FAH NEWS – Program Magister Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta mengadakan Studium Generale bertajuk “Agama dan Negara di Indonesia Kontemporer” secara hybrid di Ruang Teater Prof. Dr. Bustami Abdul Ghani dan via Zoom Meeting, Kamis (20/10/2022) siang. Kegiatan ini sejalan dengan peluncuran buku Agama dan Negara di Indonesia Kontemporer: Perspektif Teoritis, Sosial, Politik dan Ekonomi yang diterbitkan oleh Social Trust Fund (STF) UIN Jakarta bekerja sama dengan, Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) dan Ikatan Keluarga Alumni Fakultas Adab dan Humaniora (IKAFAH). Kuliah umum yang semula mengundang empat narasumber untuk mengupas seputar topik yang diangkat hanya dihadiri oleh tiga narasumber, di antaranya Fachry Ali, MA, Dra. Lena Maryana Mukti, Prof. Amelia Fauzia., Ph.D. Saat dikonfirmasi, Prof. Dr. Sukron Kamil terlihat tidak hadir hingga akhir kegiatan.

Sambutan Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Prof. Dr. Amany Lubis, M.A. menegaskan bahwa relasi agama dan negara tidak pernah bosan untuk dikaji. Menurutnya, perilaku sosial saat ini sangat disayangkan karena memanfaatkan identitas agama sebagai komoditas politik. Tidak sedikit isu tersebut justru mengakibatkan perpecahan internal bangsa. Pada aspek filantropi, Prof. Amelia Fauzia., Ph.D mencoba menarik benang merah hubungan negara dan agama yang baginya tidak bisa terpisahkan. Hal ini berani ia ungkapkan atas dasar pengalaman lapangan mengamati fenomena filantropi di Indonesia. Lebih dari itu, dirinya juga menyatakan bahwa peluncuran buku Agama dan Negara di Indonesia Kontemporer Perspektif  Teoritis, Sosial, Politik dan Ekonomi diinisiasi oleh Ikatan Keluarga Alumni UIN Jakarta (IKALUIN), terutama Ahmad Zacky Siradj.

Suasana Diskusi saat Studium Generale

Sementara, narasumber lain, Dra. Lena Maryana Mukti (Dubes RI untuk Kuwait) membahas dari sudut pandang yang berbeda. Berdasarkan pengalamannya dalam politik praktis, dia mengamati nasib Islam di Indonesia. “Islam di Indonesia akan tetap mengalami persatuan, tidak akan pecah seperti Timur Tengah,” ujar alumnus UIN Jakarta itu melalui Zoom Meeting di Kuwait Kamis (20/10/2022). Indonesia mendapat keuntungan ganda dengan jumlah populasi muslim mayoritas dan terbanyak di dunia. Tanda tersebut mengindikasikan perkembangan Islam itu sendiri. Namun, fakta di bidang sosial justru kontradiktif dengan harapan di balik “mayoritas”. Kesejahteraan bangsa masih menjadi catatan serius guna perbaikan bersama. Dirinya menjelaskan konsep hubungan agama-negara dengan memetakannya ke dalam tiga tahap, antara lain oposisi, alienasi, dan integrasi. Semua tahapan ini akan dialami beriringan dengan dialektika dinamis. Pergesekan yang diakibatkan oleh pergerakan agama-negara menjadikan stimulan hidup berkebangsaan dan bernegara yang optimistis. Peran agama bagi Negara sangat nyata dan melengkapi. Pada masa pra-kemerdekaan Indonesia, agama berperan penting menyukseskan cita-cita kemerdekaan Indonesia, bahkan turut serta menciptakan perdamaian dunia. Dalam hal ini negara tidak menafikan peran agama, begitu juga sebaliknya agama tidak menafikan eksistensi negara.

Fachry Ali saat menerima cenderamata dari Saiful Umam (Dekan FAH)

Di sisi lain, Fachry Ali, Pengamat Sosial Keagamaan senior memberikan penilaian dan kritikan terhadap buku yang diluncurkan pada kuliah umum tersebut. Menurutnya, beberapa bagian tulisan bunga rampai masih mendapat perhatian untuk disempurnakan. Fachry Ali memandang negara dan bangsa adalah unit yang berbeda, tapi wajib disatukan. Baginya, negara pada dasarnya adalah institusi yang bersifat impersonal, sedangkan bangsa diikat oleh imagined communities. “Refleksi bangsa bukan refleksi Negara, karena negara bersifat impersonal,” tegas penulis buku Merambah Jalan Baru Islam itu. Sebagai hubungan yang dinamis, selalu ada kontestasi antara state dan society. State bersifat agent of modernization yang menciptakan regulasi. “Agama dan negara berfungsi sebagai instrumental, hukum, nilai dan pranata,” pungkas pemilik kanal YouTube Kolom Fachry Ali itu.

Kontributor: Abdurrahman Ad-Dakhil
Editor: AY