Program Studi Bahasa dan Sastra Arab (BSA) dan Magister BSA, Fakultas Adab dan Humaniora (FAH), UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menggelar Webinar Sastra Bandingan yang berjudul “Kajian Sastra Interdisipliner dan Lintas Budaya”. Kegiatan ini dilaksanakan secara daring via Zoom Meetings dan live streaming di kanal Youtube FAH UIN JAKARTA pada Rabu, 4 Rabu 2021. Kegiatan ini diikuti oleh sekitar 300 peserta yang terdiri dari mahasiswa dan para akademisi.

Gambar 1. Prof. Manneke Budiman, Ph.D. (Narasumber)

Pada webinar kali ini, yang menjadi narasumber adalah Prof. Manneke Budiman, Ph.D. Beliau adalah Guru Besar Ilmu Susastra Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia. Acara ini dimoderatori oleh Ali Hasan Albahar, M.A. Webinar sastra bandingan Prodi BSA dibuka oleh Dekan FAH UIN Jakarta, Saiful Umam, Ph.D. Tidak hanya membuka acara, Dekan menyambut baik kegiatan webinar ini, “ini adalah upaya untuk menjaga kewarasan, supaya kita tetap fokus di tengah-tengah gempuran berita covid, virus, dan lainnya” ujar Pak Dekan.

Gambar 2. Saiful Umam, Ph.D (Dekan FAH)

Acara ini dikemas ke dalam beberapa sesi. Sesi pertama merupakan pemaparan materi dari narasumber, kemudian sesi berikutnya adalah diskusi interaktif yang berupa tanya jawab. Pada sesi pemaparan materi, Prof Manneke Budiman mengawali pembahasan dengan kata “Menjadi Komparatis” karena menurutnya orang yang melakukan kajian sastra bandingan disebut komparatis dalam konteks sastra bandingan sebagai kajian sastra interdisipliner dan lintas budaya.

Terkait sastra bandingan, sebelum istilahnya ada, praktiknya sudah ditemukan sejak dulu. Pada mulanya, bangsa eropa melakukan kontak dengan dunia luar. Para pengelana bangsa Eropa yang kembali membawa cerita dan barang-barang eksotik dari belahan Timur. Di lain aspek adalah penjelajahan samudera dan imperialisme. Dari semua itu, terbentuklah imajinasi-imajinasi di kalangan Eropa dari pengalaman-pengalaman eksotis dari perjalanannya dari luar eropa. “Di sanalah gerbang awal dari sebuah sastra bandingan” ujar Prof. Manneke.

Menurut Prof. Manneke, dalam melakukan kajian komparatif, ada beberapa kecenderungan diantaranya yaitu pertama, kajian antarteks sastra. Di tahapan yang lebih tinggi adalah kajian antara sastra dan bentuk seni lain. Dalam hal ini Prof. Manneke mengatakan “yang dimaksud poin ini adalah kita mengkaji bagaimana di dalam karya-karya sastra itu digambarkan bentuk-bentuk kesenian yang lain, penggambarannya seperti apa? Dan pemikiran yang melatarbelakangi penggambaran seperti itu apa?” Ujarnya. Kecenderungan yang lainnya adalah kajian antara ilmu sastra dan disiplin ilmu lain serta kajian antarperiode atau antarmadzhab. Kemudian dalam melakukan kajian komparatif juga ada beberapa hal yang dapat lebih menguntungkan pengkaji, yaitu kemampuan dwibahasa atau multibahasa, penguasaan multidisiplin ilmu, dan kemampuan kajian teks.

Narasumber juga memaparkan tahapan-tahapan kerja komparatif. Tahapan pertama adalah melakukan pembacaan dekat atas kedua teks untuk menemukan kesamaan tertentu (menemukan isu). Kedua, melakukan bacaan terfokus untuk menemukan unsur-unsur pembeda di dalam kesamaan itu (membandingkan isu). Ketiga, menempatkan isu di dalam konteks perdebatan ilmiah tentangnya dalam suatu disiplin ilmu atau latar historis. Dan yang keempat adalah membuat pernyataan isu yang spesifik atas dua teks yang dibandingkan sebagai topik kajian bandingan. Hasil kerja komparasi menurut Prof. Manneke selalu ada kebaruan, “Pasti ada kebaruan, karena kita sedang melakukan sintesis antara dua teks” ujarnya. Kemudian hasil kerja komparasi bukanlah alihwahana dan bukan intertekstualitas.

Webinar Sastra Bandingan ini berjalan interaktif di sesi tanya jawab. Banyak peserta yang mengajukan pertanyaan-pertanyaan terkait materi yang dikaji. Dan juga webinar ini sangat dirasakan kebermanfaatannya oleh seluruh peserta karena sangat mengedukasi dan memberi wawasan luas terkait sastra bandingan yang dibawakan oleh Prof. Manneke Budiman.

Narator: Farhan Muzhaffar Rahman, 5 Agustus 2021