Productive Procrastination: Produktivitas Semu dalam Menunda
Dalam menyelesaikan pekerjaan, manusia tak pernah terlepas dari kecenderungan untuk menunda. Kata “menunda” berasal dari kata dasar “tunda” yang dalam KBBI Daring bermakna menghentikan dan akan dilangsungkan lain kali (lain waktu); mengundurkan waktu pelaksanaan; menangguhkan. Jadi dapat disimpulkan bahwa menunda merupakan kegiatan mengundurkan atau menangguhkan pekerjaan. Dengan kata lain, pekerjaan yang seharusnya diselesaikan segera dapat ditunda pelaksanaannya karena berbagai alasan.
Sikap atau kebiasaan menunda ini dapat mengganggu produktivitas yang tengah dijalani. Mengapa demikian? sebab dengan menunda, waktu yang dibutuhkan dalam menyelesaikan pekerjaan menjadi lebih panjang. Dalam konteks produktivitas, terdapat istilah lain yang menarik untuk dibahas yaitu “productive procrastination”.
Productive procrastination menarik untuk dibahas lebih lanjut sebab menggabungkan dua konsep yang bertolak belakang: “produktif” dan “prokrastinasi”. Namun kini kedua istilah tersebut bergabung menjadi satu yang dapat menimbulkan paradoks dalam dunia produktivitas. Pertanyaannya, apakah productive procrastination benar-benar bermanfaat atau hanya sebuah produktivitas semu belaka?
Ada banyak pendapat mengenai apa itu productive procrastination atau penundaan produktif. Jika disimpulkan dari sumber-sumber yang ada, productive procrastination merujuk pada sebuah tindakan menunda pekerjaan dengan melakukan pekerjaan lain yang tidak mendesak. Meskipun menunda, namun ketika seseorang sedang melakukan penundaan produktif ini ia tetap menyelesaikan tugas-tugas yang lain di luar tugas utama.
Sebagai contoh, seorang mahasiswa memiliki tugas menulis esai dengan tema kebudayaan di Indonesia. Alih-alih mengerjakan tugas tersebut, ia justru menghabiskan waktu untuk membersihkan kamar, mencuci pakaian, atau membantu keluarganya di rumah. Meskipun semua pekerjaan yang ia lakukan bersifat produktif sebab menyelesaikan beberapa pekerjaan, namun hal tersebut tidak menyelesaikan tugas utamanya, yaitu menulis esai.
Penundaan produktif ini sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Tak memandang apakah tugas yang dimiliki adalah tugas besar atau tugas kecil. Selama seseorang menunda pekerjaan dengan menyelesaikan pekerjaan lainnya, maka dapat dikatakan bahwa ia sedang mengalami productive procrastination.
Terdapat perbedaan mendasar antara menunda secara umum dengan penundaan produktif. Penundaan secara umum hanya menunda pekerjaan tanpa melakukan apapun, sedangkan penundaan produktif menyelesaikan pekerjaan lain di luar pekerjaan utama. Perbedaan signifikannya terletak pada apakah seseorang sekedar menunda atau justru mengalihkan perhatiannya dengan mengerjakan tugas lainnya.
Productive procrastination memiliki dampak positif dan juga dampak negatif. Dari sisi positif, sikap ini dapat meningkatkan kreativitas dengan mengeksplorasi ide-ide baru di saat seseorang memberikan jeda sejenak dengan mengerjakan tugas lainnya. Dengan jeda tersebut, seseorang dapat menemukan solusi-solusi lain yang tidak terpikirkan sebelumnya. Lalu, dengan menyelesaikan tugas-tugas lain terlebih dahulu, seseorang dapat lebih fokus mengerjakan tugas utama tanpa adanya gangguan dari pekerjaan lain.
Namun di sisi lain, productive procrastination juga memiliki sisi negatif. Pertama, seseorang yang melakukan penundaan produktif sedang mengalihkan perhatiannya yang membuat tugas utama yang tidak terselesaikan dengan baik. Semua usaha yang dilakukan dalam mengerjakan tugas lain tidak dapat menyelesaikan tugas utama. Kedua, energi yang seharusnya digunakan dengan optimal untuk tugas utama menjadi berkurang karena sudah terkuras untuk tugas-tugas lain yang tidak begitu penting. Akibatnya, seseorang dapat merasa kelelahan sebelum menyelesaikan tugas utama yang lebih krusial.
Setelah mengetahui apa itu productive procrastination dan bagaimana dampaknya, kini perlu juga diketahui dan dipahami bagaimana strategi yang dapat digunakan agar tidak terjebak dalam productive procrastination. Langkah pertama adalah menyadari bahwa sedang berada pada fase ini. Kesadaran merupakan hal utama yang harus dilakukan agar dapat mengambil tindakan selanjutnya. Kedua, yaitu membuat prioritas pada hari tersebut dengan metode Eisenhower Matrix, dimana daftar tugas akan dibagi menjadi empat kategori: penting dan mendesak, penting tetapi tidak mendesak, tidak penting tetapi mendesak, serta tidak penting dan tidak mendesak. Dengan mengetahui prioritas yang ada, seseorang dapat lebih fokus pada tugas utama yang benar-benar penting. Ketiga, mengerjakan dalam waktu spesifik dengan menerapkan time blocking. Keempat, memecah tugas utama menjadi beberapa bagian untuk menghindari stres berlebih. Sebagai contoh, dalam menulis esai, mahasiswa dapat memulai dengan membuat kerangka tulisan, lalu mencari referensi, kemudian mulai menulis bagian pendahuluan, dan seterusnya. Dengan memecahkan tugas menjadi potongan-potongan kecil dapat membuat mahasiswa tersebut merasa telah menyelesaikan beberapa hal namun tetap berada pada tujuan yang sama, yaitu menyelesaikan tugas esai.
Dari pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa meskipun productive procrastination merupakan hal yang produktif, namun pada akhirnya penundaan tetap terjadi karena tugas utama tidak segera diselesaikan. Meskipun demikian, jika dapat dikelola dengan baik, penundaan produktif ini dapat memberikan manfaat bagi individu tanpa harus kehilangan produktivitas sesungguhnya.
Oleh karena itu, penting bagi setiap individu untuk mengetahui kapan productive procrastination dapat menjadi bermanfaat dan kapan hal ini justru menjadi hambatan dalam mencapai tujuan utama.
Penulis: Alfi Khusnul Fauziah
Sumber Foto: Pexels