021-7401928 fah@uinjkt.ac.id

Ciputat – Setelah terbilang sukses menyelenggarakan seminar secara daring, Fakultas Adab dan Humaniora konsisten membuat acara serupa ditengah wabah pandemi Covid-19. Pada webinar minggu ini, International Webinar mengambil tema “Pandemic, Literature, and Language: Creativity and Sorrow”. Webinar dilaksanakan pada Kamis, 14 Mei 2020, dengan mengundang 3 orang narasumber, yaitu Dr. Raed Abdul Raheem (Departement of Arabic Language and Literature, An-Najah National University, Palestina), Dr. Hasnul Insani (Kaprodi Sastra Inggris), dan Dr. Darsita Suparno (Kaprodi Tarjamah).

Saiful Umam, selaku Dekan FAH membuka acara dengan menuturkan ucapan terima kasih kepada para narasumber terutama Raed dari Palestina. “Webinar kali ini terasa sangat spesial, karena kita menggunakan 3 bahasa sekaligus, yakni Indonesia, Arab dan Inggris. Dan ini juga merupakan international webinar. Saya kira siang ini akan menjadi pertemuan dan diskusi yang menarik, Pandemik sebagai sebuah fenomena berulang yang hadir dalam sejarah manusia. Keberadaannya direspon dengan beragam oleh manusia, salah satunya lewat bahasa dan sastra. Kita akan belajar dan melihat pengaruh pandemi terhadap kajian literatur dan bahasa.” jelasnya.

Dr. Raed Abdul Raheem (Departement of Arabic Language and Literature, An-Najah National University, Palestina)

Narasumber pertama, Dr. Raed menggunakan bahasa Arab dengan dipandu dan diterjemahkan oleh moderator, M. Husni Thamrin memaparkan tulisannya yang berjudul “Tho’un pada tahun 1348 Masehi dan pengaruhnya terhadap Peradaban dan Sastra”. Ia mengungkap bahwa ada beberapa bencana alam yang terjadi seperti banjir, gunung meletus, gempa bumi, dan bermacam penyakit-penyakit. Dari kejadian-kejadian tersebut munul banyak kitab yang ditulis berisi seputar kejadian dan berkah dari bencana yang menimpa (tulisan As Suyuthi), Ibnu Hajar Al Asqolani menulis buku tentang wabah, dan banyak cendikiawan muslim lain yang menulis dengan tema serupa. “Banyak buku-buku yang lahir dari bencana, segala macam penyakit muncul sudah sejak masa lampau. Dan bencana seperti yang sekarang ini sudah pernah terjadi, kasusnya sama memberikan banyak dampak, mulai dari ekonomi, sosial, politik dan lainnya.” ungkapnya dengan logat Arab yang faseh. Selain itu bagi seorang sastrawan kehadiran wabah ini juga mengundang mereka untuk memunculkan tulisan-tulisan syiir-syiir yang didominasi tentang keislaman.

Kemudian dilanjut oleh Dr. Darsita yang menyebut bahwa ternyata pandemik tak jarang justru malah melahirkan dan mendorong daya kreatifitas masyarakat dalam berbahasa. Belakangan banyak bermunculan berbagai ungkapan atau istilah yang di produksi untuk menggambarkan wabah dan merespon dari wabah tersebut.

Terakhir, Dr. Hasnul Insani menambahkan respon seperti yang diungkap Dr. Raed tak hanya terjadi di dunia Timur dan Islam saja. Di belahan dunia Barat pun juga menimbulkan reaksi yang sama yang dilakukan oleh para sastrawan. Misalnya novel La Peste, The Plague, Sampar yang ditulis oleh Albert Camus di tahun 1947. “Novel yang ditulis Camus ini ingin menarasikan bagaimana manusia di Oran al-Jazair merespon wabah sampar yang menimpa kehidupan mereka. Melalui alur dan tokohnya, si Camus melukiskan ketidakberdayaan individu manusia dalam menghadapi pandemik.” sebut alumni Exeter University, Inggris ini.

Diskusi dilanjut dengan berbagai respon dan tanya jawab yang berlangsung sangat menarik. Webinar kali ini pun turut memecahkan rekor dengan diikuti peserta lebih kurang sekitar 263 orang dari 600-an orang yang melakukan registrasi. Peserta pun terdiri dari beragam profesi dan kampus yang berbeda, mulai dari mahasiswa, dosen dan alumni turut berpartisipasi dalam seminar daring ini.