FAH News – Diskursus ilmu pengetahuan mengalami pasang surut sejak awal ilmu pengetahuan mulai dikodifikasi. Begitu juga manuskrip, sebagai warisan leluhur yang menjadi identitas peradaban manusia di masa silam mengalami hal serupa. Program Studi Bahasa dan Sastra Arab (BSA) FAH UIN Jakarta menanggapi isu ini dengan mengadakan kuliah umum pada Senin (24/10/2022). Kuliah umum bertemakan “Ilmu dan Manuskrip dalam Sejarah Islam” berlangsung di Ruang Teater Prof. Bustomi Abdul Ghani lantai 5 Gedung FAH UIN Jakarta. Kegiatan ini dihadiri mulai dari kalangan mahasiswa hingga para dosen. Ruang teater tersebut terlihat dari dalam penuh sesak, bahkan banyak yang tidak mendapat tempat duduk. Antusiasme dari civitas akademika BSA UIN Jakarta menyambut kuliah umum ini sangat baik, karena berhasil mendatangkan seorang pakar dari luar negeri. Narasumber kuliah umum ini adalah Dr. Ghazwan Kanbar, Peneliti Asosiasi DFG, Proyek Qalamos, Berlin, Jerman. Ia hadir di Indonesia atas mediasi Prof. Oman Fathurrahman, Guru Besar FAH UIN Jakarta, sekaligus Profesor Filologi Islam satu-satunya di Indonesia.

Suasana Ruang Teater Bustami Abdul Ghani dipenuhi para audiens

Pada awal penyampaian materi, Ghazwan menjelaskan landasan teori dalam mengkaji manuskrip dengan surat al-Alaq ayat 1-5. Dirinya menjelaskan bahwa tugas awal manusia di muka bumi secara syariat adalah membaca. Pria asal Jerman ini menjelaskan lini masa perkembangan ilmu pengetahuan secara diakronis sesuai sejarah Islam. Menurut paparannya, masa Khulafa al-Rasyidin adalah masa kodifikasi beberapa ilmu pengetahuan dan syi’ir (puisi), serta pengumpulan mushaf al-Qur’an. Kemudian, masa berganti menjadi kepemimpinan dinasti-dinasti Islam. Ghazwan menyebutkan peran beberapa dinasti Islam, seperti Dinasti Umayah dan Dinasti Abasiyah. Dia menyampaikan bahwa ilmu pengetahuan berkembang pesat pada masa Dinasti Abasiyah. “Pada masa Dinasti Abasiyah terjadi stabilisasi politik, serta partisipasi Arab dan selain Arab pada perkembangan ilmu pengetahuan,” jelas pria asal Berlin itu. Dr. Ghazwan Kanbar telah lama menyelami lautan manuskrip, khususnya manuskrip Timur yang ada di Perpustakaan Berlin. Beberapa fakta yang ditemukan olehnya, di antaranya, masyarakat Arab klasik sebelum menggunakan angka untuk memberi simbol, mereka menggunakan huruf. Bahkan, huruf yang digunakan adalah huruf India yang terbatas sampai angka sembilan.

Foto bersama narasumber dengan moderator, kaprodi-wakaprodi BSA dan Prof Oman Fathurrahman

Sementara itu, peneliti berdarah asli Suriah itu menunjukkan sampel manuskrip yang ada di Perpustakaan Berlin, Jerman kebanyakan berasal dari Suriah. Hal ini ia ketahui dari keterangan nama penulis yang diakhiri kata “al-Dimasyqiy” dan “al-Hamawiy”. “Banyak manuskrip di Perpustakaan Berlin, Jerman secara umum berasal dari Suriah, khususnya Damaskus dan Hamat, karena saya melihat nama penulis berakhiran al-Dimasyqiy dan al-Hamawiy,” pungkas dirinya saat menjelaskan di podium.

 

Kontributor: Abdurrahman Ad-Dakhil
Editor: AY