Ciputat, 05 November 2021 – Universitas menjadi jenjang pendidikan tertinggi yang harus ditempuh untuk mencapai kapasitas intelektual yang formal. Sebagai pembuka kegiatan perkuliahan di awal tahun akademik, fakultas dalam hal ini sebagai bagian dari universitas mengadakan studium generale atau kuliah umum. Studium Generale yang diadakan Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada tahun akademik 2021/2022 ini dilaksanakan pada Jum’at, 05 November dengan mengusung tema “Warga Minoritas dalam Sejarah Kemanusiaan: Perspektif Ajaran Agama dan Negara-Bangsa”. Sebagai rentetan tradisi rutin kampus yang bergengsi, kali ini Fakultas Adab dan Humaniora mengundang narasumber yang ahli dalam bidang kajian seputar warga minoritas. Dalam sambutannya, Dekan Fakultas Adab dan Humaniora Saiful Umam, Ph. D. mengingatkan tentang kebebasan berekspresi tiap individu yang masuk dalam ruang diskusi di dalam kelas. Saiful juga menyayangkan kejadian yang menciderai nilai kebebasan itu dengan memviralkan salah seorang dosen di dunia maya, padahal diskusi berlangsung di dalam kelas. “Pernyatan-pernyataan yang ada di dalam kelas, sejauh itu di dalam kelas, maka dosen, mahasiswa itu dilindungi undang-undang, memiliki kebebasan,” tegas dekan.

Prof. Dr. Ahmad Najib Burhani, M.A yang menjadi narasumber berlatar belakang peneliti warga minoritas di Indonesia sekaligus sebagai Plt. Kepala Organisasi Riset Ilmu Pengetahuan Sosial dan Humaniora (IPSH), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Alasan lain fakultas mendatangkan narasumber dari BRIN adalah sebagai wujud kontribusi untuk mengimplementasikan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Dalam hal ini adalah penelitian di masyarakat. Dalam kuliah umum, narasumber membedah satu per satu problematika modern di masyarakat Indonesia dalam bidang sosial dan humaniora, terutama fokus utama adalah nasib warga minoritas di Indonesia. Sebagai pembuka diskusi, Najib mengenalkan posisi studi agama menjadi sesuatu yang penting untuk mengenal masyarakat, bahkan sampai tingkat mengelola bangsa Indonesia yang kokoh dan berdaya saing. Ilmu sosial dan humaniora digunakan sebagai alat untuk memahami karakteristik masyarakat. “Kita belajar tentang ilmu sosial dan humaniora itu berasal dari manusia itu sendiri, dan yang paling berkontribusi adalah manusia, sehingga ini menjadi tujuan utama penelitian ilmu sosial dan humaniora,” ujar Najib. Hal yang paling memilukan ketika sudah bersentuhan dengan minoritas-mayoritas adalah upaya diskriminasi. Upaya tersebut dinilai justru lebih memperburuk tingkat kondusifitas sosial masyarakat. Pasalnya, pihak yang merasa mendapat diskriminasi justru akan melakukan perlawanan lebih, atau bahkan lebih mendapat atensi serta dukungan, sehingga banyak yang membelanya karena mereka diperlakukan berbeda.

Minoritas adalah mereka yang masuk frame dan konsep berpikir masyarakat, serta nasib mereka dalam struktur di masyarakat. Secara akademik, minoritas adalah mereka yang secara objektif tidak mendapat posisi di masyarakat sosial. Menariknya, dirinya menjelaskan salah satu karakteristik minoritas adalah bukan dilihat dari statistik, karena bisa saja jumlahnya besar, namun biasanya mereka subordinat di dalam masyarakat.
Pada akhir sesi tanya jawab, dia memberikan solusi dari akar permasalahan status warga minoritas untuk membangun keharmonisan hidup bernegara adalah menegakkan demokrasi dan deliberasi di kehidupan sosial. “Makanya, perlu demokrasi, deliberasi (musyawarah, red), dan sebagainya agar kemudian sama-sama membangun, bukan saling menentang,” pungkas profesor LIPI tersebut.

Reportase: Abdurrahman Ad-Dakhil

Editor: AY