Seminar Nasional FAH UIN Jakarta Bahas Hermeneutika dan Interpretasi Sastra: Perkuat Kajian Kritis Humaniora
Seminar Nasional FAH UIN Jakarta Bahas Hermeneutika dan Interpretasi Sastra: Perkuat Kajian Kritis Humaniora

Tangerang Selatan, Berita FAH Online – Program Studi Magister Bahasa dan Sastra Arab, Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, menyelenggarakan Seminar Nasional bertajuk “Hermeneutika dan Interpretasi Sastra” pada Senin (15/6/2026). Kegiatan ini berlangsung pukul 08.00 WIB di Ruang Sidang Utama Lantai 2 Gedung FAH dan menjadi salah satu forum akademik penting dalam penguatan tradisi keilmuan humaniora kritis di lingkungan pascasarjana.

Seminar ini dihadiri oleh Dekan FAH UIN Jakarta, Dr. Ade Abdul Hak, M.Hum., Kepala Program Studi Magister Bahasa dan Sastra Arab, Dr. Adib Misbahul Islam, M.Hum., para dosen fakultas, serta mahasiswa jenjang magister dan doktoral. Kegiatan ilmiah tersebut dipandu oleh Dr. Ahmad Hifni, M.A. selaku moderator dengan menghadirkan dua narasumber utama, yakni Dr. Haryatmoko, S.J. dari Universitas Sanata Dharma dan Prof. Dr. Sukron Kamil dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Hermeneutika sebagai Pendekatan Kritis dalam Kajian Teks

Dalam sambutannya, pihak fakultas menekankan bahwa seminar ini merupakan respons atas meningkatnya minat mahasiswa dalam menggunakan pendekatan hermeneutika dalam penelitian akademik, khususnya dalam kajian sastra, teks keagamaan, dan budaya. Hermeneutika dipandang tidak hanya sebagai metode interpretasi, tetapi juga sebagai cara berpikir kritis dalam membaca realitas sosial yang tersimpan dalam teks.

Pada sesi pertama, Dr. Haryatmoko, S.J. memaparkan secara mendalam konsep hermeneutika kritis yang dikembangkan oleh Paul Ricoeur, serta relevansinya dengan pendekatan post-strukturalisme. Ia menegaskan bahwa teks tidak pernah hadir dalam ruang kosong, melainkan selalu berada dalam jejaring relasi kuasa, sejarah, dan struktur sosial yang membentuknya.

Menurutnya, proses pembacaan teks harus dilakukan secara kritis melalui analisis naratif untuk membongkar berbagai ideologi yang tersembunyi di dalamnya.

“Setiap teks membawa jejak kekuasaan dan kepentingan. Karena itu, membaca teks berarti juga membaca struktur sosial yang melingkupinya,” demikian penekanan yang disampaikan dalam pemaparannya.

Ia juga mencontohkan bagaimana pendekatan hermeneutika kritis dapat digunakan untuk mengungkap wacana feodalisme dan patriarki yang sering kali tidak tampak secara eksplisit dalam teks sastra maupun teks sosial.

Integrasi Hermeneutika dengan Tradisi Keilmuan Islam

Sesi berikutnya diisi oleh Prof. Dr. Sukron Kamil yang mengaitkan konsep hermeneutika dengan tradisi intelektual Islam. Ia menjelaskan bahwa dalam khazanah keilmuan Islam, prinsip interpretasi teks telah lama dikenal melalui disiplin seperti ushul fiqh dan tafsir isyari.

Ia menekankan bahwa pembacaan teks dalam tradisi Islam tidak berhenti pada makna literal, tetapi juga membuka ruang bagi makna yang lebih dalam dan kontekstual.

“Dalam membaca teks, kita tidak hanya mencari makna pertama, tetapi juga makna kedua bahkan ketiga yang tersembunyi di baliknya,” jelasnya.

Lebih lanjut, Prof. Sukron Kamil mengutip pemikiran filosofis Ibnu Arabi yang menekankan pentingnya pembaruan makna dalam proses interpretasi teks.

“Kalau kita menafsir itu yang dicari apa, tajdidul makna wa tajdidul khalaq, yaitu melakukan pembaharuan makna dan melakukan penciptaan ulang atas makna,” ungkapnya.

Pemikiran ini menunjukkan adanya titik temu antara tradisi hermeneutika modern dan khazanah intelektual Islam klasik, yang sama-sama menekankan pentingnya dinamika makna dalam proses pemahaman teks.

Relevansi Hermeneutika bagi Penelitian Pascasarjana

Diskusi yang berlangsung interaktif tersebut memberikan ruang refleksi bagi para peserta seminar, khususnya mahasiswa pascasarjana dan doktoral, dalam mengembangkan pendekatan penelitian mereka. Hermeneutika dipandang sebagai metode yang relevan untuk menjembatani jarak antara teks masa lalu dengan konteks kekinian pembaca.

Para peserta juga menilai bahwa pendekatan ini memungkinkan peneliti untuk tidak hanya bersifat deskriptif, tetapi juga kritis dalam membaca fenomena sosial, budaya, dan keagamaan.

Dengan demikian, hermeneutika tidak hanya berfungsi sebagai alat analisis teks, tetapi juga sebagai pendekatan epistemologis dalam memahami realitas yang lebih luas.

Dorongan Penguatan Tradisi Keilmuan Kritis

Melalui penyelenggaraan seminar nasional ini, FAH UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menegaskan komitmennya dalam memperkuat tradisi keilmuan humaniora yang kritis, reflektif, dan kontekstual. Kegiatan ini diharapkan mampu melahirkan generasi peneliti yang tidak hanya mampu membaca teks secara literal, tetapi juga memahami kompleksitas makna yang terkandung di dalamnya.

Ke depan, fakultas berharap kegiatan serupa dapat terus dikembangkan sebagai ruang dialog akademik lintas disiplin, khususnya dalam menghubungkan tradisi keilmuan Islam dengan teori-teori kontemporer dalam ilmu humaniora.

Penulis: Andika Pratama/ Kasih Nur/ Deny 

Dokumentasi: 

Semnas MBSA

Semnas MBSA 2

Semnas MBSA 1

 

Tag :