Prodi Bahasa dan Sastra Arab Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menyelenggarakan Webinar dengan tema “Pendekatan Pascakolonial dalam Studi Bahasa dan Sastra Arab” pada Selasa, 23 Februari 2021 pukul 13.30 WIB. Webinar ini dilaksanakan via Zoom Cloud Meeting  dan Livestreaming di akun YouTube FAH UIN Jakarta yang dihadiri oleh dosen dan mahasiswa program sarjana dan magister Bahasa dan Sastra Arab, dengan mengundang Bapak Tommy Christomy, P.Hd. selaku dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia sebagai narasumber dan dimoderatori oleh Dr. M. Adib Misbachul Islam, M.Hum selaku Kaprodi Magister BSA UIN Jakarta.

Acara Webinar ini dibuka dengan bacaan basmalah yang dipimpin langsung oleh Kaprodi BSA UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Dr. Siti Amsariyah, M.Ag. Dalam pembukaan ini Ibu Kaprodi menyampaikan bahwa webinar ini merupakan salah satu upaya memberikan pemahaman dan penguatan dalam aspek teori dan pendekatan yang digunakan dalam mengkaji sastra baik kepada dosen maupun mahasiswa. Selain itu dengan webinar ini, diharapkan mendapatkan masukan-masukan yang signifikan dalam penyusunan dan pengembangan kurikulum.

Webinar iniSaiful Umam, Ph.D selaku Dekan FAH UIN Jakarta yang menyatakan bahwa topik webinar ini menarik untuk didiskusikan karena banyak negara non barat yang telah mulai peka dan kritis dalam Pascakolonial Studi, misalnya saja India. Diakhir kalimat sambutan Dekan, beliau berharap narasumber mampu menciptakan generasi yang memiliki pola pikir yang kritis dan kolektif melalui Pascakolonial Studi ini.  Kegiatan webinar ini dipandu langsung oleh ketua Program Magister Bahasa dan Sastra Arab, Dr. M. Adib Misbachul Islam, M.Hum.

Dalam pembukaan Moderator, beliau menegaskan bahwa topik yang diangkat dalam webinar ini merupakan hasil renungan dari berkembangnya penelitian kekinian dalam ranah Bahasa dan Sastra Arab. Sehingga mampu menjadi bahan pertimbangan dalam penyusunan skripsi maupun tesis bahkan disertasi. Selanjutnya webinar ini dilanjut pada acara inti, yakni pemaparan dari narasumber.

Didalam pemaparan narasumber, Tommy Christomy, P.Hd memberikan pengantar bahwa Ilmu Humaniora banyak berhubungan dengan persoalan pemaknaan, signifikasi, rekonstruksi pengalaman (sejarah). Walaupun dalam kenyataannya, jejak kolonial sangatlah kompleks dan memerlukan renungan kajian lintas disiplin melalui bahan teoritis. Narasumber kemudian menjelaskan bahwa isu Pascakolonial sudah diangkat pada perang dunia ke-2. Yang mana masyarakat Eropa menghadapi berbagai masalah yang menyangkut monarki, penjajahan di beberbagai tempat, kemudian revolusi industri yang juga membawa mereka pada kemerosotan ekonomi, dan baku hantam saling membunuh diantara mereka.

Pascakolonial studi memiliki ketertarikan pada metafisik, etika, politik yang mencakup kajian yang luas, identitas budaya, gender, nasionalitas, ras, etnik, subjektifitas di bawah pengaruh imperialisme, dan tema-tema yang berhubungan dengan bahasa dan kekuasaan. Kemudian Narasumber menyimpulkan bahwa dalam perspektif Pascakolonial ada dua kata kunci penting yang sangat berhubungan dengan proses pengajaran sekarang, yakni wacana dan naratif. Dua hal ini dianggap menjadi salah satu cara untuk menelusuri trace atau jejak kolonial dalam bentuk wacana dan narasi (kisah). Melalui kata kunci ini akan menemukan bahwa aspek imperialis akan menanamkan pengaruhnya, dan yang terjajah pun menginternalisasikannya. Pada intinya Pascakolonial memberi jalan pada kita untuk memahami hasyrat hasrat imperialistik dalam berbagai bentuk dan pada saat yang sama meneroka respon masyarakat terhadap hal itu dalam konteks sosial yang beragam. Kemudian narasumber menyampaikan contoh berupa Lyon of the desert, Kolam Renang Cikini, Cas Cis Cus, Pram, dan Si Doel.

Ditengah-tengah pemaparannya, Tommy Christomy, P.Hd menyampaikan kewaspadaan dan harus diperhatikan dengan seksama bahwa kajian Pascakolonial dimulai dengan memetakan adanya konsturksi kategori-kategori atau konsep yang dikemas dalam bentuk berbagai ekspresi yang dikotomis ‘penjajah’ dan yang ‘dijajah’. Tapi dalam studi Pascakolonial, kategori-kategori itu dibahas lebih kritis dengan mempertimbangkan konteks, agency, dan cara-cara wacana atau narasi bekerja. Sehingga besar kemungkinan akan ditemukan bahwa kategori penjajah dan yang dijajah itu pun ternyata satu realitas yang buram blur yang tidak mudah untuk mencari batasnya.

Sebelum Tommy Christomy, P.Hd menutup pemaparannya, beliau membagikan wawasan dari pengalamannya dalam melakukan penelitian kecil sebagai bentuk kenang-kenangan prof. Muhadjir. Beilau mengatakan “Saya menemukan bahwa sejumlah karya sastra klasik yang diterima dan sampai ke kita adalah bagian dari order yang diberikan oleh administratur Belanda. Seorang ilmuwan Belanda meminta staf Gubernur Jendral Belanda di Batavia untuk menuliskan tentan satu kisah yang populer pada zamannya. Pertanyaan saya seandainya, Pak. Belanda tadi tidak meminta menuliskannya apakah kisah itu akan sampai kepada kita? saya kira kasus seperti ini banyak di tempat kita, termasuk cerita-cerita Njadi Dasima, Si Pitoeng dll. yang diangkat dari tradisi lisan untuk keperluan tertentu”.

Dalam penutupan pemaparan ini, narasumber memberikan saran, bahwa dalam pengajaran sastra butuh sikap selektif dalam menyiapkan korpus yang nantinya mampu menjadi capstok (Cantolan) untuk menghasilkan perspektif yang berkaitan dengan topik webinar ini.

Acara webinar ini diakhiri dengan sesi tanya-jawab, yang mana banyak Dosen BSA UIN Jakarta yang mengajukan pertanyaan. Diantaranya adalah Ulil Abshar, S.S., M.Hum. yang menanyakan karya sastra apa yang sesuai dengan pendekatan Pascakolonial. Dalam menjawab ini Tommy Christomy, P.Hd menegaskan bawha tidak ada batas spesifik dalam hal ini. Butuh metode “close reading” dalam mengkaji jejak-jejak kolonial yang bersifat tidak selalu eksplisit. Solusinya adalah kritis dalam membaca untuk menemukan makna-makna yang tersembunyi. Misalnya saja tulisan Ibu Melani Budianta tentang “ Si Dul” yang mana tidak murni berkaitan dengan masyarakat betawi namun terdapat campur tangan kolonial.

Pertanyaan lain juga diajukan oleh M. Husni T, M.A. yang menanyakan terkait apa saja yang bisa diteliti dari muqaddimah dalam ranah Filologi. Dalam hal ini, narasumber menyampaikan banyak yang bisa diteliti dari muqaddimah tersebut, diantaranya saja dalam muqaddimah apakah ada bocoran-bocoran tentang hasil karya yang ditulis dan mengapa penulis menuliskan karya tersebut. Karena faktanya dalam retorika Yunani dapat ditemukan gagasan ringkas yang terdapat dalam muqaddimah tersebut.

Tepat pukul 15.50 webinar ini diakhiri dan ditutup dengan Clossing statement yang disampaikan oleh moderator, Dr. M. Adib Misbachul Islam, M.Hum yang menyampaikan isu jejak kolonial dalam korpus merupakan hal penting untuk menjadi bekal penelitian.