FAH NEWS – Prodi Studi Bahasa dan Sastra Inggris (SI) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menggelar Seminar Online yang bertajuk “Ecofeminism in Literary Studies” pada Selasa, 14/06/2022. Acara ini diselenggarakan melalui media Zoom Meeting yang dihadiri oleh partisipan publik dari berbagai daerah. Diselenggarakannya seminar online ini menghadirkan pembicara ahli mengenai Ecofeminism yakni Dr. Septiana Dwiputri Maharani, Dosen dari Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Dr. Suma Riella Rusdianti, Dosen Filsafat dari Universitas Indonesia (UI). Dalam sambutannya, Kaprodi Sastra Inggris, Hasnul Insani Djohar, Ph.D menyampaikan bahwa ecofeminism ini merupakan konsep panjang yang berelasi langsung dengan kehidupan. Sehingga, pengetahuan mengenai teori ini perlu dibahas dan didiskusikan lebih mendalam.

Sebagai pembicara pertama, Dr. Septiana bersyukur bahwasanya telah disediakan forum yang baik untuk mendiskusikan masalah yang tidak akan pernah habis mengenai ecofeminism. Bu Septi memaparkan materinya dari sudut pandang filosofis mengenai apa yang kita lihat bersama dari ecofeminism, apa yang kita pikirkan bersama sampai perkembangannya pada aspek sastra. Ecofeminism dituturkan sebagai bagian dalam feminisme, yang mana nampak persamaan bahwa ada keterkaitan antara penindasan terhadap perempuan dan perusakan terhadap alam. Hal ini karena ecofeminism melihat secara historis bahwa perempuan yang tertindas, setara dengan penindasan terhadap alam. Oleh karena itu, ecofeminism memandang adanya relasi historis. Pandangan ecofeminism menawarkan adanya relasi harmoni antara manusia dengan alam, karena didalamnya terdapat relasi historis yang mengandung konsep teoritis, empiris dan simbolis yang mendominasi terhadap perempuan dan alam.

“Maka, disinilah bagaimana ecofeminism mendudukkan manusia sebagai ‘partner’ kepada alam untuk menjadikannya bagian dari kehidupan manusia yang sama-sama hadir. Dan kemudian malah terjadinya penindasan” ujar Bu Septi. Akar permasalahan dalam relasi penindasan inilah yang kemudian dibidik oleh pandangan ecofeminism. Relasi ini meniadakan aspek antroposentris yang dibuktikan dengan manusia memiliki kuasa untuk unjuk gigi atas apa yang bisa mereka lakukan terhadap alam. “Segala tentang manusia yang harus bersahabat, memiliki rasa hormat pada alam, hidup dengan layak dan memiliki sifat bergantung pada alam. Semuanya menjadi tiada akibat relasi penindasan ini” terang Bu Septi. Urgensi atau misi ecofeminism ialah membuat alam menjadi sejahtera yang sama dengan perempuan yang harus disejahterakan. Pemberdayaan dan kesejahteraan yang terjamin. Inilah yang menjadi misi utama ecofeminism. Ecofeminism memandang bahwa penghancuran atau perusakan alam disebabkan karena adanya juga operasi terhadap perempuan. Serta lebih jauh mengenai persoalan yang muncul akibat isu ini dan gerakan ecofeminism yang ada di kehidupan nyata, diterangkan lebih lanjut oleh dosen dari Universitas Gadjah Mada tersebut.

Pada materi kedua yang disampaikan oleh Dr. Suma Riella Rusdianti, ia menyampaikan bagaimana penerapan ecofeminism dalam Studi Sastra. Bu Riella menekankan bahwa sebenarnya, ecofeminism berasa dari dua raksasa pendekatan sastra; teori eco-critic dan feminism. “Kedua hal itulah yang saat ini masih relevan terus beradaptasi dengan masalah-masalah perempuan pada saat ini.” Ujarnya. Ia pun menyampaikan bahwa eko-kritik dan feminisme beririsan pada sumber alam yang mana terkandung dua hal, antroposentris dan dualisme oposisi bahwa masyarakat cenderung melihat dalam pandangan oposisi biner. Sehingga, dari analisis Derrida yang menjadi masalah ialah hadirnya hierarchy metaphysis. Dualisme oposisi biner inilah yang tanpa kita sadari akan selalu ada salah satu hal yang menempati posisi yang lebih tinggi satu sama lain. “Ecofeminism dalam sastra berarti kita dihadapkan dengan tiga hal, yang pertama kajian sastra itu sendiri, kedua eko-kritiknya dan terakhir feminismenya. Ketiga hal inilah yang mau tidak mau harus kita kuasai” pungkas Bu Riella. Dalam pemaparan lebih jauh, dirinya menyampaikan apa yang perlu kita ubah dalam pikiran kita pada saat akan menggunakan ecofeminism. Kemudian, apa saja yang membedakan ecofeminism ini sebagai sebuah pendekatan sastra dibandingkan dengan yang lain. Semua dipaparkan dengan runut dan jelas oleh Dosen Universitas Indonesia tersebut.

Akhmad Zakky, sebagai moderator pada seminar ini menyimpulkan, bahwa terdapat dua hal yang perlu digarisbawahi. Yaitu adanya oposisi biner antara ekosentrik dan antroposentris. Ekosentrik berfokus pada keadilan gender, sedangkan antroposentris lebih bernuansakan patriarki. Kemudian ketika kita ingin menggunakan ecofeminism sebagai sebuah pendekatan, maka kita perlu melihat kembali teks lama yang terdapat paham ecofeminism. Hal ini sangat penting untuk meneliti lebih jauh apakah alam diperlakukan hanya sebagai objek, latar atau sebagai subjek. Sebagai closing statement, Bu Septi mengatakan bahwa diskusi tentang teologi ecofeminism ini tidak akan berhenti hanya sampai disini. “Masih sangat banyak masalah yang berkaitan dengan hal tersebut, sehingga kita tidak hanya memperbincangkan tapi kita juga perlu melakukan tindakan. Tindakan seperti menjaga perilaku kita terhadap alam agar hadirnya relasi harmoni”. pungkas pembicara dari Universitas Gadjah Mada tersebut.

Kontributor: Rianti Devi Candra
Editor: AY