021-7401928 fah@uinjkt.ac.id

Ciputat, 03 Juni 2020 – Prodi Sejarah dan Peradaban Islam, Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sukses menggelar Webinar bertemakan “Jalur Rempah dan Dinamika Keagamaan dalam Sejarah Indonesia” pada hari Selasa, tanggal 02 Juni tahun 2020. Narasumber yang mengisi kegiatan seminar ini merupakan para pakar di bidangnya masing-masing, pertama Prof. Dr. Susanto Zuhdi (Guru Besar Sejarah UI) dan kedua, Prof. Dr. Jajat Burhanudin (Guru Besar Sejarah FAH UIN Jakarta), dengan di moderatori oleh Dr. Awalia Rahma, Kaprodi SPI (Sejarah dan Peradaban Islam). Seminar secara virtual ini menggunakan aplikasi zoom cloud meeting ini juga disiarkan secara langsung melalui kanal youtube FAH UIN Jakarta. Antusiasme terlihat dari jumlah partisipan yang bergabung, sebanyak 300 peserta ikut menyimak dengan khidmat ditambah 463 orang viewers di channel youtube FAH sudah bisa menggambarkan betapa pentingnya webinar ini.

Ucapan terima kasih dari Dekan FAH, Saiful Umam kepada Prof. Susanto dan Prof Jajat yang telah meluangkan waktunya untuk berdiskusi. “Dengan persiapan yang cukup mepet kita bersyukur peserta yang bergabung banyak juga. Hal ini menunjukkan bahwa peminat sejarah masih tinggi, kekhawatiran jurusan sejarah akan kehilangan peminat seolah sirna. Saya berharap seminar ini nantinya akan berkelanjutan pada seri-seri berikutnya yang membahas tema terkait jalur rempah. Jalur perdagangan penting yang bisa ditulis, dibahas dan didiskusikan, harapan kita tentu nantinya akan berkelanjutan sehingga akan menjadi tulisan yang bisa di publikasikan dan dapat dibaca luas. Para peserta bisa berkontribusi lebih pada seminar ini.” ucapnya dalam membuka acara.

Jika berbicara mengenai jalur rempah, secara strategis pengetahuan mengenai jalur rempah ini dapat dimanfaatkan sebagai strategi nasional untuk mengembangkan Indonesia dalam kancah percaturan dunia. Indonesia sebagai pusat penghasil rempah yang mahsyur mempunyai peran strategis. Perdagangan rempah sepanjang sejarah turut mempengaruhi pertukaran budaya, pengetahuan dan teknologi dari berbagai antar bangsa di dunia. Memang masyarakat lebih mengenal rute jalur perdagangan Jalur Sutera dibanding Jalur Rempah. Padahal, Jalur Rempah ini mempunyai pengaruh yang signifikan bagi sendi kehidupan Indonesia dan dunia masa kini. Komoditi rempah yang diperjualbelikan dalam perdagangan sudah dilakukan berabad lamanya sebelum masehi. Rute perdagangan yang menempuh Asia Selatan, Timur Tengah dan Eropa dilakukan oleh pedagang Arab dan Cina. Dari sana terlihat bahwa rempah-rempah memiliki peranan penting bagi kehidupan manusia, mulai dari urusan citarasa sebuah masakan, pengawet mayat, hingga alat diplomasi.

Prof. Susanto Zuhdi ketika menyampaikan materi dihadapan peserta webinar

Jalur Rempah sebagai sebuah Konsep
Mengawali diskusi, Prof Santo mengutip Steinberg, dalam In Search of Southeast Asia, “Tidak ada suatu dunia keagamaan yang tampak begitu kuat dalam kehidupan masyarakat bercampur dengan tradisi lokal seperti di masyarakat Asia Tenggara”. Bagaimana proses-proses ini berlangsung dalam konteks jalur rempah? Apakah sekedar reaksi saja? Karena tentu berbeda dengan Jalur Sutera yang sudah lebih dahulu diterima. Sebagai konsep jalur rempah belum accepted. Sesuatu yang perlu dikonseptualisasikan, sebab kalau Jalur Sutera sudah lama sekali terkonsep. Mas Santo begitu ia akrab disapa, menyebut jalur rempah itu sebagai jalur budaya bahari, jauh sebelum bangsa Eropa datang ke dunia Timur, ini kan suatu interaksi antar bangsa yang digerakkan oleh ekonomi perdagangan dan agama pada suatu ruang interaksi bernama Nusantara atau “negeri dibawah angin” yang punya hubungan dengan “negeri diatas angin” seperti Cina, India, Arab dan lainnya. Yang sudah melakukan interaksi secara intensif jauh sebelum Sriwijaya, Tarumanegara dan seterusnya. Oleh sebab itu sebagai suatu praymover yang menggerakkan suatu kehidupan keagamaan yang begitu intens.

“Mengapa tidak mengangkat konsep bahari, maritim kita tahu kemudian. Tetapi bahari inikan dari bahasa Arab, ini yang lebih dulu diterima sebagai kosakata melayu dan kemudian Indonesia. Meskipun maritim dan bahari bisa saja dikaitkan, namun perlu dipertegas ada distingsi disana ada perbedaannya juga, ini yang belum diperlihatkan oleh para sejarawan”. paparnya diawal seminar. Budaya bahari yang memungkinkan proses-proses pencerapan dan interpretasi dinamika keagamaan lewat maritim yang memperlihatkan hubungan dinamika sehingga memunculkan kota-kota pelabuhan sebagai perantara proses pertukaran budaya, pengetahuan dan teknologi. Dinamika keagamaan ini bisa dijelaskan dalam konteks politik, budaya, sosial dan lain sebagainya. Apa sebetulnya yang mempertemukan ide gagasan melalui jalur rempah ini? Menurut Prof. Santo adalah semangat “taste” aromanya yang khas. Rempah itu adalah sebuah kehangatan. Komunikasi akan lancar apabila ada kehangatan. Nilai kehangatan atau diplomasi kehangatanlah yang perlu kita usung di tengah dunia yang bergejolak ini.

Laut memperhubungkan ide, agama dan kebudayaan membawa pengaruh sangat besar sekali dalam kehidupan Asia Tenggara ini. Mulai dari zaman Hindu-Budha hingga Islam, konsep-konsep yang saling terkait satu sama lain dipadukan dengan kearifan lokal yang memunculkan hibrida baru. Pengaruh-pengaruh itu kemudian diserap bahkan dimodifikasi, dalam politik kenegaraan. Misalnya sumbangan Hindu-Budha mengenai konsep dewa-raja, kemudian ketika beralih ke Islam konsepnya Sultan “Khalifat Allah fil ardh“, hal ini menunjukan begitu kentalnya pengaruh agama di sendi-sendi kehidupan agama, politik, sosial, ekonomi dan seterusnya. Kita tahu sesudah Tarumanegara dan ketika Sriwijaya jatuh, kemudian muncul Samudera Pasai, Majapahit, Demak, Banten dsb dilanjutkan terus menerus sampai nanti ketika Eropa datang. Inilah suatu periode yang mempertemukan nusantara dengan dunia yang lebih luas lagi seperti; Samudera Hidia, Laut Tengah, Laut Mediterania seperti diungkap Braudel.

Prof Santo mengatakan, apakah dengan jatuhnya Malak oleh Portugis pada 1511 itu juga menandai berakhirnya sejarah Nusantara? Jawabnya, tentu tidak. Hikmah terselubung jatuhnya Malaka ke tangan Portugis, maka tumbuhlah Samudera Pasai kemudian menjadi Aceh dan jalur perdagangan justru berkembang menunjukkan suatu pertumbuhan baru dari kota-kota pelabuhan di Nusantara termasuk Brunei, Kalimantan, sampai Makasar dan seterusnya ke Timur. Dari situ jelas sekali bahwa jalur pelayaran ketika masih disebut “negeri dibawah angin” tidak berhenti sampai disitu, ada suatu pertumbuhan baru di kota-kota Nusantara ini, jalur-jalur pelayaran yang dikembangkan tidak mati tidak berhenti melainkan masih memperlihatkan eksistensi dan kesinambungannya sampai dengan masa yang oleh Anthony Reid disebut Kurun Niaga 1670an. Barulah ketika VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie)-nya Belanda, EIC (East India Company)-nya Inggris, dan Estado da Índia-nya Portugis datang, kekuatan-kekuatan tersebut yang memerosotkan kerajaan Nusantara. Masuk dan perkembangan Islam membawa stimulus besar dalam perkembangannya di Nusantara. Islam di Nusantara inilah yang merajut pulau-pulau yang membuat munculnya kota-kota bandar kosmopolitan. Kemudian ekspansinya bangsa Eropa pun demikian selalu ada kaitan antara kepentingan perdagangan dan penyebaran agama. Misal Portugis lebih nyata dalam misi misionarisnya ketimbang Belanda. Seperti dikatakan Taufik Abdullah dengan pola “sekutu-seteru” tampak sekali tidak ada suatu kondisi yang ajeg atau situasi politik yang tetap di Nusantara, tetapi yang ada ialah ketidakstabilan terutama di daerah Timur Nusantara. Kita perlu melihat peradaban kota-kota bandar, aspek-aspek apa saja yang ada dalam peradaban kota bandar? Mulai jaringan interaksi, asimilasi, interkoneksi dan diplomasi dalam bidang ekonomi dan agama, ide pemikiran pengetahuan, komoditas untuk bisa melihat struktur pengetahuan keagamaan di Asia Tenggara dalam perubahan masyarakatnya.

Prof. Jajat Burhanudin menyampaikan materi di layar zoom

Prof. Jajat Burhanudin melalui pendekatan manuskrip atau naskah menyebut dalam Hikayat Raja Pasai yang ditulis sekitar tahun 1350, ia menemukan suatu gambaran “Jaringan Islam Global” yang sudah dimunculkan dalam sebuah naskah ketika itu. Dalam konteks Indonesia, saat abad ke-13 ketika Samudera Pasai berdiri, ada satu perpindahan lokus perdagangan dari Selatan Sumatera yang dahulu jadi tempat kerajaan Sriwijaya ke arah Utara tempat dimana Samudera Pasai berada. Samudera Pasai menjadi salah satu kerajaan penting banyak didatangi para pelancong dan pedagang internasional seperti Cina, India, Arab dan lain sebagainya. Menurut catatan Tome Pires di Aceh banyak sekali pengaruh India. Naskah ini menangkap sebuah perubahan itu, melahirkan apa yang kemudian disebut jalur sutera atau yang sekarang mau kita angkat yaitu jalur rempah. Dimana rempah adalah produk yang sangat khas nusantara. “Teks-teks ini mengakui pentingnya Arab sebagai wilayah asal mula Islam, ada semacam world view yang terbuka dan ketika itu masyarakat nusantara sudah sangat memahami dunia luar sebagai sebuah modal untuk menguak jalur rempah.” sebutnya.

Kita harus mulai memperkenalkan Jalur Rempah sebagai sebuah konsep yang diakui, mulai dari penerbitan, penulisan buku dan lain sebagainya. Sudah seharusnya dimulai dengan menggaungkan tentang apa itu jalur rempah?. Nusantara disatukan dihubungkan oleh satu keagamaan bukan menyeragamkan namun menghubungkan misalnya teks yang berkembang ketika itu muncul huruf Jawi, huruf Pegon dan semua berkembang seiiring jaringan di nusantara yang menghubungkan berbagai pulau yang saling berhubungan akibat adanya islamisasi. “Menurut saya ini kekuatan yang penting tak hanya terbatas kepada kekuatan ekonomi tapi juga agama. Kerajaan Pasai itu berkembang sedemikian rupa tak hanya jadi pusat kerajaan tapi juga pusat keagamaan, salah satu sumber yang paling dekat dengan Pasai itu adalah Ibnu Batutah dimana ia menyebut kosmopolitian tumbuh luar biasa disana, orang asing baik pedagang atau pengunjung perlu disambut dengan baik sikap terbuka yang menunjukkan keterbukaannya terhadap dunia luar betul-betul nampak. Kerajaan ini kaya tak hanya dalam sisi rempah tapi juga emas.” tambah Jajat. Ia melanjutkan dengan menambah kutipan dari Hikayat Raja Pasai “Ketika Sultan Malikusaleh selesai mengislamkan wilayah Samudera Pasai, dia pamit mau balik ke Mekah dan oleh raja Pasai itu diberi oleh-oleh yang isinya semua rempah-rempah; dia menyebut misalnya ada ambar, kapur barus, garu cendana, kemenyan, cengkeh dan pala. Itu semua sebagai oleh-oleh dari kerajaan Pasai untuk Syekh Ismail yang mengislamkan Pasai yang berencana kembali ke Mekah.” dari situ jelas jalur rempah ini  menjadi semacam koridor yang menghubungkan titik-titik menjadi jaringan. Jalur rempah sedemikian sentral dalam kehidupan ekonomi, dan kemudian politik juga agama. Ini sebuah kontruksi terhadap kenyatan bahwa Nusantara sebagai pusat budaya bahari sudah membuka diri sejak lama.

Dua manuskrip karya kartografer Portugis sekitar tahun 1519, menggambarkan Jalur Rempah. © Jakarta Post

Dari sejarah rempah pula tentu memberi kontribusi penting pada sejarah panjang pembentukan nasionalisme Indonesia. Pemerintah dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI dalam tahun-tahun terakhir ini berupaya meningkatkan kesadaran publik dengan menyelenggarakan sejumlah agenda. Misalnya dengan membawa Jalur Rempah dalam Festival Europalia 2017 di Belgia, kemudian hingga saat ini pun Indonesia masih berjuang agar Jalur Rempah mendapat pengakuan sebagai warisan budaya dunia dari UNESCO gagasan yang dibuat oleh Yayasan Negeri Rempah dan Kemendikbud.

Masyhurnya rempah-rempah Indonesia telah tercatat dalam berbagai manuskrip kuno sebagai bagian penting perdaban dunia. Rempah Indonesia menjadi salah satu komoditas penting dalam jalur perdagangan dunia, bahkan ini terjadi sejak zaman kejayaan kerajaan-kerajaan besar ketika itu. Indonesia sebagai pusat jalur rempah dunia. Rempah-rempah Indonesia membawa cita rasa eksotis bagi dunia yang bisa dinikmati hingga kini. Jalur rempah bukan hanya sebagai sebuah perjalanan, namun juga dapat menggali kembali sejarah Indonesia sebagai negeri penghasil rempah yang disegani dunia. Bagi penikmat kuliner, rempah Indonesia tentu mempunyai cita rasa tersendiri yang khas yang tak dimiliki negeri manapun di dunia.

Reportase: AY