Prodi Bahasa dan Sastra Arab Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menyelenggarakan “Sosialisasi Kurikulum Prodi Bahasa dan Sastra Arab” pada Selasa, 12 Januari 2021 pukul 13.00 WIB. Sosialisasi ini dilaksanakan via Zoom Cloud Meeting FAH UIN Jakarta yang diikuti 18-21 dosen BSA UIN Jakarta.

Acara sosialisasi ini bersifat pleno yang dibuka oleh Ketua Prodi BSA UIN Jakarta Ibu Dr. Siti Amsariyah, M.Ag yang selanjutnya dilanjutkan oleh Bapak Dr. Zubair, M.Ag selaku ketua tim penyusunan kurikulum BSA 2020. Dalam pemaparannya, terkait kurikulum yang baru ini secara substansial tidak ada perubahan, namun membuka kesempatan mahasiswa untuk memperoleh serta menambah ilmu dan keterampilan diluar ranah jurusan BSA. Dengan kata lain, prodi BSA akan memfasilitasi mahasiswa untuk lebih berkembang diranah internal maupun eksternal BSA, seperti misalnya magang, matakuliah tambahan, bahkan praktek kerja.

Dalam pemaparan selanjutnya, ketua tim memberikan penjelasan terkait penyusunan kurikulum merupakan sarana untuk pencapaian progam studi. Dengan dasar bahan kajian serta metode pembelajaran yang efektif akan mampu melahirkan jumlah SKS dan mata kuliah yang bersifat urgensi dan krusial sehingga akan tercipta RPS yang tepat dan efektif. Setelah penjelasan ini, ketua tim penyusun memaparkan hasil kurikulum yang telah disusun oleh tim penyusunan kurikulum BSA 2020 didepan audien (secara online). Dalam pemaparannya, terdapat beberapa matakuliah yang dikurangi jumlah SKS-nya jika dibandingkan dengan kurikulum sebelumnya. Diantaranya adalah Shorof, juga matakuliah Maharoh Qiro’ah yang sebelumnya 6 SKS menjadi 4 SKS dengan alasan banyaknya bahan kajian yang berbasis qiro’ah. Kurikulum baru ini juga mempunyai setidaknya empat matakuliah baru yakni : Uslub Al-Arobi, Lahajat Al-Arobiyyah, Adab Indunisy, dan Ijaz Al-Qur’an Adabi Al-Lughowi.


Setelah pemaparan tersebut, muncullah banyak pertanyaan, sanggahan, bahkan kritikan dari audien yakni para dosen BSA UIN Jakarta. Diantaranya adalah Bapak M. Husni T, M.A yang menyanggah sertah menolak terkait penurunan jumlah SKS matakuliah Maharoh Qiro’ah. Mengingat alasan (penurunan jumlah SKS) yang kurang memandang pertimbangan. Bapak Husni menyampaikan bahwa Realitanya dengan jumlah SKS Maharoh Qiroah 6 saja, banyak mahasiswa yang belum mampu mencapai tujuan yang idealis. Harapan dari Bapak Husni yakni jumlah SKS matakuliah Maharoh Qiroah ditambah, minimal dipertahankan diangka 6 (SKS). Penolakan ini pun didukung oleh Ibu Dr. Cahya Buana, M.A dengan mempertegas bahwa matakuliah Maharoh Qiro’ah merupakan bekal utama mahasiswa BSA. Bapak M. Husni T, M.A juga menolak terkait matakuliah Lahajat Arobiyyah yang merupakan diantara matakuliah baru yang urgensinya jauh untuk dipertimbangkan. Mengingat masih banyak matakuliah krusial yang lebih urgent dipelajari mahasiswa Bahasa dan Sastra Arab, harapannya ditiadakan dan dapat menambah SKS matakuliah yang lebih menunjang mahasiswa BSA, seperti Nahwu atau Shorof. Penolakan ini juga sejalan dengan sanggahan Bapak Dr. TB. Ade Asnawi, M.A menyampaikan bahwa Lahajat memiliki banyak versi, dan matakuliah ini mengarah ke versi yang mana ? karena Lahajat merupakan matakuliah yang masuk dalam pembahasan Fiqh Lughoh yang sekarang ditiadakan. Dan Bapak Ade Asnawi tidak setuju jika Fiqh Lughoh ditiadakan, mengingat Fiqh Lughoh merupakan diantara 6 ilmu dasar yang penting untuk memahami bahasa Arab.

Menghadapi polemik seperti ini, Bapak Dr. Zubair, M.Ag selaku ketua tim penyusunan kurikulum BSA 2020 memberikan pengarahan kembali terkait pengurangan maupun penambahan jumlah SKS suatu matakuliah, butuh banyak pertimbangan terkait pencapaian matakuliah berdasarkan bahan kajian, kemudian target dari matakuliah yang bersangkutan serta bahan kajian yang menjadi maroji. Dalam sosialisasi ini juga terjadi polemik terkait jumah total SKS yaitu 144. Polemik ini terjadi karena mempertimbangkan prodi lain yang mampu diangka 150 seperti PBA UIN Jakarta yang mana dengan jumlah 150 SKS tidak akan memperlambat waktu kelulusan mahasiswa BSA. Terkait jumlah SKS, Ibu Yaniah menyampaikan kekhawatirannya bahwa jumlah SKS tidak harus mempertimbangkan dengan prodi lain mengingat bobot matakuliah bagi mahasiswa satu sama lain tidak sama. Hal ini akan berpotensi menurunkan kualitas mahasiswa bersangkutan.

Menanggapi polemik diatas, solusi Bapak Dr. Zubair, M.Ag selaku ketua tim penyusunan kurikulum BSA 2020 serta Ketua Prodi BSA UIN Jakarta Ibu Dr. Siti Amsariyah, M.Ag adalah membentuk tiga tim, yakni Tim Bahasa, Tim Sastra, dan Tim Umum. Dengan fokus menyelesaikan pengubahan bangunan kurikulum BSA 2020 baik mengubah jumlah SKS maupun mengubah istilah penamaan matakuliah dalam 2 hari ke depan (Kamis, 14 januari 2021).