Prodi Bahasa dan Satra Arab (BSA) dan Magister BSA Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta mengadakan seminar nasional dengan tema “Drama : Teori dan Metode Pengkajiannya” pada Kamis, 29 April 2021. Acara seminar yang dikemas dengan Webinar Series ini, dilaksanakan pada pukul 13.00-16.00 WIB via Zoom Cloud Meeting dan Livestreaming di akun YouTube FAH UIN Jakarta, mengingat sebagai penerapan tindakan protokol di masa pandemi saat ini.

Webinar Series ini merupakan hasil kerjasama antara Prodi BSA dan MBSA FAH UIN Jakarta, dengan mengundang Guru Besar FIB UI, yang menjabat sebagai Ketua Departemen Filsafat FIB UIN, yakni Prof. Riris K. Toha Sarumpaet, M.Sc., Ph.D. sebagai narasumber dan dimoderatori oleh Dr. Siti Amsariah, M,Ag. Selaku Ketua Prodi BSA UIN Jakarta. Webinar ini mampu diikuti oleh 500 partisipan yang terdiri dari dosen dan mahasiswa baik masih dalam satu ranah jurusan maupun lintas jurusan seperti Prodi Tarjamah, Sejarah Peradaban Islam (SPI), Sastra Inggris (Sasing), bahkan dari lintas fakultas seperti Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) serta diikuti oleh perwakilan Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia (HISKI).

Acara dibuka tepat pukul satu siang, oleh Ibu Moderator. Di awal Acara, Dekan FAH UIN Jakarta, Drs. Saiful Umam, Ph.D. turut memberikan sambutan. Dalam sambutannya yang singkat tersebut, Dekan FAH UIN Jakarta menyampaikan banyak terimakasih dan mengapresiasi kepada Prof. Riris yang sudah berkenan menghadiri undangan dan menjadi narasumber. “Hal ini perlu saya apresisasi, karena webinar ini mendatangkan pakarnya langsung dari FIB. Yang mana FIB dan FAH memiliki hubungan yang sangat erat. Faktanya banyak dosen FAH yang lulus dari FIB baik program Magister dan Doktor”, ujarnya.

Gambar 1. Saiful Umam, Ph.D

Dalam sambutannya, Dekan FAH juga menegaskan bahwa drama yang pernah dipentaskan oleh BSA sebelum pandemi, perlu kontinyu dan membutuhkan perhatian khusus seperti fasilitas ruang teater yang mumpuni. Karena dengan pementasan drama akan mencermin jiwa kebudayaan, yang satu sisi akan membantu kajian penelitian juga di sisi lain akan melatih emosi mahasiswa yang objektif.

Acara webinar dilanjutkan dengan pemaparan narasumber, Prof. Riris K. Toha Sarumpaet, M.Sc., Ph.D.  yang membaginya menjadi 4 tahap pemaparan, Pengantar, Sejarah, Teori, dan Metode Pengkajian. Sebelum jauh narasumber memaparkan, Prof. Riris menegaskan bahwa Drama merupakan salah satu wasilah memahami kehadiran manusia dalam semesta. Mengapa demikian,.? Drama dipertunjukkan langsung didepan mata, sehingga mampu mengajak penonton ikut serta aktif mengikuti alur dan konflik yang didalamnya. Mengingat drama merupakan tiruan kehidupan semesta yang kompleks, hingga akhirnya penonton akan mampu mengenali, memahami, menghargai kehidupan semesta. “Dengan pertunjukkan drama, goalnya adalah bagaimana memahami kehadiran kita di tengah semesta”, tegasnya.

Dalam pengantarnya, narasumber menyampaikan bahwa asal-usul drama berasal dari nyanyian dan upacara agama primitif. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa dalam drama memiliki dua dimensi nilai, yakni humanitas dan ritualitas. “Humaniora merupakan hubungan manusia dengan Khaliknya, dengan sesamanya dan dengan alam, baik makhluk yang jasad-jasad hidup, maupun benda-benda mati”, jelasnya.

Selanjutnya narasumber memaparkan Teori Drama, namun dalam hal ini Prof. Riris menyampaikan perbedaan pendapatnya terkait kalimat ‘hakikat’ (Hakikat Drama) yang digunakan menggantikan kalimat ‘teori’. Hal ini disebabkan, karena dengan ‘hakikat’ akan diketahui makna serta pengertiannya. Dalam hal drama, Prof. Riris menjelaskan secara ditail, bahwa drama selain sebagai seni sastra, juga sebagai seni representasi atau seni pertunjukan. Sebagai seni sastra, lakon adalah fiksi terbuat dari kata2: plot, watak, dan dialog. Namun lakon adalah fiksi yg khas dan istimewa, fiksi yg diperagakan dan bukan dinarasikan. Contoh nyatanya ada di novel, dengannta dapat belajar tentang karakter melalui kata-kata dari narator yg berdiari antara kita dan mereka. Tetapi dalam lakon, tak ada yg berada di antara kita dan seluruh dunia rekaannya. Tokoh muncul tanpa komentar atau penjelasan “Drama memberikan presentasi langsung realitas imajinatifnya. Itu sebabnya disebut: seni pertunjukan”, jelasnya.

Gambar 2. Prof. Riris K. Toha Sarumpaet, M.Sc., Ph.D.

Setelah pemaparan hakikat drama, narasumber melanjutkan dengan pemaparan bagaiamana metode menelaah/pengkajian suatu drama. Prof. Riris memberikan penegasan, jika ingin mengkaji suatu drama maka harus menguasai teori dan konsep. Dengan cara dipelajari ditemui dihargai di mana kesemua itu akan melahirkan pada kita banyak tanya dan anggukan, banyak risau dan pencerahan, yg pasti akan lahirkan masalah penelitian, kita ingin berbuat utk kehidupan. “Artinya: jangan meneliti drama karena disuruh”, tegasnya.

Sebelum mengakhiri pemaparan, narasumber menyampaikan bahwa dalam mengkaji suatu drama, terdapat beberapa pendekatan yang digunakan untuk pisau analisis. Yakni ­monodisiplin, multidisipliner, ­dan transdisipliner yang nantinya dikemas dengan Penelitian Kuantitatif maupun Kualitatif.

Acara dilanjut dengan diskusi atau tanya-jawab antara peserta dengan pemateri. Diantaranya Dr. Saefudin, M.Pd. selaku perwakilan dosen Sastra Inggris yang menannyakan perbedaan drama dan play ?. Dalam hal ini, narasumber menjawab bahwa drama dan play berbeda. Drama sendiri memiliki makna teks sastrawi yang familiar disebut naskah. Dengan demikian drama sendiri tidak ada unsur pementasan, karena hanya berupa tulisan (naskah). Sedangkan naskah drama yang dipentaskan/dipanggungkan, itulah yang disebut play yang faimiliar disebut lakon atau teater. Meskipun tidak semua pertanyaan bisa ditampung karena terbatasnya waktu, namun semua peserta webinar sangat antusias mengikuti serta menyimak pemaparan dan penjelasan dari pemateri hingga acara selesai. Para peserta menyimak materi dan penjelasan dari Narasumber dengan serius. Hal tersebut dibuktikan dengan banyaknya pertanyaan dari peserta.

Gambar 3. Peserta Webinar