021-7401928 fah@uinjkt.ac.id

Ciputat, 30 April 2020 – Pada Masa Pandemi Virus Covid-19, untuk pertama kalinya Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta mengadakan seminar secara online atau yang dikenal dengan webinar. Dengan mengusung tema “Pandemi dalam Sejarah Islam”, webinar ini menghadirkan narasumber terkemuka yaitu Prof. Muhammad Ali, Ph.D (Associate Professor in Religious Studies, University of California Riverside), Fu’ad Jabali, Ph.D  (Peneliti Senior & Dosen Fakultas Adab dan Humaniora UIN Jakarta) dan Saiful Umam, Ph.D selaku Dekan Fakultas Adab dan Humaniora.

Acara tersebut diikuti sebanyak 116 orang peserta yang dilakukan secara live melalui aplikasi Zoom pada tanggal 30 April 2020. Live seminar ini berlangsung kurang lebih tiga jam, mulai dari pukul 10.00 WIB hingga pukul 13.00 WIB. Awalnya acara hanya di setting sekitar dua jam saja, namun melihat antusiasme para peserta dan disepakati maka dapat berjalan lebih lama. Webinar ini gratis dan para peserta mendapatkan fasilitas berupa e-sertifikat dan e-materi.

Saiful Umam, Ph.D  mengatakan, kegiatan seminar ini memang sengaja dilakukan pada masa pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Jakarta dan beberapa daerah lainnya. Tujuannya, walaupun kita semua saat ini sedang beraktivitas dirumah namun juga produktif. Dan tentu agar juga Fakultas Adab dan Humaniora UIN Jakarta tetap dapat memberikan ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi masyarakat yang sedang melaksanakan gerakan #dirumahsaja.

Seminar di “host” oleh Saiful Umam sendiri selaku Dekan FAH, ia memulai dengan bagaimana seharusnya sikap muslim dalam menghadapi wabah covid-19 ini. Apakah ini merupakan hukuman atau cobaan? atau bahkan ini justru malah rahmat bagi orang yang taat? “Isu yang diangkat pada seminar kali ini pun merupakan isu terkini tentang pandemi dalam sejarah Islam yang pernah terjadi, mulai dari zaman Rasulullah hingga beberapa abad setelahnya,” ujar Saiful.

Dalam sejarahnya, sebuah wabah atau tha’un sudah tentu menyebabkan kematian dan penurunan populasi yang luar biasa. Misalnya ketika abad pertengahan (sekitar abad ke 14) dahulu dikenal dengan apa yang disebut dengan Black Death. Wabah yang terjadi di Eropa dan Timur Tengah ini menewaskan sekitar 1/3 penduduk yang ada. Ada banyak penyebabnya sebuah wabah itu bisa terjadi, mulai dari kaitannya dengan alam, virus, hingga hewan liar, yang semuanya dapat menularkan ke manusia. Menurut Muhamad Ali kita harus membagi wabah atau tha’un dalam tiga kategori; kajian manuskrip (klasik dan modern), kajian fatwa dan hukum fiqh dalam menghadapi wabah, dan kajian akademik. Kemudian bagaimana kita dalam meresponnya. “Kita harus banyak membuka kitab atau manuskrip-manuskrip yang berisi tentang wabah, ini sangat penting sekali karena nantinya akan membuat kita berpikir bagaiman bertindak seharusnya dalam menghadapi sebuah wabah.” ungkapnya.

Ali menambahkan, mengenai sikap muslim pada masa lampau, tentu beragam ada yang taat mengikuti pemimpin pada masa itu dan ada juga yang tidak mentaatinya. Soal karantina pun sudah seharusnya kita mencontoh apa yang dilakukan oleh Rasulullah. Cara Rasullah mengatasi meluasnya wabah penyakit, kala itu dilakukuan dengan melarang umatnya untuk memasuki daerah yang terkena wabah, apakah itu pes, lepra, maupun penyakit menular lain. Sedangkan masyarakat yang ada di wilayah terdampak di larang ke luar dari wilayahnya itu,

Rasulullah bersabda, “Jika kalian mendengar tentang wabah-wabah di suatu negeri, maka janganlah kalian memasukinya. Tetapi jika terjadi wabah di suatu tempat kalian berada, maka janganlah kelian meninggalkan tempat itu,” (Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim)

Ini merupakan metode karantina yang telah diperintahkan Nabi Muhammad SAW untuk mencegah wabah tersebut menjalar ke negara-negara lain. Bahkan untuk memastikan perintah tersebut dilaksanakan, Nabi Muhammad mendirikan tembok di sekitar daerah yang terjangkit wabah dan menjanjikan bahwa mereka yang bersabar dan tinggal akan mendapatkan pahala sebagai mujahid di jalan Allah, sedangkan mereka yang melarikan diri dari daerah tersebut diancam malapetaka dan kebinasaan.

Peringatan kehati-hatian pada penyakit lepra juga dikenal luas pada masa hidup Nabi Muhammad SAW. Rasulullah menasihati masyarakat agar menghindari penyakit lepra. Dari hadis Abu Hurairah, Imam Bukhari meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda, “Jauhilah orang yang terkena lepra, seperti kamu menjauhi singa.” Sama seperti Covid-19 sekarang, kita diharuskan untuk menjaga jarak antar sesama, melakukan pembatasan fisik, dan lain sebagainya sebagai upaya untuk mencegah penularan.

Lalu Fu’ad menambahkan, seperti diungkap Ali sebelumnya, di masa ke Khalifah Umar bin Khattab, wabah kolera menyerang Negeri Syam. Negeri Syam kala itu sekitar tahun 18 Hijriyyah, diterjang wabah qu’ash. Wabah tersebut menelan korban jiwa sebanyak 25 ribu kaum muslimin. Khalifah Umar bersama rombongan yang saat itu dalam perjalanan menuju Syam, terpaksa menghentikan perjalanannya. Umar pun meminta pendapat kaum muhajirin dan kaum Anshar untuk memilih melanjutkan perjalanan atau kembali ke Madinah. Sebagian dari mereka berpendapat untuk tetap melanjutkan perjalanan dan sebagian lagi berpendapat untuk membatalkan perjalanan. Umar pun kemudian meminta pendapat sesepuh Quraisy. Yang kemudian menyarankan agar Kholifah tidak melanjutkan perjalanan menuju kota yang sedang diserang wabah penyakit. Namun di antara rombongan, Abu Ubaidah bin Jarrah masih menyangsikan keputusan Khalifah. “Kenapa engkau melarikan diri dari ketentuan Allah?” ujarnya. Umar pun menjawab, bahwa apa yang dilakukannya bukanlah melarikan diri dari ketentuan Allah melainkan untuk menuju ketentuan-Nya yang lain.

Keputusan untuk tidak melanjutkan perjalanan pun semakin yakin saat mendapatkan informasi dari Abdurrahman bin Auf. Bahwa suatu ketika Rasulullah melarang seseorang untuk memasuki suatu wilayah yang terkena wabah penyakit. Begitupun masyarakat yang terkena wabah tersebut untuk tidak meninggalkan atau keluar dari wilayahnya.  Ini merupakan cara mengisolasi agar wabah penyakit tersebut tidak menular ke daerah lain.

Menurut Fu’ad Jabali kita harus belajar banyak dari wabah yang terjadi ini, terutama dari sejarah pada masa lampau. Kajian-kajian akademik tentang wabah perlu digiatkan. “Sudah seharusnya kita mengambil hikmah dari pandemi sekarang ini, para sejarawan, ilmuwan, peneliti, dosen dan mahasiswa harus bisa mengambil hikmah dengan mendalami dan mengkaji sejarah wabah dari manuskrip-manuskrip.” tutur peneliti senior PPIM ini.

Diskusi semakin menarik tatkala kehadiran Prof. Oman Fathurahman yang bergabung dalam webinar kali ini Seminar ini berlangsung sangat seru diiringi dengan berbagai pertanyaan yang dilontarkan para peserta. Saiful mengatakan bahwa meski saat ini Fakultas Adab dan Humaniora UIN Jakarta akan senantiasa berupaya memberikan yang terbaik kepada mahasiswa dan masyarakat pada umumnya, melalui  karya yang kreatif dan inovatif walau di masa PSBB seperti sekarang ini. “Selain itu, kegiatan webinar ini diadakan untuk menambah wawasan keilmuan bagi para dosen dan mahasiswa, juga masyarakat secara umum,” kata Saiful. “Kami juga berharap kegiatan seminar ini akan menambah wawasan para peserta sehingga akan lebih luas lagi jangkauan penelitiannya di bidang humaniora dan perkembangan teknologi terkini,” tutupnya.

Reportase: AY