021-7401928 fah@uinjkt.ac.id

Jumat, 20 September 2019

Program Studi Magister Bahasa dan Sastra Arab bekerja sama dengan Program Studi Bahasa dan Sastra Arab Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta kembali mengadakan Kuliah Umum menyambut permulaan semester genap tahun ajar 2019-2020, dengan tema Sastra Arab Kontemporer dan Perkembangannya di Negara-Negara Arab, Kuliah Umum yang merupakan kegiatan perdana bagi segenap jajaran Dekanat FAH di bawah kepemimpinan Rektor, Prof. Dr. Hj. Amany Lubis, Lc., M.A. yang baru dilantik Januari tahun ini diadakan di Teater FAH.

Menghadirkan narasumber ahli dari Universitas Ayn Syams, Mesir, Dr. Wael Ali Sayyid, kuliah umum yang diperuntukkan untuk mahasiswa Program Studi Magister dan Program Studi Bahasa dan Sastra Arab ini di samping menjadi wadah diskusi tentang sejarah sastra, juga sebagai “salah satu metode melatih kecakapan mendengar mahasiswa” tutur Dr. Cahya Buana selaku moderator dalam kegiatan ini.

Dr. Cahya Buana memandu kuliah dengan memperkenalkan Profil singkat Dr. Wael Ali Sayyid, Dosen Universitas Ayn Syams, Mesir, yang juga pernah mengajar di Fakultas Dirasat Islam di tahun 2015, sebelum mempersilahkan Dr. Wael Ali Sayyid menyampaikan kuliah.

1. Foto Dr. Wael Ali Sayyid dan Dr. Cahya Buana

Dr. Wael Ali Sayyid menyampaikan pentingnya untuk mengetahui sastra arab pada masa jahiliyah sebelum membicarakan lebih lanjut sastra arab kontemporer, ia menjelaskan singkat perjalanan sastra di dunia arab masa jahiliyah dimulai dari 150 tahun sebelum Islam datang dan memberi warna pada karya-karya sastra yang ada hingga masa Kesultanan Utsmaniyah, beliau mejelaskan dengan rinci tokoh-tokoh sastra pada fase-fase tersebut lengkap dengan tahun lahir-wafat, asal mereka juga karyanya, bagaimana sastra arab sempat melemah di masa Kesultanan Utsmaniyah yang mengharuskan tanah arab berbicara dengan bahasa mereka. Wael mengungkapkan betapa beliau sangat ingin berbicara panjang lebar namun waktu tidak memungkinkan.

Wael melanjutkan perjalanan sastra arab di masa kontemporer, penjelasan semakin rinci, lengkap dengan bagaimana tokoh satu sama lain saling mempengaruhi. Kebangkitan sastra yang dimulai di tanah Mesir dan seterusnya. Menarik untuk disimak bagaimana “sastrawan kontemporer arab seperti Najib Kailani yang sangat masyhur memiliki sekitar empat puluh karya, dan ada satu karyanya yang berjudul Adzra’ Jakarta yang mungkin dilewatkan oleh mahasiswa di sini, padahal novel tersebut menceritakan tentang Indonesia, ini adalah salah satu bukti bagaiamana satrawan arab menaruh perhatian pada Indonesia” tutur Wael (Jumat, 20/09/19).

Mendengar penjelasan Wael tentang Najib Kailani dan karyanya Adzra’ Jakarta dan lainnya tentang satra arab kontemporer, Dr. Siti Amsariah, M.Ag yang merupakan Ketua Prodi Program Studi Bahasa dan Sastra Arab terlihat sangat antusias dan sekali-dua ikut menimpali narasumber. Tak hanya itu, kegiatan ini juga menarik perhatian Ketua Prodi Magister Bahasa dan Sastra Arab, Dr. M. Adib Misbachul Islam, M.Hum. yang mengajukan pertanyaan kepada Wael di sesi tanya jawab menjelang acara usai, selain dua mahasiswa Program Magister Bahasa dan Sastra Arab, Muhammad Habib Akbar dan Budi Septianggono. Juga turut hadir pada kegiatan ini Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Dr. Ida Farida, MLIS., Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Dr. Halid, Ma. Ag, Sekretaris Prodi Bahasa dan Sastra Arab, Minaturrokhim, M.A.

 

2. Foto bersama Dr. Wael Ali Sayyid

Di akhir kuliah, Wael kembali menyarankan bagi mahasiswa sudah seyogyanya belajar bahasa arab dan berfokus kepada karya-karya sastra islami seperti “Ali Ahmad Bakatsir seorang sastrawan arab kehaliran Indonesia yang sangat islami”. Selaras dengan sambutan Saiful Umam, M.A., Ph.D, Dekan Fakultas Adab dan Humaniora “mahasiswa harus belajar bahasa arab khususnya jurusan bahasa dan sastra arab” di awal acara.

(Muhammad Syamsur Rijal)