021-7401928 fah@uinjkt.ac.id

TUHANKU, AKU KALAH adalah lukisan kaca pertama yang saya buat. Pelajarannya tidak diperoleh dari pelukis glass painting, melainkan dari seorang tukang batu. Uniknya, terjadi di tempat para pelukis, seniman hebat dan intelektual kampus berkumpul. Pada tg 12 September 1986, saya mengisi acara Sarasehan Kaligrafi yang diiringi pameran 30 pelukis Yogya atas prakarsa mahasiswa IMM Universitas Gadjah Mada, di Gd. Seni Sono Yogyakarta. Waktu itu merupakan tahun-tahun memanasnya “peperangan terbuka” antar khattat (kaligrafer) yang mempertahankan “kaligrafi murni tradisional” vs para pelukis yang memunculkan gaya baru yang disebut “kaligrafi lukis”. Anehnya, saya selalu membela pelukis.

Tanpa diduga, seorang peserta mengajukan pertanyaan: “Kalau lukisan Pak Sirojuddin yang mana ya?” — Whaduh! Saya tidak bisa menjawab dan kesulitan kasih alasan. Sebab, saya tidak ikut pameran, bahkan belum pernah melukis kaligrafi. Alhamdulillah. Tidak disangka, seorang wartawan Kedaulatan Rakyat Sangpurwaning tiba-tiba membantu menjawab: “Mas Didin itu pelukis buku. Hanya berteori.” — Whalaaaaah… ini lebih gawat. Tapi mas Pur tidak salah. Sebab, dia tahu kalau saya hanya menulis buku-buku dan artikel kaligrafi. Cuma menganalisa tapi tidak melukisnya.

Duuuuuuh. Di ruangan diskusi itu, sontak saya terpuruk, merasa jadi orang kalah yang gak bisa apa-apa. Merasa paling bodoh sedunia. Kenapa tidak bisa melukis kaligrafi, kerjanya cuma ngecap dimana-mana. Pikiran pun jadi kalut, mondar-mandir membayangkan “nasib orang bodoh” yang gak jelas juntrungannya. Bahkan suka bikin repot orang lain. Terngiang cerita Nabi Isa yang sanggup menyembuhkan orang sakit dan menghidupkan orang mati atas izin Allah. Tapi waktu ditanya “Ya Rasulullah, apakah obat untuk menyembuhkan penyakit kebodohan?” Nabi Isa malah menjawab: “Waaah, yang itu mah saya gak tau.” — Teringat lagi kepada Ibrahim bin Adhom. Ketika ditanya: “Ya Syeikh, beritahu saya tentang batas-batas kebodohan!”, eh tokoh sufi itu menjawab: “Duh, saya juga tidak tahu sampai di mana ya batas-batas kebodohan itu.” — Persis iklan rokok E Mild “Genius itu terbatas, Bodoh tak terbatas.” Orang bodoh susah diatur. Selalu kalah. Gampang ditipu. Seolah sayalah orang bodoh yang mengenaskan itu. Saya pun cari akal. Di ruang pameran itu ada lukisan kaligrafi kaca yang menarik perhatian saya. Pelukisnya Sutarmuji, kuli bangunan yang bertugas menata batu-bata untuk fondasi rumah. Sekolahnya hanya setingkat SD tapi pintar melukis di kaca secara otodidak. “Ji, ajarin saya melukis kaca ya,” pinta saya sambil mengundangnya ke hotel tempat saya nginap.

Sampai malam larut di penginapan. Tanpa alat peraga apa pun, Sutarmuji menjelaskan detail-detail teknik melukis kaca dan saya menyimaknya dengan serius. Dimulai dari peralatan yang harus disiapkan, yaitu kertas kalkir transparan untuk disain huruf, slotipe, pulpen rapido untuk garis kontur, cat minyak, kuas beberapa ukuran, baskom plastik, kaca setebal 2-3 mm, minyak tanah, dan roll tissue. Ini adalah perkakas standar lukisan kaca untuk obyek-obyek manusia dengan rupa-rupa kegiatannya, binatang buraq, macan, burung, dan kuda; kaligrafi huruf-huruf lepas, wafaq atau sekedar pemanis bidang lukisan, dan wayang untuk melambangkan tokoh wayang atau adegan cerita pewayangan. Terakhir, guruku mendemonstrasikan tahap-tahap melukis “in absensia“. Diawali dari pembuatan disain di kertas kalkir lalu menempelkannya secara terbalik di kaca. Dari seberang disain, cat digoreskan mengikuti huruf yang terbalik. Setelah kering, dilakukan peneraan warna latar dengan mencelupkan punggung kaca ke air di baskom yang sudah ditawuri cat warna-warni. Tunggu kering. Finishing touch-nya dengan menambahkan pembilasan back ground yang belum tertutup cat dengan cat yang berwarna opposite warna-warna sebelumnya. Selesai sudah sebuah “lukisan fiktif” dibuat, alhamdulillah. (“Terimakasih guruku. Sekarang aku dapat ilmu baru karena kemuliaanmu.”).

“TUHANKU, AKU KALAH” (25 x 35 cm, first oil painting on glass, 1986)

Sepulang ke rumah, dengan semangat menggebu, saya langsung melukis di kaca. Ini berarti setahun sebelum saya mulai melukis di kanvas. Temanya tentang do’a orang kalah yang terambil dari Hizib Nashor dan jeritan Nabi Nuh yang merasa terus-terusan dikalahkan oleh kaumnya dalam Al-quran Surat Al-Qomar ayat 10: ربّ إنّي مغلوبً فانتَصِر
“Tuhanku, sesungguhnya aku kalah. Maka tolonglah aku.” Lewat guruku yang ikhlas, Allah menolongku dari kekalahan dan kebodohan.

Oleh: (Didin Sirojuddin AR• Lemka)