Keumalahayati: Sosok di Balik Tumbangnya Cornelis de Houtman di Geladak Kapal
Penulis: Ayu Rahmatillah
Mahasiswa Program Studi Sejarah dan Peradaban Islam Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Tanah Aceh adalah tanah Subur yang melahirkan banyak sekali pejuang- pejuang Nusantara, banyak Pejuang gugur, lahir lebih banyak lagi pejuang yang pantang menyerah. Perjuangan atas Kemerdekaa tanahnya kompak dilakukan oleh masyarakat aceh dari berbagai golongan. tua, muda, Laki laki, Perempuan, semuanya saling bahu membahu menyokong perlawanan terhadap invasi bangsa asing.
Karena letaknya yang strategis, Pelabuhan di Aceh seringkali dipenuhi oleh para pedagang asing dari luar, Karena hal tersebut juga Aceh menarik banyak sekali pihak asing yang ingin merebut wilayah Aceh. Tahun 1596,Kapal Seorang Veteran Belanda masuk ke Aceh, tujuan awalnya simpel, hanya ingin mencari jalur perdagangan rempah rempah, ia adalah Cornelis de Houtman, Namun misinya ditolak para masyarakat Aceh, dan menyebabkan bentrokan antara penduduk dan pasukan Houtman.
Pada zaman itu,hidup juga satu dari sekian banyaknya pejuang perempuan bernama Keumalahayti, ia lahir dari keluarga yang semuanya adalah seorang pejuang, ia juga membentuk armada perang yang isinya adalah para perempuan janda yang ditinggal mati suaminya karena perang juga, Armada perang tersebut dinamakan Inong Balee. mereka dilatih untuk Memegang rencong, berperang dan mengatur strategi, sama seperti Para pejuang Laki-laki pada umumnya.
Kisah heroik Keumalahayati mencapai puncaknya pada tahun 1599, ketika kapal dagang Belanda pimpinan Cornelis de Houtman mencoba memaksakan kehendak dan mengacaukan pelabuhan Aceh, Keumalahayati, dengan gagah memimpin armada janda perang Inong Balee, berdiri di garis depan perlawanan. Momen klimaks terjadi di geladak kapal, di mana duel satu lawan satu yang brutal tak terhindarkan. Keumalahayati berhasil menumbangkan Cornelis de Houtman, hal ini menjadi sebuah insiden traumatis bagi Eropa.
Kekuatan Keumalahayati tidak muncul dalam semalam, ia adalah produk dari sistem militer dan keluarga bangsawan Aceh yang kuat. Lahir dengan nama Keumala dari keluarga yang memiliki tradisi laksamana laut, ayah dan kakeknya adalah panglima angkatan laut,ia menempuh pendidikan di Akademi Militer Ma'had Baitul Maqdis.
Peristiwa yang paling membentuknya adalah gugurnya suami dan ribuan prajurit Aceh dalam pertempuran melawan Portugis. Rasa duka inilah yang menjadi asal usul terbentuknya armada tempur Inong Balee. Keberadaan sosok pemimpin perempuan yang memegang kendali atas armada tempur dan protokol istana ini tercatat dalam Catatan lama Aceh seperti Bustanus Salatin, yang mencatat struktur kekuasaan dan angkatan laut Kesultanan. Catatan istana ini memverifikasi bahwa Keumalahayati bukan sekadar figur simbolis, melainkan perwira yang dihormati dan memegang jabatan strategis di bawah Sultan Alauddin Riayat Syah al-Mukammil, meletakkan dasar bagi karirnya yang puncaknya adalah menantang dan mengalahkan ekspedisi awal Belanda.
Kemenangan Keumalahayati bukan hanya urusan lokal antara Aceh dan sekelompok kecil pedagang Belanda dampaknya terasa luas di seluruh jalur pelayaran Eropa ke Timur. Setelah kekalahan memalukan di tangan sang Laksamana perempuan, ekspedisi Belanda berikutnya harus mengubah total pendekatan mereka dari aksi kekerasaan menjadi diplomasi. Kesultanan Aceh sendiri, yang memiliki hubungan erat dengan kekuatan global Islam seperti Kesultanan Utsmaniyah di Turki, mempertahankan kedudukannya sebagai pemain utama maritim.
Strategi pertahanan laut Aceh yang militan dan keberadaan armada perempuan yang unik ini telah dianalisis oleh sejarawan menggunakan arsip korespondensi Kesultanan Utsmaniyah-Aceh yang menunjukkan adanya pertukaran teknologi militer dan informasi intelijen. Hal ini membuktikan bahwa duel di geladak kapal tahun 1599 adalah puncak dari perencanaan geopolitik yang matang, bukan sekadar respons spontan. Keputusan Keumalahayati untuk melawan dan menang telah mengirimkan pesan tegas kepada dunia: Aceh adalah kekuatan maritim yang harus dihormati, di mana kepemimpinan tidak dibatasi oleh gender.
Warisan Keumalahayati jauh melampaui medan perang dan meja perundingan abad ke-17. Kisahnya adalah bukti nyata bahwa perempuan telah menjadi aktor utama dalam penentuan nasib bangsa, bukan sekadar pelengkap narasi. Keberaniannya, strategi militernya yang cerdas, dan ketegasan diplomatiknya telah menempatkannya sejajar dengan tokoh-tokoh besar dunia. Pengakuan modern terhadap jasa-jasanya terlihat jelas pada artefak simbolis masa kini, seperti penamaan Kapal Republik Indonesia dengan namanya, KRI Malahayati. Selain itu, peninggalan struktural perlawanannya diabadikan pula melalui sisa-sisa Benteng Inong Balee di Krueng Raya, Aceh, yang berfungsi sebagai saksi bisu dan sumber primer fisik atas pertahanan maritim yang ia pimpin. Keumalahayati adalah pengingat abadi—sebuah blueprint kepemimpinan yang berani mendobrak batas gender dan menunjukkan bahwa duka (kehilangan suami) dapat diubah menjadi sumpah untuk menjaga kedaulatan. Pada akhirnya, kisah Laksamana perempuan ini menantang kita untuk melihat sejarah secara lebih jujur dan merayakan kekuatan perempuan di setiap lini perjuangan.
Referensi
Chamidah, Nur, dan Hikmah Wifaqi. 2025. “Laksamana Malahayati: Inspirasi
Kepemimpinan Wanita dalam Sejarah Nasional Indonesia.” Maliki Interdisciplinary Journal 3(5): 446-454.
Feriany, I. (2018). Keumalahayati: Laksamana wanita pertama di dunia. CV Beta Aksara.
Yani, E. N. P. D., Wahyuni, A., dan Purnomo, B. 2022. “Menganalisis Karakter Laksamana Malahayati dalam Novel Sang Perempuan Keumala.” Krinok:
Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sejarah 1(1): 33-39.
Sumber Gambar: Ilustrasi Kemalahayati https://www.posbagus.com/tokoh/biografi-laksamana-malahayati/
