“Pendekatan konstruktivisme memperlihatkan bagaimana pendekatan tersebut dikonstruksi oleh pihak-pihak masyarakat, contoh misalnya bagaimana issue toa kemarin. Melalui data kita bisa melihat kelompok yang mengatakan A seperti apa dan yang mengatakan B seperti apa, disertai dengan alasan sebab akibatnya sama kurang lebih rekomendasi yang mereka bangun seperti apa,” Yan menambahkan.

Terakhir, Yan mengungkapkan pendekatan kritis yang digunakan dapat melihat motif dan realitas tersembunyi di balik data yang tampak. Itulah ringkasan menambang data melalui mesin Drone Emprit. Melalui perkembangan digital yang begitu pesat, bidang sejarah diharapkan mampu melahirkan sejarah digital melalui fenomena yang berada di media sosial.

Dalam sesi workshop tersebut tak lupa Yan menawarkan penggunaan data Drone Emprit dalam bidang akademik dengan take and give berupa mention kata Drone Emprit dalam tiap hasil riset tulisan. ***

Kontributor: Rizka Sentia

Editor: AY