Ciputat, Tangsel – 25/05/2021 – Program Studi Bahasa dan Sastra Arab menggelar serial kuliah tamu bertema “Manuskrip Nusantara dan Kekayaan Tradisinya,” Selasa (25/5). Ketua Program Studi Bahasa dan Sastra Arab, Dr. Siti Amsariah, M.Ag, dalam sambutannya menyebut bahwa diskusi ini merupakan salah satu upaya untuk pengembangan mutu akademik program studi.

“Kami memberikan keleluasan kepada setiap dosen untuk melakukan pengembangan ilmu pengetahuan melalui kerja sama jejaring intelektual baik sesama dosen di dalam maupun luar negeri,” ungkap Siti Amsariah.

Gambar 1. Siti Amsariah, M.Ag (Ketua Program Studi Bahasa dan Sastra Arab)

Diskusi ini dilaksanakan sebagai bagian dari penyelenggaraan perkuliahan bidang ilmu Kodikologi pada semester genap. Muhammad Nida’ Fadlan selaku dosen pengampu mata kuliah Kodikologi menyebut bahwa diskusi ini bertujuan untuk memberikan perspektif dan rangsangan kepada civitas akademika Fakultas Adab dan Humaniora untuk terus mengembangkan kajian pernaskahan tidak hanya dari perspektif kajian tekstual semata melainkan meluas pada kajian-kajian tradisi yang melingkupinya.

“Fakultas Adab dan Humaniora UIN Jakarta adalah perintis kajian pernaskahan di perguruan tinggi keislaman di Indonesia. Oleh karenanya, kita memiliki tanggung jawab besar untuk terus merawat tradisi ini agar semakin semarak lagi,” ungkap Nida.

Diskusi ini menghadirkan dua ahli pernaskahan Nusantara yaitu Roberta Zollo dari University of Hamburg, Jerman, dan Abdullah Maulani dari Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Keduanya kompak memaparkan bagaimana kekayaan tradisi masyarakat Nusantara dalam merawat kekayaan memori intelektualnya.

Dalam paparannya, Roberta Zollo menyoroti kekayaan tradisi pernaskahan Batak yang sangat jarang dikaji. Menurutnya, para peneliti seringkali hanya berfokus pada kajian teks semata. Padahal, keberadaan manuskrip itu sendiri menggambarkan bentuk tradisi masyarakat Nusantara yang kompleks, struktur sosialnya, hingga menunjukkan upaya keras bagaimana masyarakat setempat merawat ingatannya di masa silam.

“Di masa sekarang, kita tidak bisa lagi mengetahui bagaimana mereka bisa menghasilkan manuskrip dengan bentuk yang rumit. Mereka harus naik ke atas pohon yang tinggi, mengupas kulit kayu secara perlahan, lalu menulisinya. Prosesnya membutuhkan waktu yang sangat lama,” ungkap Roberta.

Gambar 2. Roberta Zollo, MA (Narasumber 1)

Untuk merawat tradisi tersebut tetap diingat oleh generasi mendatang, Abdullah Maulani mengajak semua pihak khususnya mahasiswa untuk menyemarakkan kajian terhadap tradisi manuskrip Nusantara. Pria yang akrab disapa Alan ini mengemukakan trik jitu bagi peneliti pemula agar tidak patah semangat ketika melakukan penelitian terhadap manuskrip Nusantara, diantaranya adalah memanfaatkan keberadaan katalog dan database manuskrip yang sudah online.

“Peneliti pemula seringkali terburu-buru dalam meneliti manuskrip. Mereka ingin segera mencari manuskrip yang tersimpan di tangan-tangan masyarakat secara langsung di lapangan. Hal ini membutuhkan usaha yang ekstra. Ada banyak katalog naskah dan database manuskrip yang sudah online. Ini bisa dimanfaatkan sebagai langkah awal,” ungkap Alan.

Gambar 3. Abdullah Maulani, M.Hum. (Narasumber 2)

Selain dihadiri oleh dosen dan mahasiswa Fakultas Adab dan Humaniora, diskusi ini juga disaksikan oleh para penikmat kajian manuskrip Nusantara di luar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta melalui tayangan langsung (live streaming) Youtube.