Ittikaf: Untuk Menggapai Kemulian
Tangerang Selatan, Berita FAH Online- Bulan ramadhan adalah bulan yang dilimpahkan keberkahan didalamnya, kemulian contohnya dibulan ini banyak sekali yang bisa kita lakukan untuk menggapai kemulian salah satunya melalui I’ttikaf. Pada Minggu (28/02/2026) Program Mutiara Ramadhan (JILID 2) yang dilaksanakan oleh Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dengan bapak Mugy Nugraha, M.S.I sebagai pembicara membawakan tema “Menggapai Kemulian Dengan I’ttikaf“ mengisi di sela-sela menunggu berbuka puasa di bulan ramadhan pada tahun ini.
Di tema kali ini beliau menyampaikan Rasulullah SAW sangat menganjurkan kepada kita untuk memperbanyak I’ttikaf di masjid, beliau menerangkan “syariat I’ttikaf tidak hanya disyariatkan kepada nabi Muhammad SAW dan kaumnya saja tetapi telah disyariatkan kepada umat-umat sebelum nabi Muhammad SAW, ini dikisahkan didalam Al-qur’an yang isinya Allah SWT memerintahkan kepada nabi Ibrahim dan nabi Ismail untuk membersihkan rumahnya/Kakbah untuk orang-orang yang tawwaf, ber-I’ttikaf dan Sholat dari ayat ini bisa disimpulkan bahwasannya I’ttikaf sudah disyariatkan kepada umat-umat terdahulu, di ayat lain dijelaskan teknisnya tidak boleh mencampuri istri dalam ber-I’ttikaf ” ujar beliau. Dari dua ayat ini ada dua hal yang perlu kita perhatikan dalam be-I’ttikaf pertama, tidak boleh mencampuri istri ketika ber-I’ttikaf, kedua, harus dilakukan di masjid itu adalah ketentuan Allah SWT yang tidak boleh dilanggar dalam menjalankannya.
Beliau juga menerangkan I’ttikaf secara bahasa dengan mengutip ucapan Syarif Al-Jurjani seorang Penulis Dan Teolog Tradisional, I’ttikaf adalah berdiam dan menahan diri, sedangkan menurut istilah Al-Jurjani mengungkapkan I’ttikaf adalah mengosongkan hati kita dari urusan-urusan dunia dan menyerahkan ke dzat yang maha kuasa. Beliau menekankan dari pengertian tersebut lahirlah hikmah-hikmah I’ttikaf antara lain menjauhkan hati seorang hamba dari urusan dunia, dengan Ber-I’ttikaf seorang hamba hatinya merasa tenang karena dia menjauhkan urusan dunia dari hatinya dan dia akan lebih fokus khusyuk beribadah kepada Allah SWT. dengan ber-I’ttikaf seorang hamba dilatih untuk tidak selalu tergantung terhadap urusan-urusan dunia bahkan dia belajar tidak terbelenggu terhadap urusan-urusan duniawi yang terkadang kita lupa dengan tujuan hidup yang sesungguhnya.
Hikmah lain dari I’ttikaf adalah melatih kesabaran dan pengendalian diri serta meningkatkan kualitas ibadah kita dimana semua ibadah kita harus didasari oleh prinsip I’ttikaf yaitu mengosongkan diri kita dari urusan-urusan duniawi. Hikmah terakhir adalah pembersihan jiwa, yaitu proses pembersihan jiwa dari kotoran, dosa serta penyakit hati. I’ttikaf adalah ibadah yang syarat dengan hikmah dan I’ttikaf sebagai bentuk latihan spiritual untuk membersihkan hati kita dari kecintaan yang berlebihan terhadap duniawi dengan mengosongkan hati dari kesibukan dunia dan bersabar dalam berdzikir kepada Allah SWT tentu kita akan siap menerima hidayah Allah SWT.
Sebelum mengakhiri kajiannya beliau memberikan kesimpulan “ I’ttikaf bukan hanya sekedar berdiam di masjid melainkan mengosongkan hati kita dari urusan dunia untuk sejenak fokus kepada urusan akhirat, meskipun tidak semua dari kita mampu untuk melakukan I’ttikaf 10 Hari penuh di bulan Ramadhan tetapi kita semua perlu mengambil hikmah dari I’ttikaf tadi berusaha menjaga hawa nafsu kita dan juga berusaha memaafkan orang lain semoga Allah memberikan Taufik kepada kita untuk menjalankan ibadah I’ttikaf dan meraih keberkahan di bulan Ramadhan” Ujar bapak Mugy Nugraha, M.S.I dalam mengakhiri kajiannya.
Penulis: Ahmad Daffa Rasyidi/ Kasih Nur/ Deny Saputra
