FAH NEWS – Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta gelar buka puasa bersama untuk kali pertama sejak pandemic Covid-19 melanda Indonesia 2 tahun belakangan. Kegiatan buka puasa bersama ini berlangsung di gedung Fakultas Adab dan Humaniora, Ruang Teater Abdul Ghani lantai 5. Agenda yang dinamakan “Pengajian dan Buka Puasa Bersama” ini sebenarnya adalah kegiatan lanjutan dari acara Workshop Akreditasi Internasional Prodi yang berlangsung pada hari yang sama, Kamis, 21 April 2022.

Sedikit berbeda dari kegiatan sebelumnya yang hanya dihadiri oleh jajaran dekanat serta para kaprodi dan wakaprodi, agenda buka puasa bersama yang berlangsung sejak pukul 16:30 – 17:45 WIB ini dihadiri oleh lebih banyak peserta yang terdiri dari seluruh elemen Fakultas Adab dan Humaniora serta dosen tamu yang berasal dari Mesir.

Dalam sambutannya, Dekan Fakultas Adab dan Humaniora Saiful Umam, Ph. D, mengucapkan terima kasih kepada para dosen dan staf Fakultas Adab dan Humaniora yang telah bersedia hadir. Faizal Arifin, CPNS Dosen Prodi SPI selaku pemandu acara pada kegiatan tersebut membacakan dua profil pemateri yang salah satunya berasal dari Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir. yakni Dr. Fathallah Muhammad.

Pada sesi materi pertama, Dr. Ulil Abshar, M.Hum membawakan materi ringan yang membahas tentang makna Ramadhan bagi akademisi intelektual. Ulil mengajak para akademisi intelektual bermuhasabah diri di bulan suci tahun ini. Ia berharap Ramadhan tahun ini dapat dimanfaatkan oleh para akademisi intelektual sebagai media fasilitator untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

“Bulan Ramadhan menjadi waktu yang tepat untuk bermuhasabah. Keistimewaan dan fasilitas yang dimiliki Ramadhan bisa saja menyegerakan tumbuhnya kesadaran kembali pada diri kita bahwa segala macam kepangkatan ilmiah, standar akademik hanyalah media dan wasilah semata, bukan tujuan utama”, ujarnya

Dalam kesempatan tersebut, dosen prodi Tarjamah tersebut berpesan agar ilmu yang dimiliki oleh para intelektual akademisi tidak menjadi penghalang untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. “Jangan sampai ilmunya Allah jadi barang yang paling menghalangi diri kita kepada Allah,” tambahnya.

Lanjut pada sesi materi yang kedua. Syekh Fathullah Muhammad asal Mesir ini membawakan materi menggunakan Bahasa Arab. Muhammad Annas, MA, dosen CPNS prodi Tarjamah lulusan Universitas Al-Azhar, Mesir berperan sebagai penerjemah dalam sesi materi tersebut. Syekh Fathullah Muhammad, dosen tamu yang mengajar prodi Tarjamah dan Bahasa dan Sastra Arab membawakan materi ringan yang membahas tentang kisahnya Ibnu Mas’ud dan Abu Jahal dalam peristiwa perang Badar.

Kisah tersebut merupakan sebuah risalah atau kode bahwasanya Islam itu tidak dapat dikalahkan. Abu Jahal dengan kondisi yang sudah hampir tewas dalam peristiwa perang Badar masih menyombongkan diri kepada Ibnu Mas’ud. Ibnu Mas’ud yang telinganya pernah dibuat putus oleh Abu Jahal kemudian pada peristiwa perang Badar tersebut melakukan balas dendam dengan mengikat telinganya. Inilah yang disebut sebagai balasan kepada orang yang telah melakukan kesalahan kepada orang lain haruslah setimpal.

Di akhir sesi materi, dosen al-Azhar Kairo tersebut mengingatkan materi tentang Lailatul Qadar. Ia menutupnya dengan 4  alasan adanya malam Lailatul Qadar.

“Disebut Lailatul Qadar karena ada 44 hal. Pertama, karena pada malam tersebut turun malaikat Jibril kemudian membawa kitab Dzul Qadrin, kitab yang memiliki keagungan kepada seorang rasul yang Dzul Qadrin Aidan, memiliki keagungan untuk umatnya Rasulullah SAW yang memiliki keagungan. Disamping itu ada satu lagi Niqab, terakhir adalah Qadar, berarti Dhoif yaitu kesempitan yang artinya disini malaikat bahwa pada malam tersebut turun semuanya dari  langit ke bumi, sehingga bumi  pada malam itu menjadi sempit”, Annas menyampaikan setelah Syekh selesai berbicara dalam bahasa Arab.

Memasuki waktu Maghrib, Faizal Arifin mengakhiri kegiatan silaturahmi tersebut. Acara kemudian ditutup dengan pembacaan doa yang dipimpin oleh ustadz Didin Sirojuddin AR.***