Ciputat, 30-05-22 – Program Studi Magister Bahasa dan Sastra Arab, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta mengadakan Workshop Teknis Penulisan Ilmiah pada hari Senin (30/5/2022). Kegiatan ini sebagai rangkaian kegiatan Prodi guna mendukung peningkatan skill mahasiswa MBSA dalam menulis karya ilmiah, khususnya Tesis. Workshop yang diadakan oleh Prodi MBSA turut mengundang narasumber dari luar, yakni Dr. Untung Yuwono. Ia adalah Dosen Linguistik, Universitas Indonesia sekaligus penulis artikel ilmiah yang produktif. Kegiatan workshop dilaksanakan secara daring melalui Zoom Meeting. Antusiasme cukup tinggi dirasakan dengan capaian sekitar 70 peserta di awal kegiatan. Ada pun kegiatan tersebut terbagi menjadi dua sesi. Sesi pertama mulai pukul 09.30 hingga 12.00, dan sesi kedua mulai pukul 13.00 hingga 15.00 WIB.

Sasaran utama kegiatan ini adalah pihak internal Prodi MBSA, baik kalangan dosen atau mahasiswa MBSA. Namun, tidak menutup kesempatan bagi pihak luar yang ingin bergabung dalam workshop.  Ada juga beberapa mahasiswa Strata 1 yang mengikuti kegiatan ini hingga tuntas. Daya tarik tersendiri berasal dari rasa penasaran dan minat mahasiswa terhadap penulisan ilmiah yang baik dan benar. Dekan FAH, Saiful Umam, Ph.D. dalam sambutannya menghimbau agar kegiatan semacam ini tidak hanya diikuti sebagai wujud sebatas memantapkan persiapan menulis tesis saja, akan tetapi juga diterapkan pada penulisan ilmiah berkelanjutan. “Saya kira itu penting untuk dipraktikkan, kemudian dipertahankan, kemudian dilaksanakan dalam tradisi tulis menulis,” terangnya.

Perlu diketahui bahwa dalam teknik penulisan berbeda dengan teknik ujaran. Gaya penulisan bukan gaya tuturan karena memiliki perbedaan pada pemilihan kata yang lugas dan ringkas. Pola yang digunakan dalam bahasa tulis adalah menerapkan subjek, predikat, objek, dan keterangan terkandung dalam tulisan. Tantangan terbesar bagi masyarakat Indonesia secara umum adalah kebiasaan berbicara lebih dominan ketimbang menulis. Oral habits apabila sudah bisa dikontrol, maka implikasinya terhadap teknik menulis akan seimbang dan stabil. Dalam menulis karya ilmiah terdapat metodologi awal kelahiran penulisan ilmiah. Sosok yang menelurkan metodologi tersebut adalah Louis Pasteur pada paruh abad ke-19 dengan menampilkan struktur IMRAD (Introduction, Methodology, Results, and Discussion). Tahap introduction meliputi permasalahan yang akan diteliti, kemudian methodology memuat bagaimana permasalahan itu diteliti. Selanjutnya, results merupakan hasil dari penelitian tersebut, dan discussion adalah arti dari temuan sebuah penelitian yang dilakukan. Anggapan bahwa karya ilmiah merupakan sesuatu yang runyam menjadikan proses penulisan tersebut sulit diselesaikan, bahkan untuk tahap penelitian terkadang mengalami keputusasaan di tengah jalan. “Biasanya berputar-putar karena menganggap karya ilmiah itu sesuatu yang berada di luar dunia kita. Sesuatu yang rumit, sesuatu yang kompleks ketika dia menulis terpengaruh oleh pikiran itu,” ujar Yuwono.

Sistematika penyajian penulisan ilmiah memiliki unsur penjelasan yang tepat. Nilai keakuratan dari penulisan ilmiah juga dilihat dari hasil kesimpulan penelitian. Tidak lepas dari itu, keobjektifan dalam meneliti menjadi poin vital sebuah penelitian. Semua unsur ini dinarasikan dengan penggunaan bahasa yang lugas dan mudah dipahami. Penulisan ilmiah harus diawali dengan latar belakang yang jelas. Latar belakang dalam karya ilmiah di antaranya, alasan penelitian diadakan, fungsi alasan berupa penyebab perencanaan penelitian dan dasar penetapan masalah penelitian, serta pernyataan tesis karya ilmiah. Adapun rumusan masalah dalam karya ilmiah tidak harus berupa kalimat tanya. Sementara itu cara untuk memperoleh masalah penelitian bisa melalui bacaan hasil penelitian terdahulu, terutama jurnal; berdiskusi; melakukan pengamatan awal; dan tahapan pendukung lainnya. Banyak hal yang tanpa disadari oleh penulis, baik kalangan mahasiswa, dosen, dan peneliti masih terjebak dalam kesalahan umum yang membedakan ciri penulisan karya ilmiah. Penggunaan kata baku dan formal menjadi syarat mutlak penulisan karya ilmiah untuk membedakan antara karya ilmiah dan percakapan sosial. Selain itu, mengutamakan kata bahasa Indonesia ketimbang bahasa asing karena tugas peneliti dan penulis ilmiah sebagai kontributor pengembangan bahasa Indonesia. Perlu dicatat, hal ini dilakukan apabila sudah terdapat padanan kata asing ke dalam bahasa Indonesia. “kita sebagai peneliti, sebagai penulis ilmiah tertuntut untuk berkontribusi bagi pengembangan bahasa kita, bahasa laras ilmiah. Tidak perlu didampingi kata asingnya,” pungkas Dosen Linguistik, Untung Yuwono. Pedoman penulisan kata yang akan dijadikan penulisan ilmiah sudah memiliki standar baku. Sementara ini, masih menggunakan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI). Menurut Yuwono, ada rencana ke depan akan mengalami perubahan pedoman yang dilakukan oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.

Kontributor: Abdurrahman Ad-Dakhil

Editor: AY