FAH NEWS – Memahami tantangan dunia kerja yang lebih kompleks di era Industri Digital 4.0, Program Studi Ilmu Perpustakaan, Fakultas Adab dan Humaniora, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menyelenggarakan Workshop SKPI (Surat Keterangan Pendamping Ijazah) bertema “Content Creator 101Workshop yang dilaksanakan secara hybrid (daring dan luring) pada Senin, 23 Mei 2022 ini menghadirkan Ade Kurnia Irawan, content creator salah satu perusahaan yang bergerak dalam bidang Kesehatan sebagai narasumber. Dengan mengangkat tema “Content Creator 101”, Ade, yang juga seorang pengusaha di bidang kuliner ini membagikan ilmu dasar seputar content creator kepada para mahasiswa yang ditargetkan sebagai peserta.

Saiful Umam, Dekan FAH UIN Jakarta

Saiful Umam, Dekan Fakultas Adab dan Humaniora, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta memberikan sambutannya melalui aplikasi Zoom Meeting. Dalam sambutannya ia mengatakan bahwa sertifikat dari workshop Content Creator 101 tersebut nantinya akan berguna sebagai surat keterangan pendamping Ijazah. “Workshop SKPI, SKPI itu sebetulnya adalah surat keterangan pendamping ijazah. SKPI adalah soft skill atau skill di luar kompetensi dasar yang dimiliki oleh mahasiswa”, katanya dalam sambutan, Senin (23/05/2022). Dekan Fakultas Adab dan Humaniora tersebut berharap agar para mahasiswa tidak hanya memperoleh selembar sertifikat melainkan kemampuan baru yang bermanfaat. “Maksud dari diadakannya pelatihan workshop seperti ini diharapkan kalian nantinya punya skill dan soft skill tambahan. Oleh karenanya saya berharap betul bahwa anda tidak hanya menerima kertas selembar sertifikat. Harapan saya anda betul-betul punya kemampuan tambahan di luar kompetensi anda yang belajar dari pak Ade hari ini. Saya berharap betul bahwa kesempatan di siang hari ini bisa diaplikasikan dan dimanfaatkan sehingga pada saat nanti lulus anda punya skill tambahan di luar kompetensi dasar terkait dengan konten kreator”, jelasnya.

Riyan Adi Putra Dosen IP bertindak sebagai Moderator Workshop

Ia juga menegaskan tujuan dilangsungkannya workshop tersebut tak lain adalah untuk menyiapkan mahasiswa Ilmu Perpustakaan agar memiliki kemampuan tambahan di luar kompetensi sebagai bekal menghadapi persaingan di dunia kerja. “Kami sengaja berusaha membekali kalian semua dengan hal-hal yang tidak hanya bersifat akademik tapi juga dengan skill lain yang bermanfaat. Ketika anda memasuki dunia kerja dimana tantangan dan kebutuhan seseorang bukan sekedar kebutuhan akademik tetapi juga kemampuan di luar akademik”, ia menegaskan. Ryan Adi Putra, selaku pemandu berjalannya acara tersebut memaparkan beberapa profesi baru yang bermunculan saat ini, dan content creator adalah salah satunya. “Seperti yang kita ketahui di era digital sekarang ini, banyak sekali profesi yang bermunculan seperti data analyst, data engineer, ada youtuber, social media specialist dan tentunya konten kreator”, ia memaparkan. “Untuk persaingan di dunia kerja saat ini, seorang lulusan itu dituntut memiliki skill tambahan agar dapat bersaing di dunia kerja. Salah satu skill yang didapatkan peserta workshop kali ini adalah menjadi seorang konten kreator”, tambahnya.

Memasuki sesi Materi, Ade Kurnia Irawan membukanya dengan melemparkan beberapa pertanyaan terkait content creator, mulai dari pengertian, keuntungan menjadi content creator hingga content creator favorit para mahasiswa. Ia juga mengatakan, dunia content creator itu sangat luas dan siapapun bisa menjadi content creator. Namun dalam workshop SKPI yang mengusung tema Content Creator 101, 101 merupakan term yang menandakan sesuatu yang sangat dasar banget. Hal yang sangat dasar bagi seorang content creator adalah menentukan value dari suatu konten. “Ketika konten memiliki nilai lebih, orang-orang akan lebih mau nge-share. 94% orang akan mau mempertimbangkan nilai informasi dari sebuah konten sehingga mereka mau membagikannya”, Adi menerangkan.

Untuk mendapatkan suatu konten yang memiliki value, konten tersebut akan dibuat melalui proses yang panjang. Mulai dari riset, kemudian dianalisis dan kembali ke riset lagi. “Semua konten itu dibuat dengan proses yang panjang. Kita melalui riset, kita perlu riset. Setelah riset kita lakukan, kita eksekusi. Habis eksekusi kita analisis. Maksudnya analisis adalah melihat kurangnya apa ya? Setelah itu baru kita riset ulang. Kira-kira kalo konten ini gua lempar ke khalayak ramai, ditangkap gak yah? Ketika dikeluarin, kontennya kita putar lagi terus nanti kita analisis lagi jadi berulang-ulang disitu aja”, katanya.

Menurutnya, konten adalah investasi di masa depan. Dengan adanya jejak digital, konten yang telah dibuat di beberapa tahun silam dapat dilihat kembali untuk dipelajari sisi kelebihan dan kekurangannya. Selain itu konten dapat dijadikan sebagai portofolio untuk melamar sebuah pekerjaan. Ada 3 hal yang harus diperhatikan oleh content creator, pertama; kenali target pasar, kedua; menambahkan nilai dari setiap konten yang dibuat, ketiga; konsisten dalam membuat konten. Menjadi konten kreator tidak bisa dilakukan satu dua hari. Perlu proses untuk mencapainya dan konsistensi adalah sebuah kunci.

Ade Kurnia Irawan, Narasumber Utama Workshop

Adi Kurnia Irawan juga membagikan tips bagi mahasiswa yang akan mulai untuk membuat konten, pertama, mulailah dengan sebuah masalah, kemudian hadirkan solusi dalam konten, dan terakhir punya sebuah cerita yang menarik atau mampu menceritakannya dengan baik kepada pemirsa. Agenda yang berlangsung dari pukul 13.30 WIB diakhiri dengan sesi workshop dimana narasumber memberikan case atau kasus yang kemudian meminta para peserta untuk memecahkan masalahnya. Kegiatan yang dihadiri oleh civitas akademika dan juga Ketua Prodi Ilmu perpustakaan, Siti Maryam, beserta Sekretaris Prodi, Amir Fadhilah selesai pada pukul 16.30 WIB.

Kontributor: Rizka Sentia
Editor: AY