Ciputat, Tangsel – 04/03/21 – Prodi Magister Sejarah dan Kebudayaan Islam, bekerja sama dengan Prodi Sejarah dan Peradaban Islam FAH UIN Jakarta menyelenggarakan Kuliah Umum bersama Prof. Azyumardi Azra, CBE dalam rangka pembuka Perkuliahan Semester Genap Tahun Akademik 2020-2021.

Kuliah umum ini mengambil tema “Akar Historis Jaringan Islam Inklusif Asia Tenggara”, yang memiliki kaitan dengan mata kuliah Sejarah dan Kebudayaan Islam di Asia Tenggara di semester 6 untuk program S1 dan mata kuliah Historical Research Method untuk program Magister SKI semester 2. Prof. Amelia Fauzia, Ph.D bertindak sebagai host untuk memandu acara ini. Kuliah umum kali ini dilaksanakan via aplikasi Zoom Could Meeting, dan disiarkan juga melalui streaming youtube di channel Magister SKI dan diikuti oleh ratusan mahasiswa SPI – MSKI dan akademisi dari berbagai intansi, selain mahasiswa semester 6 S1 dan semester 2 S2. Kuliah umum ini terasa spesial karena bertepatan dengan momen ulang tahunnya Prof Azra.

Saiful Umam, Dekan FAH

Dalam mengawali kuliah umum ini, Saiful Umam, Ph.D selaku Dekan FAH UIN Jakarta sekaligus dosen pengampu mata kuliah Historical Research Method di magister memberikan sambutannya sekaligus memberikan dua pertanyaan kepada Prof Azra sebagai pemantik diskusi dalam kuliah umum ini, yaitu : “Terkait Sejarah dan Peradaban Islam Asia Tenggara, mengapa penyebutan istilah “South East Asia Islam” atau Islam Asia Tenggara digunakan secara umum untuk seluruh Asia Tenggara? Padahal mayoritas “South East Asia Islam” itu lebih banyak merujuk ke etnis Melayu? Dan Tekait Historical Research Method, tantangan bagi sejarawan dalam pengujian otentisitas sumber sejarah semakin kompleks, khususnya dalam menguji otentisitas sumber sejarah dalam bentuk digital. Bagaimana sejarawan melakukan sumber pengujian otentisitas atas sumber digital tersebut?” tuturnya.

Amelia Fauzia

Selain Saiful Umam, Amelia Fauzia sebagai host dan moderator pun memberikan pertanyaan untuk Prof Azra sebagi tambahan pemantik diskusi. Terkait fenomena inklusifitas muslim Asia Tenggara, khususnya di Indonesia, wanita yang pernah kuliah di Leiden University ini menanyakan, “seberapa kuat Muslim Indonesia yang moderat dan memiliki pemahaman inklusif di Indonesia? Dan juga seberapa besar jaringan Islam inklusif tersebut?”, ujarnya.

 

Dengan melihat fonomena jaringan-jaringan Islam yang inklusif, banyak pertanyaan tentang akar historis dari inklusifitas Islam di Asia Tenggara. Dan Prof Amel meminta Prof Azra menjelaskan bagaimana pengalaman Beliau dalam melakukan penelitiannya. Dengan diawali pertanyaan dari Dekan dan Moderator, Prof Azra pun memberikan banyak hal dalam Kuliah Umum ini. Diantara poin-poin yang disampaikan beliau antara lain :

  1. Dalam perkembangan ilmu sejarah, yang perlu dikembangkan sekarang secara metodologis adalah Total Historis, yang tidak hanya sejarah model lama yang terpaku pada sumber-sumber klasik seperti manuskrip dan arsip semata, tetapi harus bisa dikolaborasikan dengan ilmu-ilmu sosial lainnya, seperti antropologi, psikologi dan sosisologi, namun tetap berpijak pada data dan fakta sejarah. Dan inilah yang harus kita kembangkan. Prof Azra juga menyebutkan bahwa beliau beruntung mempelajari sejarah. Dengan mengikuti pendapat sejarawan dan Bapak Sosiologi Islam Ibnu Khaldun, sejarah merupakan induk dari semua ilmu. Karenanya dengan mempelajari Sejarah, kita sekaligus mempelajari ilmu-ilmu sosial lainnya. Dan kita setidaknya harus bisa menguasai teori-teori pokok dari berbagai disiplin ilmu sosial yang menjadi penunjang sejarah itu sendiri. Harapannya, dengan ditunjang ilmu-ilmu sosial ini, sejarah tidak hanya relevan untuk masa lalu, tetapi juga untuk masa depan (History for the Future). Oleh karena itu, sejarah sekarang baru bisa bermakna kalau dapat memberikan panduan untuk ke depan.
  2. Selama ini, sejarawan Indonesia banyak menulis dengan metode kualitatif, maka sudah seharusnya kita mulai mengembangkan sejarah kuantitatif. Ini bisa kita aplikasikan dalam melihat data-data media sosial yang memberikan komentar negatif ke Pak Jokowi. Dan melakukan penelitian secara kuantitatif pada data-data media sosial tersebut. Dalam kajian Islam, sudah ada pengembangan sejarah kuantitatif. Hal ini bisa diaplikasikan salah satunya dalam meneliti Tarojum (biografi singkat), namun sayang di Indonesia tidak ada tradisi ini. Dengan Tarojum ini kita bisa melakukan penelitian sejarah kuantitatif. Kemudian untuk sumber digital, perlu kita kembangkan penelitian forensik untuk mengecek keotentikan sumber digital sejarah. Karena itu, Historical Forensik sebagai metode untuk menguji otentisitas sumber bisa dikembangkan.
  3. Istilah Asia Tenggara berkembang menjelang dan setelah Perang Dunia II, bersumber dari Amerika atau Area Studies. Sebuah wilayah diberi nama dari perspektif berdirinya dan kepentingan Amerika. Oleh karena itu, nama Asia Tenggara itu merupakan nama yang relatif baru. Nama yang lama itu, wilayah kepulauan kita dikenal dengan al-Jazair al-Hind. Kemudian dalam literatur Cina, wilayah kita dikenal dengan “Nanghay”. Sedangkan dalam budaya Islam Melayu, wilayah Moslem South East Asia dikenal dengan sebutan “Jawi’ atau “Negeri di Bawah Angin”. Sedangkan di kita sendiri, lebih dikenal dengan istilah Kepulauan Nusantara. Namun pasca Perang Dunia II, dikenal dengan Malay World, namun nama ini kurang representatif bagi suku-suku selain melayu. Maka dikenalah istilah Malay-Indonesian World yang mencakup wilayah-wilayah negara yang mayoritas Muslim di Asia Tenggara.
  4. Mengenai kedatangan Islam di Asia Tenggara, Prof Azra lebih suka dengan Teori Mata Air (dari macam-macam sumber). Para ulama datang ke Indonesia dengan proses vernakulasi, dibahasakan dengan konteks lokal, serta adanya akomodasi dan akulturasi budaya lokal, sehingga dikenal dengan Islam yang melekat dengan budaya, juga mengembangkan Islam yang memiliki ortodoksi sendiri.
  5. Melalui konsolidasi Islam pada abad ke 16-17 dengan jaringan ulama yang melakukan ortodoksi Islam Asia Tenggara. Sehingga terbentuk tiga ortodoksi Islam Asia Tenggara, yang terdiri dari teologi/kalamnya adalah Asy’ariyah, kemudian fiqihnya adalah Madzhab Syafi’i, dan tasawufnya adalah tasawuf ‘amali yang dipopulerkan oleh Al Ghazali. Maka Prof Azra berteori kalau Great Tradition tidak hanya ada di Timur Tengah, tetapi Islam Nusantara juga memiliki Great Tradition yang berupa ortodoksi diatas. Dan di bawah Great Tradition terdapat pula Local Tradition yang berbeda di setiap wilayahnya.

Prof. Azyumardi Azra, Guru Besar Sejarah dan Kebudayaan Islam UIN Jakarta

Kemudian Prof Azra menjelaskan mengenai fenomena jaringan inklusif terjadi pada Muslim Asia Tenggara, khususnya di Indonesia disebabkan karena dua faktor :

  1. Kita hidup di dunia maritim, karena wilayah Asia Tenggara sebagian besar berada pada wilayah kepulauan. Kehidupan masyarakat maritim ini disatukan oleh perairan (laut dan sungai), yang menjadikan kehidupan bermasyarakatnya lebih cair. Sehingga orang Makassar bisa berlayar ke Aceh. Hal ini bisa menjadikan produksi intelektual yang dihasilkan di Aceh bisa ditemukan di Bone dalam waktu tidak terlalu lama.
  2. Karena wilayah Asia Tenggara ini merupakan wilayah kosmopolitan. Sejak dahulu wilayah Asia Tenggara menjadi salah satu jalur perdagangan terpenting sehingga masyarakatnya sudah hidup terbuka dengan dunia luar. Oleh karena itu sifat keterbukaan inilah menjadi sifat pokok Islam Nusantara.

Dalam closing statement-nya, Prof Azra menyebutkan bahwa Islam Indonesia yang moderat atau wasatiyah terlalu besar untuk dirubah, hal ini diidukung pula oleh ormas-ormas yang menjaga budaya Islam Indonesia. Walaupun ada kendala-kendala dan tantangan, tetapi itu tidak bisa menggagalkan atau meruntuhkan Islam Indonesia yang moderat atau wasatiyah ini.