Pimpinan FAH, Dekan dan para Wakil Dekan

Bogor – 07/04/21 – Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sukses menggelar Rapat Kerja Tahun 2021, kegiatan raker ini dilangsungkan selama 3 hari 2 malam dimulai pada hari Senin hingga Rabu, bertepatan dengan tanggal 05 – 07 April 2021 bertempat di Padjajaran Suites Resort and Hotel di kota Bogor, Jawa Barat. Jumlah peserta sesuai dengan surat tugas yang dikeluarkan oleh Dekan adalah 65 orang, namun yang hadir dalam kesempatan ini sejumlah 45 orang. Dan seluruh peserta yang hadir ini telah melalui protokol kesehatan ketat, diantaranya; sebelum dan setelah acara melakukan tes SWAB Antigen, selama acara berlangsung pun peserta wajib mengenakan masker medis dan dilengkapi alat prokes lainnya seperti hand sanitizer, sarung tangan, maupun menjaga jarak satu sama lain.

Suasana Rapat Kerja FAH

Alasan memilih tempat di Bogor ini lantaran panitia tidak mendapatkan jadwal di Gd. Syahidda Inn karena sudah full book, merasa raker ini perlu dilakukan sebelum Ramadhan maka dipilihlah opsi tempat ini dengan pertimbangan jarak tempuh yang terjangkau pula. Raker kali ini membahas target implementasi di tahun 2021 dan rencana target & program untuk tahun 2022. Tema raker kali ini merupakan turunan dari Raker UIN yang telah diselenggarakan sebelumnya, menyoal PTN-BH; “Optimalisasi Tata Kelola dan Jaringan Kerjasama FAH dalam upaya Akselesari UIN Jakarta menjadi PTN-BH”. Dengan mengundang narasumber dari IPB yaitu Dr. Ir. Fredinan Yulianda, M.Sc yang merupakan Dekan di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) IPB University Bogor. Acara pembukaan dimulai pada Senin malam pukul 19.30 WIB, acara di buka secara resmi oleh Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Dr. Hj. Amany Lubis, MA. Meskipun tak dapat hadir secara langsung karena padatnya jadwal beliau, Ibu Rektor menyempatkan diri bergabung secara online melalui zoom meeting.

Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Dr. Amany Lubis, MA

Rektor di awal sambutannya sempat memuji FAH sebagai salah satu Fakultas yang kinerjanya sangat baik, melalui indikator e-sms misalnya dikatakan FAH mendapat peringkat pertama. Rektor juga menyambut baik raker FAH ini dan berharap FAH menjadi unit atau Fakultas yang membantu dalam pengembangan UIN menuju PTN-BH, ia seraya berharap tahun ini status tersebut bisa segera disandang. “Saya harap fakultas tetap eksis, saat ini UIN jakarta sudah melakukan upaya dan proses pengajuan alih status itu. Saat ini di kementerian Agama sedang menyusun kerangka PTN-BH, menyesuaikan statuta lama dengan statuta yang baru”. imbuhnya.

Adapun rektor juga berpesan, dari segi akademik banyak hal yang mesti dikejar, ia menilai karya ilmiah dosen dirasa sangat penting. Rektor pun terus berharap FAH dapat meningkatkan karya-karya dosennya baik dalam segi penelitian, penulisan artikel jurnal yang terindeks, maupun penulisan buku agar lebih produktif lagi. Soal kemahasiswaan juga harus menjadi perhatian, ia menyerukan kepada fakultas untuk bisa meningkatkan dan memperhatikan minat bakat mahasiswa, memperkuat dan menambah prestasi mahasiswa, rektor ingin mahasiswa agar selalu berprestasi baik itu secara akademis maupun non-akademis, ia juga menekankan untuk cepat selesai studinya. Terakhir rektor menekankan kepada prodi bahwa dalam tugasnya adalah untuk mencari uang, untuk melakukan program, kegiatan-kegiatan sosial dan kegiatan lainnya sehingga dapat membantu kinerja rektor secara umum.

Dekan FAH, Saiful Umam, Ph.D

Adapun target dalam raker 2021 kali ini adalah, membicarakan tentang implementasi renstra FAH, pematangan rencana kerja dan program tahun 2021, serta perumusan rencana kerja tahun 2021. Rangkaian acara berjalan dengan baik dan lancar, mulai dari pra-raker, sidang komisi (terbagi menjadi 3 komisi; Komisi Akademik, Komisi Adminstrasi Umum & Keuangan, dan Komisi Mahasiswa, Alumni dan Kerjasama), sidang pleno dan paripurna hingga menghasilkan ketetapan. Dalam pandangannya, Saiful Umam selaku Dekan FAH menyampaikan, “Kita ingin belajar dari fakultas yang universitasnya sudah menjadi PTN-BH, sekiranya apa saja yang perlu di programkan dan direncakan oleh fakultas. Tentu pengajuan UIN menjadi PTN-BH perlu disikapi dengan tepat dan sigap. Jadi nantinya bila sudah berubah statusnya jadi PTN-BH kita sudah siap dan gak kaget”. Dalam sambutannya menjelang pemaparan materi dari narasumber. Dia menambahkan, “Banyak hal yang kita bahas dalam raker ini, tak hanya soal evaluasi program kerja dan rencana kegiatan saja yang mungkin dapat masukan atau revisi disini, saya ingin kita fokus juga dalam memikirkan program green campus; banyak yang bisa dilakukan dalam program ini, misalnya mengefektifkan penggunaan energi (penggantian lampu, pemilahan sampah dsb), mengurangi botol plastik dan saya ingin kita juga bisa menyediakan air mineral Reverse Osmosis (RO).

Kemudian untuk mengantisipasi semester depan yang mungkin akan mulai dilakukan ujicoba perkuliahan tatap muka kembali, meski tak akan mungkin seperti sebelum pandemi Covid-19. Dekan berharap seluruh komponen di FAH sudah siap untuk menghadapinya. “Ya ini juga kita perlu mengantisipasi semester depan, mungkin akan mulai ada perkuliahan tatap muka, meski tak semuanya, kita bisa lakukan blanded learning nah ini kita perlu antisipasi, seluruh perangkat, baik sarana pra-sarana, tendik, dosen-dosen harus dikoordinasikan.” tambahnya. Selanjutnya soal International Conference juga ditekankan agar persiapan bisa dilakukan dengan matang, soal alumni, dekan juga ingin ada pertemuan agak besar dengan memanfaatkan jaringan alumni yang dimiliki FAH untuk bisa berkontribusi terhadap pengembangan FAH. Terakhir soal pemetaan (expertise) dosen juga dirasa penting dan perlu segera dilakukan untuk memudahkan penugasan serta membuat mahasiswa mendapatkan esensi materi dari setiap mata kuliah yang diampu.

Dr. Ir. Fredinan Yulianda, M.Sc, Narasumber Utama yang juga Dekan FPIK IPB University Bogor

Jika berbicara mengenai PTN-BH, pengalaman IPB ini tak selamanya terlihat mulus dalam perjalanannya ada manis dan pahitnya juga. Untuk menjadi manis, syarat pahitnya harus dipenuhi terlebih dahulu. Perguruan Tinggi yang dewasa adalah yang mandiri, artinya ketergantungan dengan pemerintah semakin kecil. “Kalau hanya melihat dari luar memang terlihat enaknya saja, akan tetapi kebutuhan anggaran cukup besar, di sisi pemerintah pun dibatasi juga, meski suplai anggaran lebih besar dari BLU, namun target capaiannya dan daya saingnya besar juga sebuah perguruan tinggi berbadan hukum harus mampu go international.” tutur Fredinan Yulianda.

Untuk menjadi PTN-BH sebuah perguruan tinggi wajib memiliki kekayaan awal berupa kekayaan negara yang dipisahkan kecuali tanah, tata kelola dan pengambilan keputusan secara mandiri, unit yang melaksanakan fungsi akuntabilitas dan transparansi, hak mengelola dana secara mandiri, transparan dan akuntabel, wewenang mengangkat dan memberhentikan sendiri dosen dan tenaga kependidikan, dan terakhir wewenang untuk membuka, menyelenggarakan dan menutup program studi.

Terkait dengan pendanaan penelitian misalnya, setiap dosen di Fakultas maupun di IPB kegiatannya harus terikat dengan institusi, terikat ini banyak macamnya, ada yang terikat dengan sistem pendanaan, pribadi, kerjasama dan lain sebagainya. Pertanyaan mengenai pendanaan ini memang yang sering muncul, karena ini memang sensitif sekali.

Pemberian Cenderamata untuk Narasumber dari Dekan FAH

Setiap perguruan tinggi yang berbadan hukum wajib punya usaha mandiri yang dikelola oleh universitas. Adapun dana-dana lainnya seperti dari pemerintah maupun UKT mekanisme pengelolaannya harus benar-benar transparan dan akuntabel. Dana UKT di IPB dikembalikan untuk penggunaan proses manajemen akademik dan supporting akademik, sehingga dikembalikan ke fakultas. dan fakultas sendiri tidak mendapat adminstrasi alokasi UKT. Semua diatur dalam organisasi manajemen dibawah departemen, baik itu pengelolaan aset mahasiswa dan dosen. Terkait pembagian fee, di IPB tidak ada rekening yang tidak diketahui institusi. di IPB ada 2 rekening, yaitu rekening IPB dan Rekening Institusi. Rekening fakultas pakainya rekening IPB. Departemen tidak boleh melakukan kerjasama meskipun nantinya teknisinya di departemen. Fakultas yang melakukan MoU dan dilaksanakan di tingkat departemen. Jika fakultas melakukan kerjasama dan ada pendanaan untuk fakultas, maka menggunakan rekening IPB. Jika fakultas ingin mengambil dana tersebut, maka fakultas harus mengambilnya ke institusi dengan tandatangan dekan.