Alumnus MSKI Menghasilkan Karya Buku Monumental: Kolaborasi Dosen dan Mahasiswa
Alumnus MSKI Menghasilkan Karya Buku Monumental: Kolaborasi Dosen dan Mahasiswa

Tangerang Selatan, Berita FAH Online - Pada hari Selasa, 4 Februari 2026, berlangsung pertemuan akademik yang hangat dan bermakna di lingkungan Program Studi Magister Sejarah dan Kebudayaan Islam (MSKI), Fakultas Adab dan Humaniora, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, berkenaan dengan penerbitan buku berjudul Perkoempoelan Islam: Solidaritas Sosial Kaum Pinggiran Indonesia di Belanda (Depok: Rajawali Pers, 2025). Buku ini merupakan hasil pengembangan penelitian tesis mahasiswa MSKI, Iin Isnaini, yang disusun melalui kolaborasi ilmiah dengan Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Sudarnoto Abdul Hakim, M.A.

Buku tersebut mengangkat kisah sejarah sosial kaum pekerja Indonesia di Belanda pada paruh pertama abad ke-20, khususnya mereka yang berada di sektor domestik dan layanan seperti juru masak, pelayan restoran, dan pembantu rumah tangga yang selama ini luput dari sorotan utama historiografi. Melalui pendekatan sejarah sosial, buku ini menempatkan Perkoempoelan Islam sebagai ruang penting bagi terbentuknya solidaritas, identitas kolektif, serta praktik agensi kaum pinggiran dalam menghadapi keterasingan, diskriminasi, dan keterbatasan struktural di negeri kolonial.

Secara substantif, buku ini menunjukkan bahwa Perkoempoelan Islam tidak semata berfungsi sebagai organisasi keagamaan, melainkan juga sebagai wadah sosial, kultural, dan bahkan politik bagi para pekerja Indonesia di Belanda. Di dalamnya dibahas upaya-upaya konkret organisasi ini dalam memperjuangkan hak sosial-keagamaan, membangun jaringan solidaritas, serta melakukan negosiasi dengan otoritas lokal Belanda. Dengan demikian, kaum pekerja yang kerap diposisikan sebagai kelompok pasif justru tampil sebagai subjek sejarah yang aktif dan reflektif.

Dari sisi dampak sosial, buku ini memberikan kontribusi penting bagi pemahaman sejarah bangsa Indonesia dalam konteks diaspora dan migrasi. Kisah perjuangan sunyi para pekerja ini memperkaya narasi tentang pembentukan kesadaran kebangsaan, solidaritas lintas kelas, serta relasi antara agama dan gerakan sosial di luar wilayah Hindia Belanda. Temuan-temuan dalam buku ini juga relevan untuk membaca ulang sejarah kolonial dari perspektif bawah (history from below) yang lebih inklusif dan berkeadilan.

Dalam pertemuan tersebut, Iin Isnaini berdiskusi langsung dengan Dr. Mauidlotun Nisa’, M.Hum., selaku Sekretaris Program Studi MSKI, serta Prof. Dr. Jajat Burhanuddin, Ketua Program Studi MSKI. Diskusi berlangsung cair namun substantif, membahas posisi buku ini dalam khazanah keilmuan sejarah Islam Indonesia, potensi pengembangannya ke ranah studi diaspora dan migrasi global, serta urgensinya bagi mahasiswa dan peneliti lintas disiplin.

Dr. Mauidlotun Nisa’ menekankan pentingnya buku ini sebagai rujukan akademik yang membuka ruang kajian baru tentang sejarah kaum pinggiran Indonesia di luar negeri, sekaligus menjadi contoh konkret bagaimana riset tesis dapat bertransformasi menjadi karya buku yang bernilai ilmiah dan publik. Sementara itu, Prof. Jajat Burhanuddin menyoroti kekuatan buku ini dalam mengaitkan sejarah sosial, agama, dan nasionalisme, yang relevan tidak hanya bagi sejarawan, tetapi juga bagi kajian sosiologi, antropologi, dan studi hubungan internasional.

Pertemuan ini menegaskan bahwa penerbitan buku Perkoempoelan Islam bukan sekadar capaian individual penulis, melainkan juga bagian dari upaya kolektif institusi akademik dalam mendorong produksi pengetahuan yang kritis, kontekstual, dan berpihak pada kelompok-kelompok yang selama ini terpinggirkan dalam sejarah resmi. Buku ini diharapkan dapat menjadi bacaan penting bagi dosen, mahasiswa, peneliti, serta publik luas yang ingin memahami sejarah Indonesia dari sudut pandang yang lebih manusiawi.

Dengan terbitnya buku ini, Program Studi Magister Sejarah dan Kebudayaan Islam kembali menegaskan komitmennya dalam mengembangkan tradisi akademik yang produktif dan relevan dengan isu-isu kebangsaan serta global. Diskusi hari ini menjadi penanda awal bagi dialog-dialog lanjutan tentang sejarah diaspora, solidaritas sosial, dan peran agama dalam membentuk daya tahan komunitas di tengah tekanan struktur kolonial.

Penulis : Isna

Tag :