Evan Giri, salah satu alumni Prodi Sejarah dan Peradaban Islam, Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta berhasil menjalankan usahanya melalui media sosial dan platform online yang berkembang di Indonesia. Dengan memanfaatkan perkembangan teknologi digital berbasis online, Evan dapat memulai usaha dan menjalankan usahanya dengan modal 0 rupiah. “Saya menemukan sistem dropship, yang artinya kita bisa jualan tanpa harus menyetok barang terlebih dahulu. Saat itu saya memang menjualkan barang orang. Dengan cara dropship bisa dibilang 0 rupiah, karena saya tidak mengeluarkan modal rupiah untuk stok barang tapi saya tetap bisa berjalan.” katanya saat dihubungi melalui WhatsApp, Selasa (31/05/2022).

Mantan Ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ), Prodi Sejarah dan Peradaban Islam, Fakultas Adab dan Humaniora tersebut hingga kini mampu menghasilkan omset berkisar 200-250 juta per bulan. “Saat ini omset per bulan lumayan untuk saya. Kalau hanya dari marketplace itu di angka 200-250jt per bulan. Karena memang margin penjualannya cukup besar, hpp penjualannya juga. Jadi untuk omset segitu keuntungannya ya tidak terlalu besarlah,” ia bercerita melalui pesan suara.

Usahanya yang bergerak dalam bidang fashion tersebut telah berjalan selama 3 tahun. Dengar target pasar kaum millennial berusia 15-35 tahun, Evan berhasil menjalankan usahanya yang berfokus pada sepatu dan sneakers yang berasal dari brand lokal dalam negeri. “Untuk produk yang saya jual dari awal itu masih sama, itu di sepatu dan sneakers anak muda. peminatnya sekitar 15-35 tahun,” ucapnya.

“Progresnya cukup signifikan. Dari tahun pertama sampai tahun ke 2, sampai jalan di tahun ke 3 ini ya cukup signifikan. Selalu mengalami peningkatan penjualan atau keuntungan. Marginnya cukup signifikan dari keuntungan itu sendiri. Semakin bertambah tahun semakin berkembang. Kalau di tahun pertama itu kita baru mengambil keuntungan sekitar segitu kemudian di tahun kedua dan ketiga itu mengalami peningkatan keuntungan,” ia menambahkan.

Proses perjalanan usahanya yang saat ini terasa manis tentu melalui lika-liku perjalanan yang panjang, terlebih ia memulainya sendiri dan tanpa sokongan dana serta pengalaman dalam bidang kewirausahaan sebelumnya. “Dari awal saya melakukannya sendiri dan tidak ada partner. Karena dari awal saya terjun usaha ini benar-benar sendiri. Saya melakukan foto produk sendiri, membuat konten di market place dan Instagram itu sendiri. Kemudian manajemen barang sendiri, bahkan di bidang marketing dan branding sendiri,” Evan menyampaikan.

Dengan semangat dan kemauan belajar yang tinggi, usahanya yang dimulai dari tahap dropship kini sudah berada pada tahap distributor kecil. “Saya mengobrol sana sini bersama teman-teman yang sudah mulai lebih dulu, kemudian saya juga mencari informasi melalui berbagai artikel dan juga melihat YouTube tentang e-commerce itu sendiri. Karena memang tidak ada pengetahuan bidang di e-commerce itu sendiri, maka saya harus lebih effort mencari tau sendiri kemudian harus mencari orang-orang yang sudah berjualan lama untuk sharing pengalaman”, ia menjelaskan. “Saya sudah berada di tahap distributor kecil. Saya jadi dropshiper sampai bulan ke 6 tahun pertama kemudian naik tingkat jadi reseller. Saya berani mengambil keputusan untuk stok barang sendiri. Karena memang permintaan saat itu semakin meningkat jadi agak sedikit kelelahan dan harus menyetok barang,” tambahnya.

Dalam mengelola usahanya yang telah berjalan sejak tahun 2019 tersebut kini Evan telah dibantu oleh 3 orang rekan kerjanya. Masing-masing memiliki tugas dan tanggung jawab yang berbeda dan meringankan tugasnya. “Kurang lebih satu setengah tahun berjalan, pada tahun kedua ketika saya mulai menjadi distributor kecil dan saat itu memang sudah kewalahan, saya harus mencari rekan kerja. Waktu itu ada konsultan keuangan kemudian operator Gudang 2 orang,” tuturnya.

Pria yang kini berusia 24 tahun tersebut memberikan motivasi kepada adik-adik mahasiswa Fakultas Adab dan Humaniora yang memiliki minat dan cita menjadi pengusaha millennials. “Kita sebagai mahasiswa FAH yang memang tidak ada sama sekali basic di situ gak menutup kemungkinan kalau kita bisa belajar. Toh sekarang banyak wadah yang memfasilitasi itu, seperti workshop kewirausahaan, seminar kewirausahaan baik yang berbayar ataupun yang gratis melalui YouTube ataupun Google dan sebagainya,” ia berpesan. Terakhir, alumni lulusan tahun 2022 tersebut berpesan. “Jangan pantang menyerah. Sabar dan Konsisten itu kuncinya. Mulai sambil belajar, jalan sambil belajar. Jualan ya jualan saja sembari jalan, sembari belajar. Karena itu adalah porses,” pungkasnya.***

Kontributor: Rizka Sentia

Editor: AY