021-7401928 fah@uinjkt.ac.id

Ciputat – 20 Mei 2020, Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta kembali menggelar Ramadan International Seminar (Webinar) di minggu terakhir bulan puasa. Tema yang di angkat pada webinar FAH series#4 kali ini adalah “Toward a New Normality: Trends of Library Services during and post Covid-19 Pandemic”. Sesuai dengan bidang keilmuan yang ditopang oleh fakultas, pimpinan FAH berupaya untuk dapat menghadirkan suguhan seminar atau diskusi yang mencakup seluruh prodi yang ada. Mulai dari Sejarah, Sastra, dan Penerjemahan telah dikupas tuntas pada sesi sebelumnya. Nah, pada penghujung bulan suci ramadan ini, webinar FAH di tutup dengan diskusi tentang hubungan pandemik dengan layanan perpustakaan selama dan pasca wabah ini.

Tiga narasumber diundang untuk membahas topik tersebut, dua orang dari luar negeri yakni Prof. Roslina Bt. Othman, MLIS, Ph.D dari International Islamic Unviersity Malaysia dan Rohayati Paseng, MA seorang pustakawan dari University of Hawaii Honolulu AS, serta Dr. Ida Farida, MLIS dari FAH sendiri. Seminar dilaksanakan pada hari Rabu, 20 Mei 2020 dari pukul 13.00 – 15.00 WIB melalui aplikasi zoom meeting dan dipandu oleh Alfida, MLIS sebagai moderator.

Saiful Umam, Ph.D (Dekan FAH)

Sebelum acara dimulai Saiful Umam selaku Dekan FAH memberi sambutan dan menyebut bahwa, “Covid-19 saat ini seolah menjadi hal yang biasa bagi kita, berpengaruh terhadap berbagai bidang termasuk layanan perpustakaan yang ditutup dan mengalihkan pelayanan menjadi online dengan digital web atau jenis pelayanan lain. Layanan seperti apa saat ini dan pasca pandemic akan berada pada situasi normalitas baru kita harus belajar dan mengantisipasi perubahan tersebut.” Selain itu kegiatan kali ini tercatat oleh panitia bahwa jumlah pendaftar untuk webinar series#4 mencapai 1100 lebih, namun kapasitas room untuk bisa bergabung hanya 300 orang dan sisanya diarahkan untuk join via youtube streaming di channel FAH UIN Jakarta.

Saat ini dalam keadaan pandemic covid-19 situasi kehidupan berubah drastis akan muncul kebiasaan baru tataran kehidupan yang berbeda dari sebelumnya dan bisa dipastikan wabah ini belum akan hilang dalam waktu dekat. Dalam hal pelayanan perpustakan pun juga mengalami nasib yang sama. Baik di Indonesia, Malaysia dan Hawaii saat wabah ini mulai melanda, pelayanan perpustakaan juga dialihkan menjadi online melalui website atau situs dengan memberikan free access/open access untuk mendowload artikel, buku, serta referensi lain dengan kata lain menjadi digital library. Bila biasanya perpustakaan menjadi tempat yang wajib dikunjungi bagi para pelajar, mahasiswa, guru, dosen, atau civitas akademika lain dan khalayak umum sekarang kita kehilangan akses untuk kunjungan tersebut. Memang tak semua orang datang ke perpus hanya sekedar untuk membaca buku atau mencari informasi, sebagian orang tentu merindukan suasana berkumpul untuk sekedar berdiskusi, merefresh pikiran dan lain sebagainya.

Prof. Roslina Bt. Othman, MLIS, Ph.D

Covid-19 mempengaruhi sikap pemustaka. Saat ini hampir diseluruh perpustakaan menyediakan layanan online, mempromosikan e-book, majalah, koran, artikel, jurnal gratis yang bisa diunduh oleh siapapun, kapanpun dan dimanapun. Lalu untuk kegiatan sebagian perpustakaan juga melakukan inovasi dengan melaksanakan webinar, workshop dan diskusi online menggunakan aplikasi virtual. Masuk dalam pembahasan Kita ke perpustakaan itu bukan hanya untuk mencari sumber informasi terkadang kita hanya ingin berdiskusi dan lain sebagainya. “Situasi normal sebelum ini orang-orang datang ke perpustakaan ingin menikmati suasana tenang tidak diganggu, dan itu normal ya sebelum ini. Ketika covid ini melanda kita lakukan pembatasan sosial, cek suhu, gunakan hand sanitizer dan masker. Mungkin kita tidak terbiasa namun SOP tersebut kita harus buat making friendly.” tutur Prof. Roslina.

Rohayati Paseng, MA

Reading is a recreation itu penting sekali, saya juga begitu kadang saya keluar dari kantor cari sudut di library saya sendiri supaya saya bisa istirahat 15 menit dan melihat buku. itu tidak akan hilang tidak semuanya akan berubah menjadi digital itu tergantung jenis librarynya juga ya.” tambah Rohayati Kondisi pelayanan digital library memang tidak membuat semua orang nyaman. terlebih bagi orang-orang berumur atau generasi lama yang terbiasa membaca secara utuh buku dalam bentuk print. Itu menjadi tantangan bagi para pemustakan dan pustawakan di seluruh dunia. “Yaa memang tidak bisa dipaksakan, karena kita sekarang banyak keterbatasan. PR bagi para pustakawan harus bisa memberikan information literacy. adalah untuk Ada buku-buku tersendiri tidak dapat didigitalisasi, pirntnya masih harus tetap disimpan.” tutup Ida Farida

Dr. Ida Farida, MLIS

Apapun normalitas baru yang akan muncul setelah covid itu pasti tidak akan sama, baik di Indonesia, Malaysia, Hawaii dan belahan dunia lain akan berbeda. Akan tetapi yang paling penting bagi kita semua adalah saling berbagi. Kita semua harus dapat melalui semua ini dengan perasaan terbuka, mencoba bersahabat dengan Covid-19 yang akan mempengaruhi sikap masyarakat dalam berbagai lingkup kehidupan. Normalitas baru pada pelayanan perpustakaan pun mau tidak mau kita harus dapat menyesuaikan. Selalu saling berbagi pengetahuan, dan sharing bersama karena dengan itu kita akan mendapatkan banyak hal ketimbang kita menyimpannya sendiri.

Reportase: AY