Membangun Integritas Pribadi Muslim
Membangun Integritas Pribadi Muslim

Tangerang Selatan, Berita FAH Online - Memasuki momen penuh keberkahan di bulan suci ini, upaya untuk terus memperbaiki diri dan memperkuat karakter sebagai seorang mukmin menjadi hal yang sangat krusial untuk diperhatikan bersama. Selasa, (03/03/2026), Prof. Dr. Didin Saepudin, M.A. menyampaikan bahwa membangun integritas dan kredibilitas seseorang jauh lebih sulit dan rumit dibandingkan sekadar membentuk kecerdasan intelektual atau IQ. Meskipun orang tua dapat mengusahakan anak menjadi cerdas dengan menyekolahkan mereka di lembaga pendidikan favorit yang mahal, hal itu tidak menjadi jaminan bahwa anak tersebut akan memiliki integritas atau akhlak yang baik setelah lulus. Fenomena saat ini menunjukkan bahwa meskipun pembangunan masjid, majelis taklim, hingga kajian Islam di berbagai tempat dan media sosial berkembang pesat, hal tersebut belum tentu berbanding lurus dengan peningkatan akhlak bangsa. Membentuk integritas dan akhlakul karimah memerlukan sinergi serta kerja sama yang kuat antara berbagai entitas, mulai dari lingkungan sekolah, pendidikan di dalam keluarga, hingga lingkungan pergaulan anak, karena membangun karakter tidak bisa dilakukan sendirian.

Misi utama diutusnya Nabi Muhammad SAW ke dunia adalah untuk menyempurnakan akhlak mulia, sebagaimana ditegaskan dalam hadis bahwa kesempurnaan Islam seseorang tercermin dari kemampuannya menghindari hal-hal yang tidak produktif serta memberikan rasa selamat bagi orang lain melalui lisan dan tangannya. Seorang muslim sejati adalah mereka yang keberadaannya tidak mengganggu atau melukai hati sesama, baik melalui perilaku maupun ucapan. Hal ini menjadi sangat signifikan karena tidak ada sesuatu pun yang lebih memberatkan timbangan seorang mukmin pada hari kiamat kelak selain kemuliaan akhlaknya. Walaupun seseorang memiliki yang kuat dan ibadah yang disiplin, puncak dari semua itu adalah perilaku atau akhlakul karimah yang nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Integritas pribadi muslim harus diwujudkan melalui sifat-sifat mulia seperti kejujuran dan amanah yang tetap dipertahankan meskipun ada kesempatan untuk melakukan kecurangan saat tidak diawasi. Selain itu, seorang muslim dituntut untuk memiliki kesabaran, sifat pemaaf, tawadu, serta qanaah dalam mengelola harta agar terhindar dari pemborosan. Membentuk akhlak memerlukan proses pembiasaan yang konsisten hingga menjadi sebuah kebudayaan dan nilai yang melekat dalam diri. Oleh karena itu, di bulan Ramadan yang penuh barakah ini, setiap pribadi muslim diharapkan dapat menempa diri menjadi individu yang memiliki integritas mulia, sehingga kelak mendapatkan kebaikan di yaumil akhir melalui husnul khuluk atau bagusnya akhlak yang telah dijalani.

Penulis: Nadhira Sonja Isinbayeva/ Kasih Nur/ Deny Saputra

Tag :